jump to navigation

Baru Mulai Menonton Prison Break 24/06/2009

Posted by ardisaz in Film.
2 comments

Ini adalah kisah seseorang yang super jenius yang ingin menyelamatkan kakaknya dari hukuman mati yang tidak seharusnya dijatuhkan kepada kakaknya. Seorang adik yang memiliki rasa keperdulian yang besar, keberanian yang besar, dan kecerdasan yang luar biasa besar akan mengeluarkan kakaknya dari penjara sebelum tanggal dijatuhkannya hukuman mati kepada kakaknya yang telah dijebak. Kejeniusan itu tertlihat dari kepandaiannya dia merancang suatu rencana dan menganalisa keadaan. Matanya berbeda dengan mata orang biasa ketika melihat sesuatu. Ketika kita melihat sebuah objek, di otak kita akan terpikir benda apakah itu. Tapi di otaknya, ketika ia melihat suatu benda, ia akan dapat langsung mengalisis benda tersebut, fungsinya, bagaimana cara kerjanya dan lain-lain. Ia juga memiliki hafalan yang sangat kuat.

Dengan modal kecerdasan dan keberaniannya itu, dia masuk ke penjara yang sama seperti kakaknya untuk mengeluarkan kakaknya dari penjara. Segala rencana untuk mengeluarkan kakaknya dari penjara pun telah tersusun rapih. Berbagai metode yang tak pernah terpikirkan sebelumnya dilakukan olehnya. Namun banyak sekali intrik dan rintangan di dalam penjara. Perselisihan antar geng, pengawasan dari kepala sipir yang mulai curiga, badan intelegen nasional yang terus menutupi kasus tersebut, dan berbagai permasalahn menghadang proses pelariannya dan kakaknya keluar penjara. Di sanalah letak nilai lebih film prison break, ketika perang analisis, adu kecerdasan, dan pertarungan mental terjadi.

Saya Berkaca Dan Memperbaiki Diri 19/06/2009

Posted by ardisaz in Suara Hati.
add a comment

Musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri. Kadang secara tidak sadar kita bisa dijatuhkan oleh kelemahan diri kita sendiri. Terkadang pun kita tidak menyadari potensi apa yang ada di dalam diri kita. Lalu kepada siapa kita bisa bercermin dan menelaah kekurangan dan kelebihan kita?

Saya berterimakasih banyak kepada semua teman-teman saya, sahabat-sahabat saya, mereka yang telah bersedia memberikan cermin kepada saya melalui komentar mereka di halaman salam kenal. Mereka telah menunjukan kepada saya gambaran potensi yang baik maupun yang buruk yang ada pada saya berdasarkan pengalaman mereka berinteraksi dengan saya. Banyak hal yang menusuk, menampar saya, menyadarkan saya, dan membuat saya mampu untuk terus interopeksi diri. Kritikan, komentar, dan tanggapan yang ada benar-benar membangun saya membuat mata saya terbuka lebar. Mereka menunjukan letak kekeroposan dan juga kekosongan yang ada di dalam diri saya. Mereka juga membantu saya menemukan kekuatan yang ada pada saya. Tak ada tempat untuk berkaca diri yang lebih baik selain berkaca kepada kerabat kita, sahabat kita, dan lingkungan tempat kita berinteraksi.

Saya berjanji demi sahabat-sahabat saya yang telah mendukung saya untuk terus berusaha memerbaiki diri. Karena saya ingin bisa menjadi “seseorang” yang besar dan juga bermanfaat bagi semua. Inilah tangga pembelajaran. Karena nantinya, dibalik kekuatan yang besar tersimpan tanggung jawab yang lebih besar pula. Semakin tinggi pohon, semakin keras angin menghadang. Oleh karena itu saya harus terus belajar dan memperbaiki karakter. Untuk itulah saya tidak bisa sendiri. Sahabat-sahabat saya telah membantu saya berdiri sampai sini. Mereka yang mengingatkan saya ketika saya keluar jalur. Mereka yang menopang saya ketika saya jatuh. Maka dari itu saya belajar dan terus berkaca. Agar nantinya saya bisa membalas kebaikan dan perhatian semua sahabat saya dan  masyarakat di sekitar saya lebih besar lagi. Agar nantinya saya bisa berbuat banyak untuk dunia dan merubahnya menjadi lebih baik lagi.

