jump to navigation

Belajar Dari Rendy Saputra (part 2 : Inti Bisnis) 28/04/2009

Posted by ardisaz in Pengembangan diri.
add a comment

Dalam dunia ini, terdapat empat spesies yang mengisi dunia kerja manusia. Employee (karyawan), Self Employee (Dokter, pengacara, dll), Business owner (pengusaha), dan investor. Employee adalah mereka yang bekerja untuk orang lain, self employee adalah mereka yang bekerja menggunakan keahlian mereka sendiri, business owner adalah mereka yang bekerja dengan sistem, dan investor adalah mereka yang bekerja dengan menitipkan uangnya kepada sebuah sistem bisnis. Dalam realita, jumlah business owner jauh lebih sedikit dari pada jumlah employee. Tapi hal tersebut tidak menjadikan employee lebih jelek atau lebih baik dari yang lainnya dan demikian sebaliknya. Namun Kang Rendy Saputra selaku seorang enterpreuner (yang berada di zona business owner) berbagi pengalamannya sebagai seorang pemilik perusahaan yang bersistem. Beliau bercerita tentang bagaimana untuk bisa menjadi seorang pebisnis berdasarkan pengalamannya.

Beliau berkisah tentang kenalannya yang  merupakan seseorang yang sedang merintis bisnis, anggap saja namanya ibu Sandra. Ibu Sandra adalah seorang ibu rumah tangga. Suatu ketika ia berniat untuk membuat sebuah usaha, usaha laundri. Kemudian ia meminta suaminya untuk membelikan sebuah mesin cuci yang bisa menggunakan air panas maupun air dingin untuk mencuci. Namun sang suami nampak tidak mendengarkannya dengan sungguh-sungguh dan berkata nanti akan dibelikan. Waktu berlalu dan janji sang suami belum juga ditepati. Akhirnya Ibu Sandra mengambil inisiatif nekat. Ia membuat brosur yang mempromosikan perusahaan laundrinya, “Sandra Laundri, menerima cuci air dingin dan air panas. Hubungi di …..”. Setelah mencetak 500 lembar, ia sebarkan brosur tersebut ke seluruh kota. Padahal alat untuk mencuci dengan air panas pun ia belum miliki. Setelah membagikan brosur tersebut, tiba-tiba ada yang menelpon nomer tersebut. “Sandra Laundri…?”, tanya suara tersebut dalam telepon. “Iya betul, ada yang bisa dibantu?” jawab Bu Sandra. “Kami mau laundri pakai air panas bisa?” tanya suara dari telepon tersebut. “Oh bisa!!!”, jawab Bu Sandra. “Bisa diambil sekarang barangnya bu?” tanya penelpon tersebut. “Bisa!! Bisa!!…” jawab Bu Sandra. Kemudian Bu Sandra pun langsung menuju tempat tersebut yang ternyata merupakan tempat SPA. Bu Sandra terkejut ternyata jumlah cuciannya ada tiga karung. Lalu dibawa pulanglah karung tersebut oleh Bu Sandra. Sesampainya di rumah, ia hanya memandangi cucian tersebut sambil menunggu sang suami pulang. Begitu sang suami tiba, ia terkejut. Bu Sandra menjelaskan bahwa karung tersebut adalah orderan. Sang suami kembali menanyakan orderan tersebut, orderan apakah gerangan? Lalu Bu Sandra menunjukan brosurnya dan menjelaskan apa yang telah dia lakukan. Kemudian karena sang suami juga merasa bersalah tidak membelikan mesin cuci tersebut, dicucilah karungan baju tersebut dengan air panas hasil memasak sendiri oleh pasangan suami istri tersebut. Singkat cerita, dari hasil coba-coba tersebut, saat ini Laundri Bu Sandra sudah memiliki puluhan mesin cuci dengan penghasilan puluhan juta rupiah. Inti sarinya adalah, untuk bisnis tidak perlu pintar, cukup mau mencoba dan berani gagal.

Orang yang sukses bukanlah orang yang dalam hidupnya tidak pernah gagal, tapi mereka yang mengalami ribuan kali kegagalan dan setiap kali mereka gagal, mereka bangkit kembali dan melangkah kembali.

