Memblokir Jalan Tol Sebagai Bentuk Protes?

Gambar diambil dari : http://www.republika.co.id

Hari Jumat tanggal 27 Januari terjadi sebuah aksi demonstrasi yang dilakukan oleh para buruh. Demonstrasi merupakan aksi yang biasa terjadi dan merupakan salah satu media komunikasi yang sah, asalkan dilakukan sesuai dengan aturan. Aturan-aturannya mulai dari izin demonstrasi, ketertiban dalam melakukan demonstrasi, tidak mengganggu fasilitas publik, tidak anarkis, dan lain sebagainya. Namun demonstrasi kali ini nampaknya sangat merugikan masyarakat umum karena mereka melakukan demonstrasi di jalan tol Jakarta Bandung dan melumpuhkan lalu lintas di sana. Sudah jelas hal tersebut melanggar aturan karena mengganggu fasilitas umum.

Teman saya kebetulan ada yang terjebak macet, ia mengatakan bahwa perjalanan dari Bandung ke Depok mencapai 12 jam. Bayangkan kerugian apa saja yang terjadi akibat lumpuhnya jalan tol selama 12 jam tersebut. Bisa saja ada ambulan yang membawa pasien kritis di dalam mobilnya, bisa saja ada seorang ibu yang sudah hamil tua dan harus segera ke rumah sakit, bisa saja ada seseorang yang terburu-buru untuk pulang karena ada anggota keluarganya yang sakit, bisa saja ada seorang Ayah yang ingin menyaksikan kelahiran anaknya, bisa saja ada seorang pegawai yang harus mengantar dokumen penting yang mana jika tidak disampaikan tepat waktu akan menyebabkan kerugian ratusan juta dan membuat dirinya dipecat, dan masih banyak kemungkinan kerugian yang dialami oleh ratusan mobil yang terhenti di jalan tol.

Saya rasa para buruh punya hak untuk menyampaikan pendapatnya dan rasa protesnya akibat ia merasa ditindas oleh manajemennya. Tapi jangan sampai cara demonstrasi yang dilakukan dapat menindas hak orang lain dan merugikan orang banyak. Apakah dibenarkan kita berbuat jahat kepada orang lain karena kita dijahati orang lain? Bahkan para pengguna jalan tersebut tidak memiliki salah apa-apa terhadap para buruh. Jangan jadikan orang-orang yang tidak bersalah, tidak ada sangkut pautnya dengan kasus tersebut yang korban dari demonstrasi. Tidak ada gunanya membalas keburukan dengan keburukan lain. Cobalah cari cara untuk menyampaikan aspirasi tanpa perlu mengganggu kepentingan umum. Gunakanlah metode yang lebih kreatif, inovatif, dan aman. Tentu dengan metode yang baik, masyarakat akan merespon positif juga, malah mungkin turut serta membantu memperjuangkan hak para buruh. Tapi juga menggunakan metode yang merugikan masyarakat, yang ada hanyalah imej yang buruk dan hilangnya rasa simpati kepada para demonstran. Yuk, mari demo dengan aman dan tertib.


Pelajaran Penting dari Tragedi Tugu Tani

gambar diambil dari : http://updateinfo.yoedi.net

Belum lama ini terjadi sebuah peristiwa yang sangat menyedihkan. Sebuah mobil menabrak belasan orang hingga 9 orang meninggal dunia sedangkan sisanya luka parah. Saksi mata mengatakan bahwa mobil melaju dengan kecepatan hingga 100 km/jam di jalan raya, sempat bergerak zig-zag, hingga akhirnya menabrak sebuah halte yang sedang ramai akan pengunjung. Usut diusut, ternyata sang pengemudi tidak memiliki SIM dan tidak dapat menunjukan STNK mobil yang ternyata adalah mobil pinjaman. Kemudian sang pengemudi mengemudi dalam keadaan tidak sadar karena ia di bawah pengaruh minuman keras dan juga narkoba. Sontak fakta-fakta tersebut melahirkan kemurkaan dan emosi dari masyarakat. Tidak hanya mengutuk pelaku, masyarakat pun juga mencaci keluarga sang pelaku yang sesungguhnya tidak bersalah.

Bisa kita lihat, efek dari tindakan tersebut bisa menghilangkan 9 nyawa, melukai banyak orang, dihukum secara pidana dan perdata, mempermalukan dan merusak citra keluarga, dan masih banyak lainnya. Masa depan sang pelaku sudah pasti tidak akan mudah, belum lagi dengan beban psikologis yang ia derita saat ini. Saya tidak bisa bayangkan betapa shocknya dia ketika akhirnya sadar dari pengaruh obat2 tersebut (karena ketika turun dari mobil setelah menabrak, keliatannya dia masih berada dalam pengaruh zat berbahaya soalnya tidak terlihat kesan panik atau sedih sama sekali), ia langsung mengalami depresi yang sangat mendalam. Belum lagi kutukan serta cacian dari keluarga korban dan masyarakat yang marah.

Sesungguhnya kejadian tersebut bisa juga menimpa kita jika kita tidak hati2. Kita bisa saja menjadi the next killer, kehilangan masa depan, dan menjadi aib keluarga jika tidak menjalani hidup sesuai dengan aturan, tidak menggunakan akal sehat, dan hanya mementingkan kesenangan yang fana. Oleh karena itu, pelajaran berharga dari peristiwa Tragedi Tugu Tani adalah, Selalu ekstra hati-hati dan fokus (jangan multitasking) ketika mengemudi, jauhi minum-minuman keras yang bisa menurunkan akal sehat kita, dan yang paling penting adalah jangan dekat-dekat dengan Narkoba, Say No to Narkoba. Sekali pakai Narkoba, hidup kita akan hancur dan sulit sekali untuk bisa membenahi kehidupan kita.

Terakhir saya ingin mengucapkan turut berbelasungkawa kepada para korban, terutama keluarga korban yang telah ditinggalkan. Semoga diberi kekuatan, keikhlasan, dan keridhoan untuk melepaskan kepergian yang dicinta dan diberi kebesaran hati untuk bisa memaafkan sang pelaku, biarkan si pelaku dihukum oleh pengadilan dunia dan akhirat.