Ahmadinejad, Kamuflase Politik Ataukah Propaganda Media 19/06/2009

Posted by ardisaz in Sosialita.
1 comment so far

Jutaan rakyat Iran berdemo dengan anarkis melihat hasil pemilihan umum. Ahmadinejad mendapat suara terbanyak untuk pemilihan kali ini. Namun nampaknya masyarakat merasa ada kecurangan dalam pemilihan tersebut. Dilansir bahwasannya banyak yang tidak mendukung beliau, tapi beliau bisa mendapatkan kemenangan yang besar. Dan saat ini terjadi berbagai polemik atas kejadian tersebut. Ada satu pendapat yang mengatakan bahwa sang pemimpin yang sederhana, tegas, dan merakyat ini hanyalah kamuflase politik. Ada juga yang mengatakan demo yang terjadi adalah akibat propaganda media barat.

Ahmadinejad yang terlihat sederhana, hidup tidak bermewah-mewahan, dan tegas ini nampaknya dianggap oleh beberapa pihak sebagai kamuflase politik. Dengan memajukan sosok dan karakter pemimpin idaman, diharapkan beliau mendapat simpati dan sambutan hangat dari berbagai pihak. Memang itu kenyataannya, sosok beliau telah menjadi sosok yang disegani dan dihormati. Tapi beberapa media membuka sebuah analisis baru bahwasannya itu hanyalah sebuah tipuan. Karena dari luar beliau tampak sangat menawan, namun “dalamnya” tidak sehebat penampilannya. Media tersebut memaparkan kekurangan-kekurangan beliau selama masa pemerintahan. Mulai dari janji-janji yang tidak ditepati, keadaan ekonomi yang memburuk, dan lain-lain. Atas alasan itulah rakyat iran mengamuk.

Namun ada pihak lain yang menyanggah tuduhan tersebut. Kebobrokan yang terjadi bukanlah akibat kecurangan. Kekurangan pada pemerintahan bukanlah hasil dari kelemahan sang pemimpin negara semata. Kegoyahan ekonomi adalah hal yang wajar mengingat Iran berdiri dan menantang negara-negara adikuasa. Tentulah terjadi embargo dan boikot besar-besaran bagi Iran yang sedikit banyak menggoyahkan politik ekonomi Iran. Negara-negara rival pasti gentar dan takut dengan keberanian Ahmadinejad, oleh karena itu mereka melakukan misi-misi terselubung melalui media dan propaganda lainnya. Seperti ketika mereka menghancurkan Soekarno karena berani melawan kekuasaan negara adikuasa. Bahkan ditemukan bukti bahwa foto riot di Iran merupakan editing hasil sebuah olah digital (jadi ingat kamuflase Amerika mendarat di Bulan).

Jadi apakah politik di Iran memang sebuah kamuflase ataukah Iran sedang dikikis melalui propaganda media? Tidak ada yang tahu dengan pasti. Yang pasti hal tersebut merupakan konspirasi tingkat tinggi yang sedang terjadi. Semoga yang benar dimenangkan dan yang salah diberikan ganjaran yang sesuai.

Liburan Ku Yang Malang 17/06/2009

Posted by ardisaz in Suara Hati.
1 comment so far

Konon orang dahulu berkata bahwa ketika menjadi mahasiswa, liburan paling menyenangkan adalah kenaikan tingkat karena waktunya panjang (sumber: tidak ada). Kalau dihitung-hitung memang panjang, hampir tiga bulan (dari awal Juni sampai pertengahan Agustus). Dan begitu pula lah seharusnya saya menghabiskan liburan ini. Dengan bersantai di rumah, berjalan-jalan dengan keluarga dan teman lama, reuni, berwisata, dan lain-lain.

Tapi kenyataannya liburan kali ini tidak demikian. Saya baru bisa pulang ke rumah hari Jumat tanggal 12 Juni. Namun saya sudah harus kembali lagi ke kampus tanggal 22 Juni. Ada rentetan acara Diklat PROKM (ospek untuk mahasiswa baru) – pertengahan Juni, durasi 2 bulan, SPARTA (ospek jurusan untuk saya) pertengahan Juli, durasi dirahasiakan, PROKM sendiri – pertengahan Agustus, durasi satu Minggu, lalu mulai masuk kuliah lagi. Belum lagi ketika saya nanti ke Bandung (22 Juni), belum tentu kamar saya yang sedang direnovasi (karena kamar saya banyak cacatnya dan mumpung lagi libur panjang) sudah selesai. Musti minggat kosan dulu nampaknya.

Sekarang hanya bisa berjuang. Nikmati sisa liburan ini dengan damai dan tenang agar bisa kembali ke rutinitas kampus dengan semangat membara dan mata berbinar.

