Manusia Biru, Paduan Kreatifitas, Teknologi, Dan Sosial 25/03/2009
Posted by ardisaz in Musik.add a comment
Ingat dengan ikon tiga orang, botak, berkulit biru, dan membawa pipa? Blue man group, sebuah konsep musik inovatif yang ditemukan oleh Phil Stanton, Chris Wink, dan Matt Goldman menyuguhkan penampilan teatrikal dan penuh dengan ide-ide segar. Pertunjukannya selalu luar biasa karena menampilkan semacam pantomim yang menyampaikan pesan dan kritik. Semisal kritikan tentang perilaku kecanduan internet yang saat ini banyak mewabah. Alih-alih mau berkomunikasi dengan orang yang ada (di sekitar), pecandu komunikasi seru dengan orang yang tidak ada (di sekitar). Sebuah realitas kehidupan yang suram. Ada juga sindiran tentang banyaknya informasi junk yang diterima dan dibaca setiap hari dengan
gaya penyampaian pesan yang kocak dan cerdas. Kemudian banyak jokes sinis yang ditampilkan menghibur dan melekat di pikiran. Belakangan ini, blue man group aktif mengkampanyekan global warming, salah satunya dengan menjadi ikon dari mobil ramah lingkungan.
Merekam Mimpi Di Atas Kertas 25/03/2009
Posted by ardisaz in Imajinasi.add a comment

Terinspirasi dari mantan guru bahasa Inggris saya di tempat les saya dahulu yang berasal dari Kanada, namanya Mr. Jason, dia dahulu menunjukan kepada murid-muridnya sebagian kecil tumpukan buku mimpinya. Buku itu dia buat semenjak dia kecil. Setiap bangun tidur, hal yang pertama dia lakukan adalah mengambil pena dan buku yang sudah dipersiapkannya di samping tempat tidurnya dan langsung menaruh mimpinya yang baru saja dia alami dalam sebuah buku. Ada tulisan-tulisan berupa cerita, gambar-gambar, dan lain-lain. Katanya semua orang pasti mengalami mimpi tiap tidurnya. Tapi tidak semua orang bisa mengingat mimpinya setiap kali bangun tidur. Bahkan ketika ingat pun, lama kelamaan akan menguap terhapus waktu. Jadi menuangkannya ke dalam kertas adalah hal yang paling baik untuk bisa mengingat terus mimpinya. Nampaknya saya menjadi tertarik melakukan hal tersebut mengingat belakangan ini saya mengalami mimpi-mimpi yang unik. Mungkin nantinya bisa menemukan pola tertentu dari mimpi kita, atau mungkin saya bisa jadi penafsir mimpi nantinya. Yang jelas saya tidak ingin membiarkan khayalan dan cerita-cerita unik dari mimpi saya hilang begitu saja.
Idealisme Ku Akankah Terkikis Usia? 24/03/2009
Posted by ardisaz in Suara Hati.1 comment so far

Saat ini api membara di dalam dada, seperti anak kecil yang menginginkan sepotong es krim. Saya seseorang yang berimajinasi mengharapkan sebuah gambaran terlukis nyata di kanvas kehidupan. Warna-warna terbaik digoreskan kuas termahal yang pernah ada. Tidak sekedar lukisan, tidak pula sekedar gradasi. Tapi keharmonisan yang tertata rapi di tiap bilik-bilik penyimpanannya. Interaksi yang indah dan kesatuan yang abadi. Kesejahteraan dan tawa yang timbul di antara pelangi dalam kertas. Tiap penghuni istana tersebut dapat terbang dan tertidur nikmat sekali. Bayangan inilah hasil ideal benak pikiran saya.
Saya sering dijatuhkan, buat apa beridealisme, nanti juga seiring bertambanya usia, idealisme itu akan luntur sendiri. Mengapa demikian? Nampaknya di bumi tidak ada yang ideal. Kondisi yang ada di kepala saya nampak sangat mustahil tercipta di masa hidup saya. Arus yang mendambakan kesempurnaan ini akan terbentur batu dan karang yang kemudian tersisa menjadi buih.