Belajar Dari Rendy Saputra (part 1 ; Sudut Pandang) 23/04/2009

Posted by ardisaz in Pengembangan diri.
2 comments

Saya belajar dari sebuah seminar kecil dan singkat yang diadakan oleh fakultas tetangga. Saya sangat beruntung karena bisa belajar dari seseorang yang jaraknya tidak terlalu jauh, masih merintis karir, namun sudah memiliki prestasi yang sangat baik. Belia adalah Kang Rendy Saputra. Saat ini beliau berada di tingkat 4 yang nampaknya tidak akan ia selesaikan jenjang pendidikannya tersebut. Pemilik Saputra Empire Bisnis Grup ini nampak telah menemukan jalan hidupnya, yaitu di dunia enterpreuner. Kerajaan bisnisnya melahirkan sebuah lembaga bimbingan belajar ternama di kalangan mahasiswa ITB, sebuah food cort, sebuah sistem perparkiran, dan lain-lain. Lelaki berusia muda ini telah memilki karyawan berjumlah 40an orang. Di waktu yang sangat singkat ini, beliau berbagi pengalaman hidupnya yang sangat menarik. Yang pertama mengenai sudut pandang.

Persepsi dapat merubah sikap kita dalam menghadapi sesuatu. Itulah kata-kata pembuka yang mencoba mengantarkan saya mengupas lebih dalam tentang sudut pandang. Salah satu penyakit yang saat ini terjadi adalah, penyakit muslim miskin. Itu adalah sebuah sudut pandang yang salah terhadap uang. Sudut pandang tersebut terbentuk akibat beberapa hadits seperti rasul tidur dengan pelepah kurma, dapur rasul pernah tidak mengebul, doa “miskinkanlah aku” (agar tidak menanggung banyak pertanggungjawaban), dan lain-lain. Sehingga terdapat sebuah kontradiksi antara agama dengan dunia.

Namun Kang Rendy Saputra mencoba membantah persepsi tersebut dengan persepsi beliau. Bukti pertama, dahulu kala Islam sering berperang. Perang besar (ghazwan) atau kecil (syariyah, biasa disebut ekspedisi untuk mengintai situasi, kondisi, dan lain-lain). Perang besar bisa terjadi hampir 3 sampai 5 kali setahun sedangkan perang kecil berpuluh-puluh kali dalam setahun. Untuk berperang, rasul pasti membawa unta dan ribuan pasukan. Kemudian untuk menempuh perjalanan menuju lokasi perang juga membutuhkan waktu beberapa bulan. Sangat tidak mungkin perjalanan tersebut tanpa perbekalan dan properti. Pasti membutuhkan biaya yang sangat besar untuk mendanai hal tersebut, sehingga dapat disimpulkan bahwa umat islam itu kaya. Kehidupan Rasul boleh sederhana, tapi umat islam dalam kenyataannya kaya. Bukti kedua, untuk ibadah pun dibutuhkan uang. Contoh-contoh simpelnya, untuk beli pakaian agar bisa menutup aurat membutuhkan biaya, untuk berwudhu butuh air yang bersih yang harus diperoleh dengan biaya juga, sampai ke urusah umroh dan zakat yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit juga.

Oleh karena itu perlu diperbaiki sudut pandang tersebut. Umat islam harus cerdas dan kaya agar tidak tertindas dari kaum-kaum lain.

Hikmah Ikhlas KepadaNya 19/04/2009

Posted by ardisaz in Suara Hati.
1 comment so far

Ternyata dari kehilangan sebuah motor bisa mengakibatkan kemunculan sebuah motor baru, sebuah gitar listrik baru, sebuah efek gitar baru, sebuah amplifire baru, dan sebuah iTouch baru… Selama hati kita ikhlas menerima segala musibah yang terjadi, selama kita berprasangka baik kepada takdir, insyaAllah berkah lah yang akan kita dapatkan…

Percayalah, Tuhan pasti punya rencana. Berprasangka baiklah padaNya selalu

Tips Menenggelamkan Umat Islam 19/04/2009

Posted by ardisaz in Sosialita.
2 comments

Suatu ketika saya berdiskusi dengan ayah saya di dalam mobil dalam perjalan menuju tempat ia bekerja. Dalam diskusi tersebut, kita sampai pada topik mengenai umat Islam. Ayah saya mengangkat suatu hadits yang cukup menggugah.