[1CDperMonth Januari] Tribute to Kla Project

Tribute to Kla Project

Melanjutkan program satu CD musisi Indonesia perbulan sebagai bentuk apresiasi terhadap karya anak bangsa, Januari ini saya membeli CD tribute to Kla Project. Saya tertarik membeli CD ini karena saya mendengar satu lagu yang dibawakan oleh kerispatih pada album ini yang berjudul menjemput impian di radio. Awalnya saya cari di toko CD biasa, tapi kok tidak ada yang jual. Malah nemunya secara gak sengaja di Indomart. Rupanya dia menggunakan Indomart sebagai distributornya. Cara ini mirip dengan metode distribusi album agnes monica, SMASH, dkk yang dijual di KFC. Ya sudah, akhirnya saya beli CD tersebut di Indomart.

Di dalam album tersebut, ada banyak nama-nama besar seperti RAN, Ungu, Maliq and the essential, dll yang mengisi album tersebut. Trak pertama sudah langsung dibawakan oleh RAN, seperti biasa sih, musiknya RAN banget, tapi berhubung saya gak begitu tahu lagi-lagunya KLA, saya agak kurang bisa menikmati album ini. Apalagi ada band2 tekno yang merombak habis2an aransemen lagunya menjadi sangat elektrik. Klo di mobil saya memasang CD ini, saya hanya mendengarkan bagian Kerispatih, RAN, dan Ungu. Sisanya agak kurang bisa mengikuti nostalgia yang diharapkan dari album ini. So, penilaian saya pribadi buat album ini adalah 5,5/10. Penilaian ini bukan karena albumnya jelek, tapi karena saya secara pribadi dan subjektif tidak bisa menikmati lagu-lagu aransemen KLA project tersebut (kecuali yang diaransemen ulang oleh kerispatih).


Wisata di Singapore Hari 3 : Happy 5th Anniversary

Singapore Flyer Dinner

Hari ketiga di Singapore, Sabtu 14 Januari 2012 sekaligus bertepatan dengan hari jadi kami yang ke lima. Bisa dilihat di blog ini, setiap tahun pasti saya ngerayain anniversary. Gak usah di link yah, cari aja sendiri :p. Yap, jadi hari ini kami memiliki destinasi masing-masing. Ansel dan Dea, Imam, Ery, lalu saya dan Dea sudah punya jalurnya sendiri-sendiri. Sebetulnya kami semua berencana berangkat dari hostel pukul 09.00, tapi nyatanya karena kecapean abis dari USS, jam 09.00 itu baru benar-benar bangun semuanya. Akhirnya jadwal jadi agak ngaret buat semua. Selesai sarapan pagi, saya merasa agak gak enak badan. Badan saya anget dan agak pusing kepalanya, alhasil yang lain berangkat duluan sementara saya tidur sejenak di hostel. Baru jam 12.00 saya sudah merasa agak enakan dan jam 13.00 abis solat saya dan dea berangkat.

Seluncuran Es di Snow City

Tujuan pertama kami adalah singapore science center dan snow city di daerah barat singapore. Perjalanan menggunakan MRT memakan waktu sekitar 30-40 menit (cukup jauh). Sesampainya di stasiun juga harus jalan beberapa menit. Sampai di lokasi, kami makan siang dulu di mcD yang lagi diskon jam makan siang, semua paket hanya 4,5 dolar :D . Setelah kenyang makan, kami main ke snow city. Di sana adalah replika daerah salju dengan suhu -9 derajat celcius. Tentu kami dipinjami jaket dan sepatu boots. Oh ya, harus pake celana panjang yah klo ke sana. Di dalam kita gak boleh foto2, harus pake fotografer dari sananya klo mau foto2. tapi metodenya lucu, di sana ada banyak fotografer, terus klo kita difoto, kita dikasih karcis bernomor. Nanti kita tinggal keluar dan masukin nomor di karcis itu buat ngeliat foto mana aja yg udah diambil dan milih yg mana yg mau dicetak. tapi sekali cetak foto cukup mahal, sekitar 20 dolar klo satu foto, 16 dolar klo dua foto. di dalam snow city selain ada salju, ada patung2 salju, ada juga wahana seluncur es. Jadi dikasih ban untuk duduk, lalu kita naik tangga, dan meluncur dari ketinggian. Seru banget, berasa naik perosotan tapi super cepet. Abis puas dari snow city, kami pun beralih ke science center yang terletak satu komplek.

Science Center Singapore

Science center itu ibarat PP IPTEK Taman Mini kalau di Indonesia, bedanya teknologinya lebih uptodate dan lebih canggih. Beberapa bisa kita lihat di PP IPTEK tapi beberapa tidak. Asyiknya ke sana kalo bawa anak kecil sih, soalnya dia pasti bakal seneng banget nyobain wahana-wahana yang ada sambil belajar. Kita yang udah gede aja asyik sendiri nyobain wahana-wahana yang ada di sana, apalagi anak-anak. hehehe… di Science center kami gak lama-lama soalnya udah cukup capek main di snow city dan masih ada sisa-sisa keletihan hari jumat yang belum pulih. Akhirnya kami langsung menuju ke lokasi makan malam kami yaitu di singapore flyer.