Tapi saya akan mengikat dan memaku dalam-dalam keindahan ini di dalam hati. Tidak ada yang bisa memisahkan kami. Jikalau saya mati, saya mati di tengah medan perang. Jikalau saya terhenti, semangat saya akan terus membawa mimpi ini melangkah satu langkah demi satu langkah. Karena saya sangat menginginkan persatuan, sangat menginginkan tawa, sangat menginginkan indah. Semoga saya yang 10 tahun lagi membaca tulisan ini agar tidak lelah mengepakan sayap.
Rakyat, Maafkan Kami Para Mahasiswa 24/03/2009
Posted by ardisaz in Suara Hati.2 comments

Suatu pagi di hari Minggu, saya bersama teman-teman saya melakukan pencarian dana di sebuah lapangan yang tiap minggunya ramai dijadikan tempat berdagang. Daerah sekitar itu memang tiap minggunya dijadikan tempat berdagang oleh banyak orang. Bahkan ada yang sudah rutin berjualan di sana dalam jangka waktu tahunan. Kami pun kesulitan mendapatkan tempat untuk berdagang karena rata-rata tempat tersebut sudah ada yang punya. Setelah kami berjalan sampai di suatu tempat, kami bertemu dengan seorang pedagang rotan yang memberitahukan tempat yang kosong. Kami juga bertanya-tanya tentang aturan berjualan di sini. Mulai dari penggunaan tempat sampai keamanan. Lalu kalimat yang membuat saya cukup merasa tersindir adalah “kalo orang lain jualan di sini sembarangan, bakal diusir sama preman di sini. Tapi kalo mahasiswa gak papa kok”.
Dari perbincangan singkat tersebut, saya menemukan poin bahwasannya masyarakat kecil itu sangat menghargai mahasiswa. Mereka menaruh harapan yang tinggi kepada para mahasiswa. Harapan untuk membawa perubahan di Indonesia ini. Saya jadi malu, untung mereka tidak menanyakan kepada saya untuk apa dana yang sedang kami cari ini. Kalau saja mereka menanyakan itu, saya pasti akan sangat merasa rendah sekali mengakui uang yang dikumpulkan bukan untuk pengabdian terhadap masyarakat, bukan pula untuk memajukan bangsa, tapi hanya untuk keperluan pribadi suatu golongan.
Saya jadi malu melihat di sekitar saya mahasiswa sibuk mengumpulkan dana ratusan juta untuk acara yang bersifat hiburan, untuk kepentingan beberapa golongan saja, dan lain-lain. Melihat fakta betapa mahasiswa memikul tanggung jawab sebesar itu, seharusnya itu membuat tubuh kita semakin membungkuk dan semakin merakyat. Tidak perlu menunggu bergelar sarjana dulu untuk bisa berkontribusi. Kita punya banyak hal yang bisa kita lakukan bagi mereka. Mulai dari yang paling sederhana seperti mengajarkan baca tulis sampai yang paling kompleks seperti berdiskusi dengan pemerintah mengenai kebijakannya untuk masyarakat kecil. Ayo kita mulai dari hal yang kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari sekarang.