“Dari Tsauban ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Suatu masa nanti, bangsa-bangsa akan memperebutkan kalian seperti orang-orang yang sedang makan yang memperebutkan makanan di atas nampan”. Kemudian ada sahabat yang bertanya: “Apakah saat itu kita (kaum Muslimin) berjumlah sedikit [sehingga bisa mengalami kondisi seperti itu]?”. Rasulullah Saw menjawab: “Sebaliknya, jumlah kalian saat itu banyak, namun kalian hanyalah bak buih di atas air bah [yang dengan mudah dihanyutkan ke sana ke mari]. Dan Allah SWT akan mencabut rasa takut dari dalam diri musuh-musuh kalian terhadap kalian, sementara Dia meletakkan penyakit wahn dalam hati kalian.” Ada sahabat yang bertanya lagi: “Wahai Rasulullah Saw, apakah wahn itu?” beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.”

Satu poin menarik yang disimpulkan oleh ayah saya adalah bahwasannya cara untuk menghancurkan umat islam sekarang ini sangatlah mudah. Janganlah memusuhi Islam dengan pertempuran, militer, dan politik. Karena semakin Islam ditekan, ia akan semakin melawan dan memberontak. Jika ingin menghancurkan umat Islam, berilah mereka kenikmatan dunia. Beri mereka bantuan ekonomi, kemudahan dalam transaksi perdangan, dan buat mereka berlimpah harta. Ketika mereka sudah cinta akan dunia dan takut akan mati, saat itulah umat Islam akan menjadi sangat mudah untuk dihancurkan.

Intisarinya yang saya terima adalah bahwa saya selaku umat Islam harus mewaspadai kenikmatan di dunia ini. Bukan berarti saya harus hidup miskin atau terlunta-lunta. Tapi dalam suatu redaksi dikatakan, genggamlah dunia di tangan mu dan akhirat di hati mu. Saya harus berhati-hati agar kenikmatan dunia tidak membuat hati saya terlena. Harus membuat tembok yang membatasi dunia dengan hati. Kelimpahan dunia bisa melemahkan kita, tapi kemiskinan akan membuat kita lebih lemah lagi. Motivasi yang tersirat adalah harus memperkuat genggaman ekonomi dan mengasah akhirat di dalam hati kita selalu.

Bisnis Kursi Bagi Yang Kuat Mental Dan Modal 11/04/2009

Posted by ardisaz in Sosialita.
2 comments

Ini merupakan peluang bisnis yang muncul hanya 5 tahun sekali, bisnis perebutan menjadi anggota legislatif. Modalnya pun cukup besar, ratusan juta bahkan milyaran rupiah. Hasilnya adalah gaji puluhan juta ditambah berbagai tunjangan, pelayanan ekstra mewah, nilai prestisius dari masyarakat sekitar, kerjaan yang tinggal rapat-tidur-rapat-tidur, dan bisa menarik ratusan juta lagi dari proyek-proyek sampingannya. Profit yang sangat menggiurkan ini membuat berbagai macam kalangan masyarakat berlomba-lomba mendapatkan kursi istimewa tersebut. Mulai dari sarjana, profesor, pengangguran, bahkan mereka yang tidak lulus SD sekalipun.

Dalam bisnis ada yang untung dan ada yang rugi. Namun nampaknya kerugian yang dialami pebisnis kursi ini sangat berbahaya, tidak hanya materi tapi juga jiwa. Selain beban karena rugi ratusan juta, tekanan mental sangat terasa begitu mengetahui sedikitnya jumlah orang yang memilih mereka. Ratusan juta yang dia keluarkan hanya menghasilkan 12 orang yang mencontrengnya, akhirnya dia pun menjadi gila. Di tempat lain juga banyak ditemui kabar bahwa calon legislatif mengalami gangguan kejiwaan.

Lalu bagaimana dengan mereka yang untung, yang mendapatkan kursi di legislatif? Sebelum menyampaikan aspirasi rakyat, mereka harus terlebih dahulu mengalami break event point. Uang ratusan juta sampai milyaran rupiah tersebut harus terlebih dahulu dikembalikan, kemudian kepentingan-kepentingan mereka yang telah membantu proses terpilihnya dia di kursi legislatif juga harus didahulukan. Jadi nampaknya untung di sini pun masih mengalami banyak hambatan dan jegalan. Namun itu tidak masalah. Gaji puluhan juta, berbagai tunjangan, mobil dan rumah mewah, pelayanan istimewa, dan berbagai perlakuan khusus tersebut sangat sayang untuk ditinggalkan begitu saja.