Singapore Flyer

Kami sampai di Singapore flyer sekitar pukul setengah 6, sedangkan penerbangan kami pukul 7.30 malam. Jadi ada waktu sejam untuk duduk-duduk dulu, istirahat sebentar sebelum harus masuk ruang tunggu. Ruang tunggunya exclusive dan mahal banget loh, pelayanannya juga premium banget. Pas giliran kita naik flyer, kita masuk lewat jalur premium/VIP gitu deh, jadi ngelewatin antrian yang lain (berasa spesial). Ya haruslah, udah bayar segitu masa gak dilayani dengan baik. Pas masuk ke kabin flyer, gile, keren banget. Di sana udah ditata meja dan kursi dan lilin, serta ada pelayannya satu. satu flyer muat 6 pasang, tapi di situ cuma ada dua orang selain kami, jadi rasanya private banget tempatnya. Pas masuk, flyer langsung bergerak dan naik ke atas. Pasangan sebelah mulai foto-foto, kami juga gak mau kalah, mbak2nya kita panggil juga untuk fotoin kita. Puas foto-foto, makanan mulai keluar. Makanan pembukanya adalah makanan khas china (karena temanya emang lunar) namanya adalah ”Invitation of Spring” 迎新春 -Lou Hei for 2, ada wortel, lobak, salmon, dan potongan2 makanan lain yang saya juga gak tahu itu apa.

Invitation of Spring

Terus dilanjutin dengan soup ayam, namanya”Smooth Sailing”一帆风顺 Double boiled chicken broth with winter melon, yahhh, buat lidah asia sih pas-pas aja. hehehe… gak kayak yang tadi pas pembuka, agak aneh, ada yang pedes, ada yang mint, tapi ada juga sih bagian yang enaknya. Abis soup, datenglah masakan utamanya. Menunya adalah ikan, namanya ”Prosperity Feasting”年年有余 -Wild snapper with sautéed seasonal greens, cream sauce and aglio olio pasta.  Ini enaaakkkk bangeeettt… ikannya lembut, pastanya enak, bumbunya enak, semua2nya enak. worth it banget lah, makanan enak dan view yang enak :D . Terus diakhiri dengan makanan penutup yang super juga, namanya ”Sweet Ending” 甜甜蜜蜜 - Handmade cream puffs with fruit salsa and strawberry dressing, Coffee or Tea + Fortune Cookies. Wah lengkap banget rasanya lidah dijamu dengan berbagai jenis makanan enak dan menarik :D . Selesai naik flyer jam 08.30 malem, eh kok pas keluar lagi ada reherseal parade besar-besaran full costume di arena F1 deket flyer. Alhasil kita ngeliatin parade super apik itu dulu deh baru pulang ke hostel.

Prosperity Feasting

Tentunya sampe hostel kita udah tepar dan capek banget. Besoknya jadwalnya agak santai sih, soalnya emang cuma pengen belanja-belanja aja ngabisin dollar dollar, hehehe… Oke deh, lanjutin cerita besok lagi.


Wisata di Singapore Hari 2 : Universal Studios dan Sentosa Island

Sarapan gratis di Hostel

Melanjutkan cerita wisata di Singapore kemarin, hari kedua (Jumat, 13 Januari 2012) dimulai dengan solat subuh yang salah. Biasa di Indonesia kita solat jam 4.30, jadilah pagi itu saya solat jam segitu. Lalu saya bangunkan Dea untuk solat juga. Setelah selesai solat, Dea membangunkan Imam untuk solat. Terus imam bilang, waktu subuh di Singapore jam 6an. -__-” ya sudah kalau begitu, saya tidur lagi dan menunggu jam 6 untuk bangun. Jam 7 kami ke ruang makan untuk menikmati sarapan gratis. Di sediakan teh, kopi, milk tea, roti, selai, telor, dan apel. Ada juga microwave, kulkas, pemanggang roti, dan lain-lain. Berhubung kami akan ke Universal Studios of Singapore (USS), kami membungkus roti2 tersebut sebagai bekal :p. Kami ke USS menggunakan jasa travel dari hostel. Yang harusnya bayarnya 68 dolar dan transport 1$ menggunakan MRT serta ada biaya masuk pulau sentosa 3 dolar, dengan jasa travel di hostel, kami hanya membayar 66 dolar dan diantar dari hostel hingga USS gratis.

Bola Universal Studios

Jam 9.30 kami akan dijemput travel, jam 9.25 pemilik hostel memberitahukan kalau mobilnya sudah datang tapi kami masih ada yang belum siap. Agak gak enak juga soalnya di Singapore budaya ontime sangat tinggi sedangkan kami ngaret sekitar 10-15 menit. Kami diantar menggunakan mobil canggih yang pintunya bisa kebuka sendiri, ada LCD screennya gede, dan ada sound systemnya. Sampai di USS, kami langsung berfoto di depan bola USS yang legendaris itu :D . Kemudian kami masuk dan melihat secara langsung USS. Ada berbagai dunia, mulai dari zona Hollywood, zona madagascar, zona Far far away kingdon, zona the lost world, zona waterworld, zona ancient egypt, zona sci-fi, dan zona new york.

Botol Minum T-Rex USS

Wahana-wahana yang ada di sana semuuaaannyaaa niat banget. Gak ada yang setengah-setengah. Ada wahana madagascar yang mirip istana boneka, tapi isinya super rapih, tertata, dan canggih. Wahana Shrek 4D juga dibuat dengan cerita dan efek yang luar biasa. Saya paling kagum dengan wahana transformer the ride, itu luar biasa sekali efek2nya. Lalu yang membuat saya senang di sana adalah metode antrian dan pelayanan terhadap turis/pengunjung yang sangat baik. Antrian di sana tertib gak kayak di Indonesia. Klo di kita, ngantri wahana ampe dempet2an gitu, di sana kita diatur sehingga rapih dan tetap nyaman. Lalu yang menarik adalah selebritis tiap zona. Jadi beberapa saat sekali, ada bintang2 di wahana tersebut yang muncul dan bisa diajak foto bareng. Kami selalu beruntung karena tiap berada di suatu lokasi, di sana sedang diadakan ajang foto bersama. Foto bersama ini pun berlangsung tertib. Jadi tidak hanya ada karakter (misalkan Shrek) saja yang keluar, ada dua orang pegawai USS yang akan bertugas memfotokan kita dan menjaga antrian. Jadi semuanya serba rapih, disiplin, dan nyaman. Yang paling berkesan adalah bisa foto bersama bumblebee versi mobil dan versi robotnya :D . Toko souvenir di tiap zona pun berbeda, saya naksir sebuah botol minuman keren yang ada kepala dinosaurusnya. Akhirnya ketika mau pulang, saya sempatkan ke zona the lost world untuk membelinya.