Mahir Membuat Cerita Di Langit Tapi Tidak Bisa Turun Ke Bumi 17/03/2009
Posted by ardisaz in Suara Hati.3 comments

Di langit banyak cerita dan keindahan Yang Membahana
Namun bumi tetap saja hitam dan tidak bercahaya
Pujangga bernyanyi dengan nikmat di awan dan angin yang bersemilir
Tapi demi waktu yang berputar, bumi tetap tidak tersemir
Nampaknya para malaikat lebih senang berdansa di singgasana
Daripada melelahkan diri ke dalam lubang jelaga
Wahai konseptor berpena idealisme tinggi
Tak sanggupkah diri mu mengikat sepatu dan mulai berlari
Sampai kapan memperdebatkan kambing hitam di meja kelabu yang sunyi
Bersegeralah melaju ke arena persengitan tempat semua konflik berbelit
Lepaskan jubah tidur yang melindungi muka kritis dan kalimat-kalimat tak bertuan
Maju dan mulailah mengangkat batu-batu hitam dari lantai surga
Biarkan muka ini hitam, berdebu, dan penuh luka goresan peperangan
Lebih baik berdarah-darah di dalam ruang yang berisi silet dan beling
Dari pada berenang di kolam yang penuh ludah sumpah serapah
Merobohkan Keangkuhan Kalimat “All You Can Eat” 15/03/2009
Posted by ardisaz in Beranda.4 comments

Tujuh belas Orang dalam satu hari berhasil merubuhkan kalimat makan sepuasnya di sebuah restoran Jepang di Jalan Dago. Niatan ini diawali dengan persiapan yang matang dan terencana. Berbagai peralatan pengisi waktu telah dipersiapkan, mulai dari Laptop untuk nonton DVD, laptop untuk main WE, kartu, novel, komik, sampai kabel rol. Jam 10.00 WIB kami sudah siap dengan segala peralatan kami dan langsung menyerbu lokasi. Datang di pagi hari nampaknya membuat sang pemilik restoran senang, karena kedatangan omset yang berlimpah di jam tidak sibuk. Kami disambut hangat dan dipersilahkan menempati ruang VIP dengan terbuka. Ruang VIP tersebut sangatlah eksklusif, satu ruangan hanya ada dua meja dan empat pemasakan. Di ruang tertutup itu juga memiliki halaman belakang seperti taman. Para pramusaji yang hangat menyalakan kompor dan menyiapkan tempat bagi kami. Kami pun memulai dengan makanan pembuka, nasi goreng, salad, kwetiau, dll. Setelah kompor hangat, air mendidih, dan minum telah dipesan, kami merambah ke tempat daging dan makanan-makanan lain berada. Satu persatu dari kami mengalokasikan daging dari pendingin ke dalam kompor yang berakhir di perut kami. Begitu terus sampai siang hari. Suatu kesalahan terbesar dari pemilik restauran adalah, menempatkan kami di ruang VIP. Akibatnya adalah kami menjadi liar di dalam sana. Semua alat hiburan dikeluarkan dengan segera. Alhasil ruangan eksklusif tersebut berubah menjadi tempat bermain WE, tempat menonton DVD, tempat bermain internet, dll. Tentu selama aktifitas itu pun kami bolak-balik mengambil makanan sebagai cemilan.
Waktu terus berlalu, hingga akhirnya kami sepakat untuk memulai ronde ke dua. Kurang lebih pukul 14.00 WIB kami sudah merasa lapar dan siap untuk menjarah lemari pendingin yang penuh dengan daging tersebut kembali. Namun nampaknya kehangatan yang tadi pagi diberikan kepada kami sudah pudar. Muka-muka sinis dan tak senang dari para karyawan sudah tersirat. Tapi kami pun tidak peduli dan melanjutkan invasi kami. Dengan “tahu malunya” kami meminta petugas untuk menyalakan kompor kami lagi. Namun tidak kunjung datang petugas untuk menyalakan kompor kami. Sampai kami harus mendatangi petugas tersebut dan menunggunya hingga mendatangi meja kami dan menyalakan kompor. Kami minta ke empat meja dinyalakan lagi kompornya, namun pak petugas yang baik itu hanya menyalakan satu saja. Alhasil kami pun menyalakan sendiri kompor kami. Kami bolak-balik mengambil daging lagi. Lalu tiba-tiba, stok daging tidak dikeluarkan lagi. Nampaknya mereka bergerak cepat dengan tidak mengisi ulang stok daging yang ada. Tapi tak masalah, masih ada makanan yang bisa dimakan. Setiap kami mengambil makanan, mata-mata tajam menatap kami. Seakan ingin mengusir kami, namun tamu adalah raja, tidak bisa sembarangan diusir. Kehabisan daging tidak menyurutkan niat kami untuk terus bersantap ria. Terasa suasana semakin dingin, kami pun merasa semakin tidak nyaman. Sampai akhirnya kompor kami sudah sangat gosong dan kami meminta untuk diganti, lalu mas penjaganya berkata bahwa sudah tidak ada lagi karena sudah mau tutup karena ingin mempersiapkan untuk makan malam. Tadinya kami ingin berkata bahwa kami ingin makan malam sekalian, tapi rasanya melihat muka yang sudah seperti itu membuat kami tidak enak untuk berkata demikian. Alhasil jam 16.00 WIB kami meninggalkan kesan yang mendalam bagi restoran tersebut.