Era pemerintahan Soeharto; Saya Diculik Dan Dibungkam 10/04/2009

Posted by ardisaz in Suara Hati.
4 comments

(segala cerita di sini hanya fiksi belaka, jika ada kesamaan baik dari tokoh, cerita, dan lain-lain.. anggap saja kebetulan. Karena ini hanya ungkapan hati saja. Penuh bumbu dan modifikasi)

Juli 1989, (scene 1: latar belakang saya berteriak)

Kala itu pemerintah bersama menteri-menterinya sedang menangani suatu proyek berskala internasional yang melibatkan uang rakyat yang sangat besar. Proyek mega besar yang dijanjikan dapat memakmurkan bangsa ini hanya dalam tempo satu tahun. Proyek ini berkisar di bidang pangan, energi, dan pendidikan. Namun dalam perjalanannya, negeri kami ditipu habis-habisan oleh pihak pemodal dan negara lain. Alhasil negeri kami mengalami ketidakstabilan politik, ekonomi, dan sosial. Di tengah kecarutmarutan tersebut, pemimpin Indonesia saat itu, bapak Soeharto, menjanjikan sebuah perbaikan, penanganan, dan solusi. Saat itulah rakyat jelata yang tidak memiliki kekuatan apa-apa menurut dan menunggu datangnya realisasi dari perkataan bapak Soeharto. Rakyat menunggu dengan harap akan datangnya penyelesaian dalam masalah ini. Namun pada kenyataannya, sang presiden asik dengan singgasananya. Dia sibuk berkunjung ke negara A, negara B, mengerjakan urusan dengan perkumpulan A, perkumpulan B. Rakyat semakin geram dan cemas, menanti datangnya sinar cerah yang bapak pemimpin negara janjikan. Saya sebagai salah satu menteri yang terlibat di proyek ini bersama menteri2 yang lain berusaha mendiskusikan masalah ini dalam sebuah pertemuan. Pertemuan yang alot melawan ego dan sifat kekanakan dari pemerintah pusat. Dia yang tidak mau disalahkan akibat kelalaiannya, dia yang tidak mau dituding karena tindakan yang tidak jelas tersebut. Pak Harto menuding menteri komunikasi, menuding menteri informasi, dan menuding banyak pihak lainnya akibat kelalaian ini. Dipertemuan itu beliau dengan tegas menyatakan bahwa komunikasi dan informasi harus dibenahi. “ini salah mereka, saya bekerja, saya perduli, tapi media masa aja tidak tahu”, beliau berteriak sambil menunjuk-nunjuk saya. Saya pun terdiam menerima tekanan itu. Saya hanya mengingatkan pentingnya rakyat untuk tahu apa kelanjutan dari mimpi2 yang Bapak janjikan waktu itu, sisanya terserah bapak. Tapi ingat, rakyat bisa menilai tiap gerakan bapak. Jadi saya mewanti-wanti kepada bapak presiden untuk terus berkomunikasi dan bersentuhan dengan rakyat. Namun sayang, hal tersebut lagi-lagi tinggal wacana. Tidak ada wujud nyata dari wacana tersebut. Pertemuan demi pertemuan pun menghasilkan hal yang sama. Pemerintah hanya minta maaf, menuding, dan hari esoknya diam, diam, dan diam. Rakyat bingung, rakyat kecewa, rakyat emosi, rakyat menangis.

Januari 1990, (scende 2: saya maju dan berteriak)