Atraksi Song of The Sea

Setelah puas bermain ke USS, kami mencoba melihat2 lokasi permainan lain di pulau sentosa. Jadi pulau sentosa itu memang dibuat sebagai pulau untuk bermain. Ada banyaaakkk sekali wahana di sana. Sentosa juga menyediakan transportasi gratis. Jadi dari area USS di terminal waterfront, kami menggunakan kereta listrik menuju terminal the beach untuk menonton atraksi Song of the sea dan bermain ludge. Sebelum itu, kami menuju tempat solat yang disediakan hanya ada satu di the beach saja sepulau sentosa untuk kami sholat. Setelah sholat, kami menuju mcD untuk makan malam (walaupun hari belum gelap, sekitar jam 19.00, tapi kami sudah lapar). Setelah makan, kami langsung menuju atraksi song of the sea. Atraksi song of the sea menurut saya luar biasa hebat. Dengan teknologi laser, api, air mancur, dan tata suara yang baik, selama satu jam kurang kami mata kami dihibur dengan cahaya2 dan lagu2 yang indah. Sangat worth it 10 dolar untuk tiket song of the sea ini. Berikutnya kami bermain atraksi skyride dan ludge. Jadi skyride itu adalah kursi yang melayang di rel di udara seperti yang suka ada di arena ski. Kami naik skyride menuju dataran yang lebih tinggi. Di dataran yang tinggi, kami naik mobil-mobilan dari kayu yang ada rodanya (ludge) dimana kami meluncur di jalanan yang menurun menggunakan mobil tersebut. Satu paket skyride dan ludge hanya habis 12 dolar. Masih banyak sekali wahana-wahana menarik lainnya, tapi karena waktu sudah malam dan badan sudah capek, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke hostel dan beristirahat.

Cerita berikutnya adalah hari ketiga di Singapore yang khusus saya gunakan untuk merayakan 5th anniversary.


Wisata di Singapore Hari 1 : Menjejakan Kaki di Singapore

Singapore Merlion

Semenjak kunjungan pertama ke Singapore untuk keperluan bisnis di bulan Juli lalu, saya merencanakan untuk kembali lagi ke Singapore dengan tujuan berlibur. Akhirnya saya bersama lima orang teman merencanakan perjalanan kami sendiri. Dari bulan Agustus, kami sudah memesan tiket pesawat. Awalnya kami mengincar tiket yang 199rb, tapi karena kami ketinggalan promo, akhirnya dapat yang 239rb. Dengan segala biaya lainnya, total tiket pp 700rb-an. Lalu untuk penginapan, kami mencari hostel murah untuk berenam. Akhirnya setelah googling2, kami dapat hostel seharga 200rb/malam yang berada di tengah Singapore, fasilitas yang sangat baik, dan mendapatkan makan pagi gratis. Sebelum perjalanan, kami sudah merencanakan rute perjalanan dan perkiraan biaya yang akan dikeluarkan. Total pengeluaran untuk tiket, penginapan, transport, dll selama di Singapore diperkirakan sekitar 3-4 juta rupiah untuk lima hari.

Menunggu Pesawat di Airport

Kamis, 12 Januari 2012 menjadi hari keberangkatan kami. Ketika berangkat, kami yang seharusnya berenam terpaksa harus berangkat berlima karena salah satu teman kami, Ery, terpaksa harus tinggal di Bandung untuk melakukan Seminar Tugas Akhirnya. Ery akhirnya memutuskan akan menyusul ke Singapore lagi pada hari Sabtu. Oke kembali lagi, pesawat seharusnya berangkat pukul 11.20 dari Terminal 3 Soekarno Hatta, namun karena trafik bandara yang padat, kami baru bisa berangkat sekitar pukul 12.30. Sembari menunggu, kami mengisi kartu yang akan dicap oleh imigrasi. Kartu tersebut terdiri dari dua bagian, yang satu untuk keluar dan yang satu lagi untuk kembali ke Indonesia. Jadi jangan sampai hilang loh ya kartunya. Nah, di pesawat kita juga dapet kartu yang mirip, tapi untuk masuk dan keluar dari Singapore. Kartu ini juga gak boleh hilang, soalnya nanti gak bisa keluar dari Singapore. Perjalanan ke Singapore memakan waktu 1 jam 40 menit sehingga kami tiba di Singapore sekitar pukul 14.00. Sampai Bandara Changi, salah satu teman kami lagi, Imam, berpisah dengan kami karena ia ingin ke Malaysia sebentar untuk membeli iPhone 4S yang sedang promo di sana. Lalu kami berempat memutuskan untuk menggunakan taksi menuju ke hostel kami. Dari Bandara ke Hostel yang berada di jalan Serangoon tersebut menempuh waktu kurang lebih 30 menit. Hostel kami ternyata terletak di daerah pemukiman India, sehingga terlihat banyak orang India di daerah tersebut. Sesampainya di hostel, kami langsung disambut ramah oleh pemilik hostel. Setelah mengisi form untuk masing-masing orang, kami mendapatkan kunci loker di kamar dan kunci kamar (kartu RFID). Kami diantar menuju ke kamar oleh pegawai di sana. Sesampainya di kamar, kami cukup puas dengan kondisi kamarnya. Bersih, cukup lega, dan ada kamar mandi dalam yang bersih juga :) . Posisi kasur tingkat yang dijejer seperti itu mengingatkan saya tentang kamar saya di asrama dulu, hehehe.