Semoga saja mereka tidak kapok dengan konsep “all you can eat”nya. Yang pasti kami sudah membuktikan kalau kalimat makan sepuasnya milik rumah makan tersebut hanyalah kalimat semu. Karena kami belum puas tapi sudah tidak diperbolehkan makan lagi. Silahkan buktikan sendiri…
Katanya Kita Bebas Berekspresi 14/03/2009
Posted by ardisaz in Sosialita.add a comment

Kita berada dilingkungan yang heterogen dengan berbagai macam perbedaan. Kemudian kita juga berada di negara demokrasi yang memperjuangkan hak dan kewajiban dari tiap individu yang menjadi warga negara. Bineka tunggal ika, berbeda-beda tapi tetap satu, merupakan slogan yang dipakai untuk mempersatukan keragaman kita dalam satu rangkaian bersama. Lalu diciptakan juga hukum yang mengatur hak dan kewajiban perorangan dalam bermasyarakat agar hak seseorang tidak menutupi hak orang lain. Satu lagi yang tidak ketinggalan, norma dan etika merupakan poin penting yang harus diperhatikan di dalam berkehidupan. Siapapun kita, dengan segala hak dan kebebasan kita berekspresi, haruslah mematuhi semua poin di atas untuk menciptakan keharmonisan dalam berkehidupan.
Sebagai contoh, misal saya adalah seorang anak geng yang senang menggunakan celana pendek jeans yang rombeng dan kaus singlet sebagai bentuk ekspresi saya yang bebas. Saya juga senang berkata kasar dan radikal untuk mengungkapkan perasaan hati saya yang dilindungi oleh kebebasan berpendapat. Rambut saya disusun berdiri ke atas dan di cat lima warna yang melampiaskan keterbukaan saya dalam menerima pendapat orang. Ketika berjalan, selalu bunyi gemerincing dari rantai-rantai di kantung saya. Kalung dan tato tengkoran menghiasi tubuh saya. Saya tidak takut pada siapapun. Tua, muda, besar, kecil, lelaki, wanita, teman, musuh, saya tidak peduli. Inilah saya, saya orang yang berbeda dan mengekspresikan diri saya. Secara hukum dan demokrasi, apa yang saya tampilkan adalah hal yang sah. Sekali lagi bineka tunggal ika. Namun yang terjadi sungguh mengherankan. Ternyata ketika ingin berkuliah, saya tidak diizinkan masuk karena pakaian saya. Ketika saya berdiskusi dengan orang-orang, saya disudutkan dan ditentang karena gaya bahasa saya yang kasar. Ketika saya berbicara dengan kakek saya, saya dibentak ibu saya karena menggunakan bahasa yang tidak hormat. Ketika saya hendak menghadiri pernikahan teman saya, saya dipandang sinis oleh keluarga teman saya yang berujung saya dimohon untuk tidak masuk ke tempat undangan.
Apakah ini bukti bahwa orang-orang berpikiran sempit dan tidak bisa menerima perbedaan yang ada? Apakah saya berhak meneriakan keadilan karena hak saya telah membuat saya didiskriminasikan oleh lingkungan saya? Secara hukum bukankah apa yang saya lakukan benar? Ini negara demokrasi bukan?