Setelah setengah tahun berada dalam ketidakpastian dan kesibukan, nampaknya pemerintah makin tidak jelas. Rakyat dibiarkan mengawang tanpa kejelasan, tanpa berita, dan tanpa pengarahan. Rakyat hanya melongo menonton petinggi istana sibuk dengan kehidupan mereka masing-masing, menggeram menyaksikan kata-kata mereka yang hanya menjadi janji lalu terbang tertiup angin. Melihat superpower mereka menggerakan dunia lain sambil menginjak-injak kepercayaan rakyat. Saya pun tak tahan dengan ini, saya memutuskan untuk membelot. Saya tidak percaya lagi dengan sekedar percakapan, sekedar diskusi, apalagi wacana. Ini saatnya harus ada pergerakan, harus tercipta suatu semangat pergerakan. Revolusi! Harus dilakukan revolusi melihat rakyat mulai kelaparan, mati kedinginan, dan tertidur di balik kardus. Saya pun meletakan pangkat saya dan mengganti pakaian mahal saya dan menyatu dengan rakyat. Saya mengumpulkan opini rakyat, mengumpulkan suara rakyat, dan berusaha menggerakan mereka untuk bisa membela hak mereka. Membela pertanggung jawaban dari pemerintah. Saya berteriak. Saya sekarang berpihak kepada rakyat, berpihak sebagai oposisi, berdemo di depan istana, berteriak di depan monas, berorasi di bunderan HI. Wartawan meliput aksi kami para rakyat yang sudah muak dengan ketidakpastian ini. PBB dan negara-negara asing juga sudah melirik masalah ini. Saya menekan pemerintah sekeras-kerasnya agar bisa segera melaksanakan kebijakan yang telah dijanjikannya. Saya bersuara vokal dan berdiri di barisan paling depan. Saya siap ditembak dari depan dan siap ditikam dari belakang. Tapi saya tidak takut, karena saya tidak akan mati selama rakyat masih terlantar.

April 1990, (scene 3: saya diculik dan dibungkam)

Nampaknya pemerintah sudah geram melihat aksi saya, apalagi mengetahui saya dulu salah satu menteri mereka. Tindakan demo terhadap pemerintah, orasi di jalan, penggalangan simpati dan suara, dan tindakan lainnya sudah dianggap personal oleh pak harto. Beliau menganggap saya meludah di mukanya. Hari ini tepat setelah diadakan pertemuan antara rakyat yang sudah mengamuk dengan pemerintah yang tidak mau disalahkan, rakyat kembali diberi janji oleh pemerintah. Rakyat kembali dibuai kata-kata Pak Harto akan tindakan nyatanya. Namun rakyat ada yang percaya ada yang tidak. Ada yang sudah antipati ada yang masih perduli. Yang pasti kali ini pemerintah menawarkan uang sebagai peredam amarah rakyat. Uang sebesar 3 Trilyun sebagai ongkos agar rakyat tidak memberontak. Agar rakyat memercayai perkataan pemerintah. Saya pun tidak masalah, 3 Trilyun jumlah yang pantas untuk menghidupi jelata. Namun tampaknya mereka tidak hanya meredam rakyat dengan uangnya, tapi pak harto dan kronco-kronconya berusaha meredam segala bentuk perlawanan rakyat  terhadap pemerintah lainnya. Salah satunya dengan membungkam saya. Saya sebagai orang yang paling vokal, orang yang paling depan dalam barisan, diculik dan dikeroyok. Di kerumanan algojo, ajudan, dan menteri-menterinya, pak Harto menuding-nuding saya. Saya berusaha memberikan fakta, tapi mata hatinya sudah buta karena emosi. Beliau tidak mau diktritik, tidak mau menerima oposisi atau perlawanan, beliaulah yang paling benar. Saya sendiri dan mereka beramai-ramai. Mereka menyuruh saya diam, menyuruh saya tidak menggerakan masa, dan menyuruh saya menghentikan tindakan saya. Mereka terus membela diri dan menyalahkan saya. Para gerombolan ini cukup pintar, memisahkan saya dari masa agar bisa membungkam saya. Oke, saya pun sudah terikat, sudah babak belur, dan tidak berdaya. Saya hanya bisa berkata iya. Saya akan diam, saya akan bungkam, dan saya akan mundur. Tapi tidak akan selamanya. Jika setitik saja saya temukan kejanggalan atau penyimpangan lagi, saya akan langsung berteriak. Jika ada sedikit saja ada pelanggaran atau ingkar, saya akan langsung menghancurkan istana dan melakukan kudeta. Jika pemerintah kali ini mampu berbuat benar, saya akan diam dan menurut, untuk rakyat. Tapi jika ada gerakan yang mengindikasikan kelalaian dari Pak Harto. Siap-siap, kali ini rakyat tidak akan terbendung lagi. Untuk terakhir kalinya saya mencoba memberikan kepercayaan kepada Pak harto kembali.