Kamar Hostel

Setelah beberes singkat, kami langsung meluncur keluar untuk menjelajah Singapore. Di lobi hostel, teman-teman membeli kartu lokal singapore seharga 12 dolar agar mudah dan murah untuk berkomunikasi satu sama lain. Setelah itu kami langsung meluncur ke stasion MRT terdekat, yaitu di Farrer Park. MRT adalah media transportasi kereta di Singapore. Saya kagum dengan sistem MRT tersebut. Rute-rute MRT terorganisir dengan baik dan efektif. Jumlah kereta yang datang sangat banyak, hampir 5 menit sekali kereta baru datang, bahkan ada LCD screen yang menunjukan berapa menit lagi kereta berikutnya datang. Dan yang paling saya sukai adalah metode pembayarannya yang menggunakan kartu RFID. Jadi ketika masuk ke pintu stasion, saya cukup mengeluarkan dompet (yg terdapat kartu RFID di dalamnya) dan menempelkan kartu ke mesin di pintu tersebut maka pintu kecil akan terbuka. Ketika keluar pun juga sama, cukup menempelkan dompet dan saldo saya akan berkurang sendiri dengan menghitung jarak dari tempat saya masuk ke tempat saya keluar. Mesin untuk mengisi kartu tersebut atau membeli tiket sekali jalannya pun sangat canggih. Kita tinggal menekan lokasi tujuan kita di sebuah layar sentuh, maka akan keluar biaya yang harus dibayarkan. Lalu kita memasukan uang ke dalam mesin tersebut (bisa koin ataupun kertas), maka akan keluar kartu RFID sekali pakai beserta kembalian kita.

Suasana di Dalam MRT

Kami langsung menuju patung Merlion khas Singapore. Rasanya belum ke Singapore kalau belum foto-foto di sana. Sampai di Merlion pukul 18.00, tapi cuaca masih sangat cerah. Kami di sana hingga pukul 19.30, namun langit berasa masih magrib jika di Indonesia. Setelah puas foto-foto, kami mencari tempat makan. Kebetelan di dekat merlion terdapat sebuah tempat makan kaki lima yang cukup murah. Saya memesan nasi lemak set seharga 5 dolar yang sudah lengkap isinya, ada ayam, ikan, telor, teri, dan lain-lain. Ada juga yang jual sate padang di situ. Hahaha… Setelah makan, tadinya mau melanjutkan ke double helix dan marina bay sand, tapi rasanya kaki sudah cukup pegel kalau harus kesana. Akhirnya kami menuju fountain of wealth yang searah dengan stasion MRT untuk kami pulang. Ternyata karena gak tau jalan, perjalanan ke sana pun cukup jauh dan muter-muter. Sampai di fountain of wealth sekitar pukul 21.30. Keren banget, ada air mancur yang sangat besar dan ditemani dengan atraksi laser-laser di airnya. Setelah puas main di sana, kami pun kembali ke hostel.

Fountain of Wealth

Ternyata wilayah hostel kami dekat dengan daerah karaoke plus-plus. Tidak hanya melewati kuil, kami juga melewati beberapa karaoke-karaoke tersebut. Dan ternyata, sebelah hostel kami persis adalah tempat karaoke juga. Dari kamar kami, terdengar sayup-sayup suara karaoke dengan bahasa mandarin -_-. Sampai di kamar, tenaga kami sudah habis total. Mengingat hari Jumatnya destinasi kami adalah ke Universal Studio Singapore, kami pun tidur cepat. Lalu ketika kami selesai beres-beres, Imam pun datang setelah puas mendapatkan iPhone4S white barunya :D

Yap, itulah hari pertama wisata di Singapore. Besok di posting lagi cerita di hari-hari berikutnya :)

 


Biarkan Anak Mencari Passion-nya

gambar diambil dari http://www.availableimages.com

Belum lama ini saya menonton film Daddy Day Care di TV. Film tersebut menceritakan bagaimana seorang Ayah ingin membuat tempat penitipan untuk anak-anak. Beberapa pesan yang saya sukai dari film ini adalah bahwa tidak baik memaksakan anak-anak untuk mempelajari sesuatu yang dia tidak senangi. Contoh di film ini adalah terdapat tempat penitipan anak lainnya, dimana anak umur 3 tahun sudah harus belajar 5 bahasa. Lalu pesan lainnya adalah tiap anak itu unik dan butuh perlakukan yang berbeda-beda. Di film ini, para Ayah memperlakukan anak-anak secara personal, dimana terdapat rasio 5 banding 1 sehingga sang penjaga bisa memperhatikan perilaku tiap anak dan mengarahkannya sesuai dengan keunikan tiap anak.

Yang ingin saya kupas dari film ini adalah, saat ini, banyak orang tua yang “memaksakan” anaknya untuk mempelajari sesuatu yang tidak disukai sang anak tapi menurut sang orang tua itu baik bagi anaknya. Dalam beberapa hal yang dasar dan fundamental, hal tersebut merupakan bagian dari edukasi yang perlu dilakukan. Seperti halnya mengajari anaknya berhitung, berbicara, dan lain sebagainya. Tapi terkadang ada orang tua yang mencekoki anak kecil dengan les tiap hari, mulai dari les berbagai jenis bahasa, les musik, dan les-les lainnya. Jika anak tersebut suka, tidak masalah. Tapi yang tidak baik adalah kalau ternyata anak itu tidak suka. Hal itu bisa mematikan potensi sesungguhnya dari sang anak karena tadi, tiap anak itu unik. Ada yang memang mahir di bidang matematika, ada yang memang suka bahasa, ada yang ingin mendalami seni, dan lain sebagainya.

Banyak orang yang hingga besar masih belum menemukan apa passionnya. Mungkin itu pun akibat orang tua yang ketika kecil tidak membiarkan potensi sang anak untuk berkembang. Masa kanak-kanak adalah masa yang paling tepat untuk mencoba berbagai hal. Biarkan sang anak mencoba beraktifitas di suatu bidang, kalau dia tidak suka, biarkan dia memilih di bidang lain, dan seterusnya. Sehingga, ketika dewasa nanti, dia sudah mampu memetakan mana yang merupakan bidang yang ia minati dan mana yang ia tidak sukai. Hal tersebutlah yang orang tua saya selalu tanamkan kepada anak-anaknya. Saya semenjak kecil hingga saat ini sudah ikut bermacam-macam les sesuai dengan minat saya, mulai dari olahraga, beladiri, seni, dan lain sebagainya. Tapi tidak semua les yang saya ikuti, adik saya harus mengikutinya juga. Orang tua saya membiarkan kami mengikuti les sesuai dengan kebutuhan dan potensi kami masing-masing. Hasilnya adalah saat ini, saya sudah bisa memetakan kemana saya akan melangkah nanti, apa yang saya sukai dan apa yang tidak. Demikian juga dengan adik saya (yang pertama), ia sudah bisa mengetahui dengan spesifik ingin jadi apa dia nanti ketika besar nanti.