Tren Baru Dalam Kampanye 17/06/2009

Posted by ardisaz in Sosialita.
add a comment

Musim kampanye memang unik dan menarik. Wajah-wajah yang lama terpendam di dalam kemelut dan rusaknya negara ini kini tiba-tiba muncul ke permukaan. Muncul dengan muka cerah nan menawan lalu menyanyikan janji-janjinya. Dari tahun ke tahun, drama umbar janji sudah sering kami lihat. Demikian juga dialog-dialog yang penuh dengan kalimat rayuan gombalan artis pemerintahan. Namun ada satu lagi tren yang muncul, yaitu tren mengklaim peristiwa.

Setelah kebudayan diklaim, makanan diklaim, saat ini peristiwa politik pun diklaim. Mulai dari penurunan harga BBM, bantuan langsung tunai, hingga masalah perdamaian di Aceh, masing-masing orang yang memiliki kepentingan berebut nama di atas pentas tersebut. Nampaknya belum ada hak paten peristiwa politik untuk bisa mengklaim suatu peristiwa menjadi atas nama pribadi.

Silahkan bapak-bapak dan ibu-ibu bertinju di atas ring, mau menyerang dengan debat, kampanye, klaim, atau apapun, nampaknya semakin alot bapak dan ibu bersengketa, media akan semakin bersahabat dengan anda. Musim kampanye membuat kantong-kantong wartawan dan reporter menebal. Terima kasih wahai bapak dan ibu capres-cawapres. Setidaknya ada pihak yang tersenyum melihat pergulatan anda sekalian.

Saya berhutang 100 juta rupiah 16/06/2009

Posted by ardisaz in Sosialita.
add a comment

Berkuliah di perguruan tinggi negeri memiliki sebuah beban tersendiri. Selain kewajiban menuntut ilmu, ada juga kewajiban lain yang dengan mau tidak mau menjadi tanggungan seluruh mahasiswa yang berkuliah di perguruan tinggi negeri. Dari mana kewajiban itu datang? Perhitungan kasarnya kurang lebih seperti ini. Saya berkuliah membayar iuran (SPP) 2,5 juta persemester, satu tahun 5 juta rupiah, dan empat tahun 20 juta rupiah. Namun pada kenyataannya, biaya operasional seorang mahasiswa untuk belajar di perguruan tinggi negeri (terutama favorit) adalah sekitar 30 juta rupiah pertahun. Jadi dalam satu tahun saya berhutang 25 juta rupiah. Kepada siapakah saya berhutang?

Salah satu sumber yang membiayai pendidikan adalah pajak. Pajak berperan sangat besar karena dialokasikan dengen persentase yang cukup besar untuk pendidikan. Siapakah yang membayar pajak? Seluruh rakyat Indonesia membayar pajak. Ketika ada tukang becak membeli sabun, ketika ada ibu-ibu yang membeli mesin cuci, bahkan orang termiskinpun masih harus membayar pajak (baik secara langsung maupun tak langsung). Kepada merekalah kita berhutang dan harus melunasinya. Kita berkuliah karena rakyat.

Pertanyaannya, jikalau kita tiap tahun dibiayai rakyat 25 juta, lalu ketika rakyat membutuhkan bantuan dari mahasiswa namun mahasiswanya sibuk memperkaya diri dengan ilmu agar bisa memperoleh ijazah, jabatan, dan kekayaan untuk dirinya sendiri, kata-kata apakah yang tepat untuk menggambarkan mahasiswa tersebut? Atau mungkin sang mahasiswa menyia-nyiakan waktu kuliahnya untuk bermain? Ketahuilah, jika bukan rakyat yang menuntut, utang tersebut akan dituntut di akhirat nanti.

Lalu bagaimanakah cara kita membayar hutang tersebut? Dimulai dari niat, niatkan pendidikan yang kita ambil ini untuk mengabdikan diri kita kepada masyarakat. Lalu kongkretkan tindakan tersebut, salurkan apa yang bisa kita berikan dari sekarang. Bisa melalui organisasi kampus (KM, BEM, dll), himpunan keprofesian, unit kegiatan mahasiswa, dll. Berikan apa yang kita punya walaupun sederhana. Banyak sektor yang bisa kita sokong selaku mahasiswa untuk membantu masyarakat luas. Gunakanlah status mahasiswa sebaik-baiknya dan bayarlah hutang tersebut dengan menjadi mahasiswa sejati.