semoga saya tidak diburu karena membuat cerita versi saya ini sendiri

Saatnya Bayi Bersuara Di Pemilu 09/04/2009

Posted by ardisaz in Sosialita.
add a comment

Nampaknya pemilu 2009 ini sangat memilukan. Di saat orang-orang banyak yang antipati dengan pemungutan suara ini, panitia pemilihan umum juga tidak siap. Persiapan dari pihak panitia terlihat terburu-buru dan berantakan. Hal tersebut terlihat dari beberapa bagian yang tidak rapih. Seperti pada logistik, kotak suara di beberapa daerah menggunakan kardus bekas televisi, menggunakan kardus bekas kota bilik suara, menggunakan meja yang dibalik, dan lain-lain. Distribusi kertas suara juga tidak berjalan dengan baik. Beberapa surat suara tertukar dengan daerah lain. Lalu penanganan administrasi yang pasif dan tidak kondisional. Maksudnya adalah kita tidak dikoordinir dengan seksama dan pengurusan admnistrasi yang belibet. Yang paling mengenaskan adalah mengenai daftar pemilih tetap yang sangat aneh. Dari tempat saya menyontreng saja, sudah ada tetangga-tetangga saya yang mengalami masalah administrasi ini. Di RT sebelah, setengah warganya tidak terdaftar. Dari radio saya juga mendengar bahwa kasus serupa dialami oleh berbagai daerah di penjuru Indonesia. Kebetulan di radio tersebut menghadirkan seorang narasumber dari pihak panitia. Saya mendengar kasus-kasus serupa, permasalahan-permasalahan administrasi dan logistik, bahkan sampai bayi berumur 5 bulan pun tiba-tiba terdaftar sebagai pemilih. Namun saya sangat kecewa mendengar tanggapan dari sang narasumber, beliau nampak tidak ingin disalahkan dan terus-menerus menyalahkan para penanya dan pihak lain setiap kali menjawab pertanyaan. “Bapak coba cek lagi, mungkin bapak tidak teliti melihat nama bapak”, “seharusnya anda mengurus ini dari jauh-jauh hari”, “sebenernya kasus ini sering terjadi, tapi kali ini media masanya aja yang terlalu heboh. Kan partai-partai juga punya kepentingan sama kondisi ini”, dan lain-lain. Tidak ada pengakuan dari pihak panitia bahwa mereka kurang siap, kurang koordinasi, dan lain-lain. Tidak pula ada tindak lanjut dari panitia menyikapi kondisi ini. Siap-siap saja, saat pemilu presiden nanti TPU dipenuhi oleh balita yang menunggu untuk menyontreng presiden pilihannya.

Satu Nahkoda Tidak Bisa Mengemudikan Lima Kapal 02/04/2009

Posted by ardisaz in Suara Hati.
2 comments

Saya sedang melihat ke beberapa titik dan beberapa sudut di depan saya. Tidak terlihat ujungnya, penuh kabut yang menutupi. Tapi di ujung beberapa jalan tersebut terdapat harta karun dan emas yang berlimpah. Saya dibebani amanah untuk memimpin ekspedisi menelurusi jalan tersebut, namun ada banyak sekali rombongan di belakang saya. Yang manakah yang harus saya bantu untuk membuka jalan? Satu nahkoda tidak bisa mengemudikan lima kapal, andaikan dipaksakan, pasti tidak akan fokus. Hanya membuang tenaga dan bahkan bisa berefek buruk bagi tiap kapal yang dibawa. Belum lagi beberapa kapal memiliki tujuan yang bertolak belakang, beberapa malah memiliki kepenting yang sama yang dapat membuat satu sama lain bertubrukan lalu karam.

Saat ini saya masih berdiri di belakang garis, belum memegang kemudi ataupun mengarahkan. Rancangan perjalanan, peta, buku panduang, kru yang siap mendukung, sudah siaga di samping saya. Tapi kebimbangan muncul untuk bisa menentukan kapal mana yang akan saya labuhkan di pulau penuh harta tersebut. Kapal yang akan saya perjuangkan dengan jiwa dan raga saya untuk membuatnya tetap mengapung di tengah terjangan ombak. Kapal di mana hati saya menjadi jangkarnya dan nyawa saya menjadi layarnya.

Entah berapa lama saya bisa memaknai pilihan-pilihan ini sebelum semuanya menjadi terlambat. Diskusi-diskusi dengan para penguasa lautan, catatan-catatan harian mereka yang sudah berhasil, dan jebakan para perompak sedang saya pelajari. Saya masukan pikiran saya ke lingkungan penuh dengan pendapat dan opini berkeliaran, berharap agar menemukan makna dari kebimbangan ini untuk bisa menemukan kejayaan abadi.