“Tiap anak itu unik dan memiliki potensinya sendiri-sendiri, peran orang tua adalah memastikan potensi dari anak bisa dikembangkan dan jangan sampai potensi tersebut malah terkubur”


Geliat Mobil Nasional, Titik Cerah Kemandirian Bangsa

gambar diambil dari http://www.terpopuler.net

Mobil Esemka buatan anak-anak SMK saat ini tengah menjadi isu yang hangat. Semenjak Wali Kota Solo menggunakan Esemka menjadi mobil dinasnya, sontak pesanan terhadap mobil tersebut meningkat drastis. Jokowi merupakan aktor dibalik dikenal dan dihargainya mobil buatan dalam negeri ini. Tak hanya itu, muncul juga mobil-mobil lokal lainnya yang menjadi titik awal kebangkitan otomotif di Indonesia.

Saya pertama kali melihat mobil Esemka ini di sebuah pameran kreatif di JCC Senayan sekitar bulan July 2011. Ketika itu, saya mengobrol dengan para pembuatnya dan mereka cukup pesimis dengan kelanjutannya. Yang mereka buat hanyalah prototipe dan belum diproduksi secara masal. Sayapun sependapat dengan para siswa SMK tersebut. Sulit rasanya produk lokal buatan anak SMK untuk bersaing dengan merk internasional yang telah ternama. Satu-satunya yang bisa membantu mereka adalah dukungan dari bangsanya sendiri, terutama tokoh-tokoh besar serta orang-orang yang berpengaruh. Dan lihat bagaimana hasilnya, kini Esemka telah melejit, mendapatkan investor, dan siap untuk dibuat dengan kualitas yang lebih baik dan dalam jumlah besar.

Di pameran tersebut, saya tidak hanya melihat produk otomotif berkualitas buatan anak bangsa, tapi saya juga melihat produk yang sama bagusnya seperti laptop buatan dalam negeri, komputer tablet, robot, dan banyak lagi teknologi lainnya yang berpotensi untuk dikembangkan. Sesungguhnya kita bisa membuat produk yang sama kerennya dengan buatan Jepang atau Amerika. Kalau semua karya yang saya lihat di pameran tersebut didukung, saya rasa kita bisa setara dengan negara maju dalam waktu singkat. Tinggal dari seluruh elemen di dalam negeri ini saja siap atau tidak untuk mendukungnya. Agar bisa memunculkan Esemka-esemka di bidang yang lain, pemerintah, tokoh-tokoh, media, artis, dan seluruh lapisan masyarakat wajib mengapresiasi dan membantu berkembangnya karya anak bangsa.

Di balik penguasaan teknologi, terdapat kemandirian bangsa


Kenapa Katanya Alumni ITB Sombong?

gambar diambil dari http://marmeeraz.blogspot.com

Di lingkungan profesional, terdapat paradigma yang mengatakan bahwa tiap universitas memiliki karakteristik lulusan tersendiri. Alumni ITB memang banyak dikenal memiliki sifat yang kaku, sombong, dan sulit bergaul. Berikut adalah tulisan yang saya ambil dari http://thriea.blogspot.com/2012/01/kata-mereka-tentang-itb.html?m=1 yang saat ini sedang heboh dibicarakan di dunia maya. Tulisan tersebut dibuat oleh seorang headhunter bernama Satrio Madigondo yang pekerjaannya adalah menyeleksi dan mewawancarai calon pegawai diperusahaan miliknya. Saya coba tampilkan tulisannya buat yang malas membuka link di atas, seperti ini tulisan beliau :

 “Disclaimer:
Tulisan ini merupakan hasil observasi sebagai Rekruiter selama 4 tahun terakhir. Mohon jangan digeneralisasi. Kalau ada yang tersinggung, mohon maaf ya!

Adalah sebuah rahasia umum di mana terdapat berbagai tipe pekerja berdasarkan tempat belajarnya. Anak UGM dikenal lugu, tidak neko-neko, dan rendah hati. Anak UI dikenal fleksibel dan cepat belajar. Anak ITB dikenal sebagai ‘pemikir makro’, besar omong, dan kaku luar biasa. Apakah stereotipe ini benar adanya? Saya tidak berani mengamini dengan sepenuh hati karena belum melakukan penelitian secara ilmiah. Dari pengamatan yang saya lakukan selama rentang 4 tahun belakangan (dalam kapasitas sebagai head-hunter, pastinya), beberapa karakteristik dapat saya verifikasi. Anak UGM memang terbukti lugu, tidak ambisius; anak UI dengan fleksibilitasnya, dan anak ITB dengan kekakuan dan kesombongannya. Hal terakhir ini yang ingin saya angkat. Kenapa? Karena karakteristik ini sangat menonjol dan sangat mengganggu proses rekrutmen.

Tidak hanya ITB junior, tapi para senior ITB juga terjangkit virus kaku dan sombong ini. Kekakuan yang mereka tunjukkan dapat saya maklumi karena mereka adalah orang-orang teknik. Secara ilmiah, sudah pernah dibuktikan bahwa ilmu-ilmu eksak, terutama teknik memang membentuk pribadi yang kaku. Selanjutnya, virus sombong. Pernah dengar cerita Narcissus? Saya yakin pernah. Dan inilah penyakit akut yang menjangkiti (hampir) seluruh anak ITB.