Nampaknya ada hal penting yang terlewatkan. Bahwa kita hidup juga harus berpegang pada aturan norma dan etika yang berlaku di lingkungan kita. Jika mengabaikan hal-hal tersebut, maka kita akan tersisih dari lingkungan dan masyarakat tempat kita hidup. Kita akan dipandang sangat rendah dan buruk. Dalam berpakaian, berbicara, dan menyampaikan pikiran ada adab dan tata caranya. Kita harus menghormati aturan tak tertulis yang berlaku di masyarakat kita. Di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung. Ketika kita bepergian, sesuaikanlah tampilan kita dengan kondisinya. Ketika kuliah pakailah baju yang sopan, ketika menghadiri pernikahan pakaialah pakaian yang resmi. Ketika berdiskusi gunakanlah kata-kata yang sopan. Ketika mengritik gunakanlah kalimat yang membangun. Ketika berkomunikasi dengan orang tua gunakanlah bahasa yang lembut. Dan masih banyak lagi aturan tak tertulis yang berlaku di setiap tempat. Aturan tersebut dibuat bukan untuk membatasi kebebasan kita, tapi untuk menjaga keharmonisan di dalam bersosialita. Hormatilah hal itu maka kita pun akan dihormati.
gambar dari http://cocotbodol.files.wordpress.com/2008/03/pic70.jpg
Kenikmatan Yang Membutakan Saya 11/03/2009
Posted by ardisaz in Suara Hati.add a comment

Saya percaya bahwa Tuhan mendengar doa kita. Saya juga yakin Tuhan sayang pada kita. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak nikmat yang Dia berikan pada kita. Tapi saya merasa lalai dan jauh meninggalkanNya.
Satu contoh kasus yang saya rasakan adalah ketika menjalani pelatihan intensif menjelang Ujian Saringan Mandiri menuju tempat saya berkuliah saat ini. Ketika itu, saya sudah melalui beberapa ujian saringan mandiri dari beberapa universitas tetapi kegagalan demi kegagalan silih berganti. Saya menyadari benar ketidak seriusan saya dalam mempersiapkan diri baik secara fisik maupun batin. Akhirnya saya menyesali itu dan berusaha memerbaiki diri di suatu tempat bimbingan belajar kecil di suatu tempat di kota Bandung. Tempatnya tidak seperti bimbingan lain yang penuh dengan fasilitas dan infrastruktur yang besar. Tempatnya hanyalah sebuah rumah yang sebagian dari rumah tersebut dijadikan kelas-kelas yang tiap kelas hanya mampu menampung paling banyak 20 anak. Untuk mencapai tempat itu pun harus melewati jalan sempit dan gang kecil. Tapi satu hal yang saya sangat syukuri, atmosfir spiritual yang sangat tinggi di lingkungan itu. Saya selama 30 hari lebih menginap di kos-kosan sederhana di dekat tempat les (sudah merupakan paket super intensif). Saya mengikuti drill soal selayaknya bimbel biasa. Tetapi ada yang berbeda di tempat tersebut. Tidak hanya otak saya yang diisi, tapi juga hati saya diisi. Saya diajak untuk mendekatkan diri kepada Allah oleh mentor-mentor saya. Tempat tersebut juga sangat dekat sekali dengan masjid. Sholat dhuha, puasa sunnah, tahajud, dll menjadi rutinitas selama intensif. Saya merasakan kedekatan dengan Sang pencipta. Saya pun sering meminta dan berharap di malam hari agar diberikan jalan yang terbaik. Doa saya panjatkan dengan niat yang tulus dan ikhlas. Sampai akhirnya, tiba hari test dilaksanakan dan hasil diumumkan. Saya terkejut, ternyata benar, Allah mendengarkan doa hambanya yang benar-benar serius. Saya bisa diterima dijurusan yang saya minati. Saya bersujud syukur dan berterima kasih atas jalan yang telah diberikan olehNya.
Namun saya merasa sekarang ini saya sudah mengkhianati pemberianNya. Saya sudah jarang melakukan rutinitas spiritual yang dulu saya lakukan ketika meminta diberikan kemudahan oleh Nya. Saya menjadi seperti orang yang hanya baik jika ada maunya. Padahal saya tahu, Dia tidak butuh saya, tapi saya yang butuh Dia. Saya sudah menjadi semakin jauh denganNya. Kenikmatan ini membutakan saya dengan sang Pemberi Nikmat. Tolong jagalah hati saya agar tidak jauh dari Mu. Tolong bawalah saya kembali ke jalan yang benar. Teman, bantulah saya agar tetap tersadar dan terjaga untuk bisa mensyukuri nikmat ini.