Hampir semua anak ITB yang saya temui memiliki gejala self-oriented yang begitu tinggi. Bukan sekali atau dua kali saya menemui anak ITB yang berbicara tentang prestasi dan mimpi mereka. Mimpi atau cita-cita biasanya diskalakan dalam ukuran makro: “Proyek….Nasional,” “Se-Indonesia.” adalah kata-kata yang sering saya dengar. Diucapkan dengan mimik muka luar biasa yakin dan nada tinggi. Ketika bicara soal jejaring, mereka selalu mau menjadi “yang kenal dengan…” (Biasanya orang-orang terkenal, minimal menteri). Mereka juga bukan anggota tim yang baik karena selalu mau menang sendiri. Hal ini biasanya terjadi dalam lingkungan kerja non-ITB. Yang terakhir, mereka adalah pemuja diri sendiri.

Appraisal bagaimana yang mereka lakukan? Begini kira-kira contohnya:
Jumat lalu saya menemui seorang kandidat, lulusan ITB. Ketika saya tanya soal prestasinya dia berulang kali menekankan hal-hal berikut:
(1) Pencapaian nilai kimia yang sempurna (100) di mana hanya terjadi 5 tahun sekali, orang satu2nya di antara 1,400 mahasiswa lain (diulang 3 kali)
(2) Pemimpin yang sangat baik, excellent! (diulang minimal 3 kali)
(3) Sangat bisa segalanya.
(4) Semua orang kenal saya.
(5) Ada lowongan regional manager Asia tapi tidak diambil dan kalaupun dia yang maju, sekitar 98% kemungkinan dia pasti jadi (diulang 2 kali)

Dan hal-hal tersebut diceritakan berulang-ulang, dengan berulang kali penghentian kalimat pada bagian2 tertentu. Hal ini untuk memberi efek penekanan dan pujian (Serius, dia mengharapkan itu). Perilaku yang ia tunjukkan selama wawancara adalah “You listen to me, and answer my questions. dedicate your time for me. You need me.” Ketika saya bertanya apakah dia ada pertanyaan mengenai proses maupun klien saya, dia hanya mengajukan beberapa pertanyaan. Lucunya, ketika saya menutup wawancara dengan dalih ada urusan lain, dia malah bilang “Oh pantesan ibu buru-buru. Jadi kapan saya bisa tanya2 ibu lagi?” (Lhoh??) Setelah itu dia masih berusaha nyerocos menceritakan kehebatannya di konteks pekerjaan.

Baiklah, saya tidak ada masalah dengan kandidat yang menceritakan prestasi kerja. Saya malah senang. Soalnya orang Indonesia cenderung menggunakan “Kami” dan malu-malu jika saya minta cerita soal prestasi kerja. Tapi ketika hal tersebut diceritakan dengan terlalu bersemangat, dengan nada sombong dan penuh keyakinan, hal tersebut jadi memuakkan. Kandidat lain yang juga adalah alumni ITB dengan kepercayaan diri luar biasa menjual gelar S2 yang ia dapatkan di Jerman untuk meminta gaji tinggi. Tidak tanggung-tanggung, cukup EUR 5,000. Iya, EURO, bukan Dollar. Per tahun? Tidak, per bulan. Katanya, standar gaji S2 di Jerman segitu. Oh, Tuan Pintar, sebaiknya kamu ke Jerman aja, jangan di sini.

Teman saya yang lulusan ITB lain lagi, nggak mau kerja. Mau wirausaha. Sayangnya, karena tidak memiliki pengalaman, ia berulang kali gagal. Ia tidak mau belajar dari pengusaha yang sudah maju, memilih produk2 jualan yang kurang komersil, dan tidak memiliki jejaring yang mendukung. Pikirannya sempit, tidak tahu medan yang ia masuki tapi sombongnya luar biasa. Hmmm.Ini adalah hal lain yang masuk virus Narsisus, menghargai diri begitu tinggi sampai tidak memperhatikan standar yang ada. Tidak hanya soal gaji, soal kerjaan pun mereka sangat pemilih. Hanya mau perusahaan A, B, atau C. Kalau tidak, mau kerja sendiri karena mereka terlalu ‘bagus’, over-standard untuk bekerja dalam sebuah organisasi.

Pertanyaan saya:
Ada apa sebenarnya dengan para alumni ini? Apa sebenarnya yang diajarkan di ITB? Kenapa para lulusannya memiliki kesombongan terprogram – yang secara kolektif terjadi?. Kalau yang saya dengar, ini berasalah dari ‘cuci otak’ pada masa plonco. Sumber lain mengatakan ini juga berasal dari persaingan internal ITB yang tidak sehat. Semacam seleksi alam, di mana sang pemenang akan menjadi sangat berkuasa. Sifat inipun kemudian terbawa ke kehidupan kerja. Tapi ini baru asumsi dan opini sekelumit orang, saya tidak berani mengatakan hal tersebut memang terbukti.

Jika ada yang membaca ini dan termasuk alumni ITB yang menyangkal, ya nggak papa juga. Kan di awal sudah dikatakan bahwa ini adalah hasil observasi saya selama bekerja sebagai Head Hunter. Saya cuma mau berpesan: Janganlah jadi Narsisus. Kami sudah tahu anda hebat, tetapi tidak perlu membesar-besarkan kehebatan anda. Kami tahu persis anda pintar, dan mungkin terpintar se-Indonesia. biarkan prestasi anda yang bicara. Kalau tidak bisa se-Indonesia, jadi paling pintar se-Bandung saja masih oke kok. Jangan biarkan imej yang melekat di ITB adalah Produser Narsisus. Sudah cukup banyak Narsisus di negeri ini.

Salam,
Satrio Madigondo.-”

Setelah saya membaca tulisan di atas, saya juga sempat ngobrol-ngobrol dengan teman-teman yang sesama anak ITB dan mencoba menyimpulkan apa sih penyebab alumni ITB memiliki karakter seperti itu. Dari hasil diskusi, berikut adalah poin-poin yang berhasil saya dapatkan:

  1. Ketika SMA, anak SMA sudah mendapat pandangan bahwa masuk ITB itu sulit. Yang bisa masuk ITB berarti hebat,
  2. Ketika penyambutan awal, mahasiswa ITB sudah disambut dengan kata-kata seperti “Selamat datang siswa-siswa terbaik bangsa” ,
  3. Lingkungan kuliah membentuk para mahasiswa untuk bersaing dengan orang-orang yang hebat dan berprestasi tinggi,
  4. Dosen ada yang menanamkan kebanggaan tersendiri atau tanggung jawab yang lebih dengan menjadi mahasiswa ITB,
  5. Tugas-tugas kuliah dan soal ujian dengan tingkat kesulitan yang super tinggi,
  6. dan masih banyak poin lainnya.

Poin-poin tersebut secara sadar maupun tak sadar telah membangun mental dengan rasa percaya diri yang tinggi apalagi dengan segudang prestasi yang telah didapatkan oleh mahasiswa ITB secara historis. Namun yang kurang adalah kemampuan untuk berkomunikasi dan menyampaikan pikirannya dengan baik. Sesungguhnya kalau menurut saya, yang dibutuhkan anak ITB adalah communication skill dan empati yang harus dilatih lebih banyak lagi. Saya yakin poin-poin di atas juga dimiliki oleh universitas besar lainnya seperti UGM atau UI, tapi bedanya, mereka memiliki lingkungan yang membangun unsur humaniora dan sosial mereka dengan baik. Berbeda sekali dengan anak ITB yang lebih banyak aktifitas di kelas, laboratorium, atau di dalam kampus dibandingkan waktu mereka untuk bersosialisasi dengan teman-teman yang lain sehingga anak ITB kurang bisa menempatkan diri dengan baik di lingkungan yang heterogen.

Tapi kalau melihat pola kemahasiswaan yang semakin baik dari waktu ke waktu, saya rasa unsur sosial yang kurang dimiliki oleh anak ITB mulai ditambal perlahan-lahan oleh himpunan, unit, dan kabinet. Program-program kemahasiswaan dibuat selaras dengan keprofesian namun tetap menyentuh nilai sosial sehingga bisa menanamkan kemampuan empati, komunikasi, kepekaan, dan kerendahaan hati pada seluruh mahasiswa. Memang agak utopis dan tidak realistis, tapi semoga sentilan tulisan di atas bisa menyadarkan lulusan ITB untuk menjadi semakin pandai dalam bersikap, bertutur kata, dan menempatkan diri sehingga rasa percaya diri tersebut dibungkus juga dengan kemampuan komunikasi yang baik dan etika yang tepat.

” Punya percaya diri yang tinggi itu perlu, tapi jika tidak disertai dengan sikap yang baik, yang muncul adalah kesombongan”


Indonesia Bukan Hanya Negara Hukum

gambar diambil dari www.kampungtki.com

Mungkin bagi yang belum tahu, pada tanggal 10 Desember 2011, kepolisian di Aceh melakukan aksi pembinaan terhadap anak-anak (yang berdandanan) Punk ketika melakukan konser (link berita di sini). Pada aksi tersebut, kepolisian Aceh menangkap anak-anak Punk, lalu yang laki-laki rambutnya digunduli dan yang wanita dipotong sebahu, dan diberikan pembinaan mulai dari latihan kebugaran hingga rohani. Pembinaan selama 10 hari tersebut kemudian selesai dan para remaja tersebut merasakan manfaat dari pembinaan tersebut, beberapa bahkan ada yang tidak kuasa menahan tangis ketika berpisah dengan para pembina mereka.

Bagi para pejuang kebebasan dan hak untuk mengexpresikan diri, kejadian tersebut merupakan sesuatu yang hina dan layak mendapatkan kecaman serta protes. Secara hukum pun, kejadian tersebut dinilai telah melanggar hak asasi mereka. Namun ada yang luput untuk diperhatikan oleh para aktifis tersebut, yaitu nilai etika dan budaya yang dianut di daerah tersebut. Aceh dikenal sebagai daerah yang agamis dan disiplin, nilai-nilai budaya yang ada di sana merasa tidak cocok dengan perilaku anak Punk tersebut. Oleh karena itu, wajar jika para orang tua, masyarakat sekitar, dan pejabat daerah berusaha untuk menjaga nilai-nilai yang ada di Aceh. Bahkan, di Malaysia, dandanan Punk dianggap sebagai penjahat. Lalu apakah anak-anak Aceh tidak bisa mengekspresikan diri mereka sebagai anak Punk? Tentu bisa, tapi ada kadarnya, ada waktunya, dan ada tempatnya. Yang pasti, di Aceh, bukan dengan dandanan bertato dan tindik, konser tengah malam, dan di daerah yang ramai akan warga.

Peran etika, nilai, dan budaya sangatlah penting bagi Indonesia. Indonesia bukanlah hanya sekedar negara hukum, tapi Indonesia adalah negara yang memegang teguh etika, nilai, dan budaya. Hal ini sangatlah penting untuk diingat dan dicamkan oleh masyarakat di Indonesia. Amerika adalah contoh negara hukum yang mengedepankan kebebasan untuk berekspresi dan bertindak selama tidak melanggar hukum. Tidak ada nilai moral atau budaya yang tertanam di sana. Akibatnya adalah banyak perilaku menyimpang yang tidak diatur oleh hukum yang terjadi di sana. Sebagai contoh, pernikahan sesama jenis kelamin, anak usia 16 tahun sudah menjadi seorang ibu dan memiliki anak tanpa melalui pernikahan, dan lain sebagainya. Bayangkan jika Indonesia ingin ikut-ikut Amerika menjadi negara yang serba bebas asal gak melanggar hukum, nantikan saja remaja-remaja kita pada hamil dan dijadikan reality show. Ingatlah bahwa Indonesia adalah negara yang juga memiliki moral, budaya, dan etika yang baik.

Indonesia bukan hanya negara hukum, tapi juga negara etika, nilai, dan budaya. Jadi tidak cukup memandang suatu kasus atau peristiwa dari sisi hukumnya saja, harus memperhatikan juga sisi sociocultural-nya.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 459 other followers