Kubur Kami Dalam-Dalam 10/03/2009
Posted by ardisaz in Suara Hati.add a comment

Kesedihan yang tak tertahankan
Merasa kebenaran tidak bertatapan
Sudah tak sanggup lagi kami memegang akar
Selimut demi selimut membalut kenyataan
Kami diam dalam amarah, bicara dalam tangisan
Meledakan pundi-pundi kepercayaan
Hentikanlah kami, karena kami ingin selamat
Tarik tangan kami dalam kalut malut perpecahan
Biarkan perasaan kami terkubur dan tak tercium baunya
Jauh ke dalam, ke dalam ikhlas, ke dalam rela
Biarkan sang nahkoda menjaga kami dalam satu untaian
Tetap berpegang tangan tanpa berkata-kata masa lalu
Saya Putih, Saya Tidak Memilih, Dan Saya Tidak Peduli 06/03/2009
Posted by ardisaz in Sosialita.4 comments

Berbicara mengenai pemilihan umum memang tidak ada habisnya. Wajar saja jika saya melihat teman-teman saya yang sudah habis kesabarannya. Matanya memerah tiap kali melihat iklan kampanye di televisi. Baliho-baliho yang berisikan muka-muka manis para calon presiden dan calon legislatif memancing mereka untuk segera mengeluarkan pedangnya dari sarungnya kemudian mencabik-cabik poster yang penuh dengan harapan dan janji tersebut. Perjalanan tebar pesona ke daerah-daerah membuat teman-teman saya kalut dan mulai merakit bom untuk meledakannya di panggung menawan para artis pemerintahan. Satu hal yang saya tangkap dari perilaku ini, mereka sudah muak dengan politik di Indonesia.
Sedikit menganalisis fenomena ini, saya menganggap tindakan teman-teman saya adalah hal yang wajar. Mereka merasa terkhianati tiap kali memberikan suaranya untuk orang-orang yang memberikan janji. Alhasil terciptalah rasa apatis yang mengakar di sela-sela otaknya. Hatinya sudah mengecil dan membatu tiap kali disodorkan harapan oleh sang pembawa perubahan. Mereka memilih memotong jari mereka daripada mencelupkannya ke tinta ungu dan kembali menyaksikan parodi di pemerintahan. Mereka memilih menjadi golongan suci yang tidak mau tangannya kotor dan harus mempertanggung jawabkan kriminal yang naik tahta. Itulah golongan putih. Golongan yang ingin menghukum orang-orang yang telah mempermainkan perasaan rakyatnya.
Memilih ataupun tidak memilih adalah hak tiap orang. Janganlah kita sibuk memperdebatkan hak asasi ini. Buat apa kita berpayah-payah menentang perbedaan ini. Marilah kita memperjuangkan satu hal yang sama-sama sangat kita inginkan bersama. Yang diinginkan oleh golongan putih dan yang memilih wakil rakyat. Yaitu INDONESIA YANG LEBIH BAIK. Mari kita sama-sama bergandengan tangan memperbaiki kerusakan yang ada. Mari sama-sama kita masuk ke arena dan mencoba sekuat yang kita mampu, sebesar yang kita sanggup, sejauh yang kita dapat untuk menjadikan Indonesia yang kita impikan. Janganlah hai kalian teman-temanku yang sedang sakit hati dan menangisi negara ini berdiam diri di pojokan. Janganlah hai kalian teman-teman ku yang sudah jenuh hanya menonton TV dan membaca koran sembari bercaci-maki ria. Janganlah hai teman-teman ku yang menahan amarah membakar ban dan merusak pagar. Marilah kita bersama memberikan apa yang kita bisa kepada masyarakat. Ingat bahwasannya Indonesia dirusak selama ratusan tahun lebih oleh penjajah. Jadi butuh ratusan tahun pula untuk memerbaikinya. Bertahanlah dan terus berjuang.
Kita Warga Indonesia, Memilih ataupun tidak memilih, kita peduli dan akan terus berjuang!!!
gambar cantik dari http://mampus.files.wordpress.com