Saya Memetik Pelajaran Dari PLO: 4. Pengembangan Potensi Dalam Diri 04/06/2009

Posted by ardisaz in Pengembangan diri.
add a comment

Setiap manusia dilahirkan ke bumi dengan unik. Unik berarti memiki ciri, kelebihan, maupun kekurangan masing-masing yang tiap orang belum tentu sama. Satu orang bisa memiliki keahlian yang orang lain tidak miliki dan bisa juga tidak memiliki kemampuan yang orang lain punyai. Baik itu merupakan kondisi fisik, kecerdasan, bakat, minat, karakter, dan lain-lain. Untuk itu penting bagi kita agar dapat mengetahui potensi yang ada di dalam diri kita sendiri. Agar nantinya kita bisa mengambil jalan hidup yang sesuai dengan karakter sejati diri kita. Kemudian ada pertanyaan, bagaimana cara kita menyikapi kelebihan dan kekurangan kita? Apakah kita harus memperbaiki kelemahan kita dan memiliki semua kemampuan yang ada, atau kita fokus untuk mengembangkan kelebihan kita sendiri?

Untuk menggambarkan kondisi tersebut, ada sebuah cerita yang dapat menganalogikan hal tersebut. Suatu ketika, ada si A. yang mampu mengetik dengan cepat. Kecepatan mengetiknya diatas 300 wpm. Lalu ada si B yang kemampuan mengetiknya di bawah 40 wpm. Ketika diadakan lomba, tentu si B kalah dengan si A. Lalu kedua orang tersebut diberi pelatihan intensif mengetik. Setelah melalui proses pelatihan, begitu dilihat, ternyata yang mengalami peningkatan kemampuan mengetik yang terbesar adalah si A yang mampu mengetik dengan cepat.

Dari cerita tersebut, diambil kesimpulan bahwa kita lebih baik fokus terhadap apa yang menjadi minat dan bakat kita. Namun ada sebuah ambang batas minimal di mana kita harus tetap memiliki keahlian di bidang lain juga. Karena penerapan potensi yang kita miliki pasti akan berhubungan dengan kemampuan lain. Sehingga tetap saja pengetahuan dan keterampilan di bidang lain tetap dibutuhkan disamping kita fokus mempertajam kelebihan yang kita miliki.

Saya Memetik Pelajaran Dari PLO: 3. Generasi Kami Imun Akan Indoktrinasi, Intimidasi, Dan Pengkondisian 04/06/2009

Posted by ardisaz in Pengembangan diri.
2 comments

Era informasi membuat generasi kami menerima berbagai input dari berbagai kultur budaya. Salah satu pengaruh budaya terkental yang dirasakan adalah budaya barat, terutama jiwa sekulerisme. Yaitu ketika kami, generasi yang besar di lingkungan yang penuh dengan arus informasi, menjadi bergaya hidup individualis, materialis, dan hedonis. Hal tersebut melunturkan sedikit banyak jiwa nasionalisme dan juga nilai-nilai luhur tradisi bangsa kita.

Pada PLO ini, banyak sekali nilai-nilai yang berusaha dipaparkan kepada para mahasiswa untuk menjadi bahan referensi, pertimbangan, dan pembuka paradigma. Diharapkan PLO ini dapat membangkitkan kembali rasa kebanggaan sebagai warga negara Indonesia, rasa memiliki sesama bangsa, rasa keperdulian terhadap masyarakat, dan yang terpenting memberikan kami visi yang jelas tentang peran kami sebagai mahasiswa. PLO ini mencoba mengarahkan kami kepada definisi jati diri mahasiswa sejati.

Metode yang digunakan pun beragam-ragam. Baik menggunakan games, seminar, mentoring, pengkondisian, dan lain-lain. Untuk games, seminar, dan mentoring tidak akan banyak saya komentari, karena beberapa hal masih mampu menyampaikan maksud dan tujuan dari PLO ini. Yang menarik untuk dibahas adalah metode penanaman nilai melalui pengkondisian yang disetting, disertai intimidasi dari pendidik (panitia PLO), dan penanaman nilai melalui proses doktrinasi satu arah. Hal tersebut seperti halnya yang terjadi pada hari ke dua PLO, di mana di akhir sesi para peserta dibariskan. Kemudian dikondisikan oleh komandan lapangan agar situasi menjadi tegang melalui suara dengan nada yang tinggi. Panitia-panitia berdiri melingkari barisan peserta. Lalu dikondisi yang sudah terkondisikan tersebut, sang komandan berniat menanamkan nilai kebersamaan di jiwa peserta PLO. Yaitu dengan mengkritisi barisan yang tidak rapih dan mengomentari ketidak lengkapan jumlah peserta. Panitia di luar barisan masih tetap membangun suasana tegang dengan melakukan interupsi dan pernyataan yang memojokan ketidak kompakan kami. Bahkan komandan lapangan menantang kekompakan kami. Hingga akhirnya sesi tersebut berakhir.

Namun di akhir sesi, saya berbincang-bincang dengan teman-teman saya yang lain. Saya penasaran dengan nilai apakah yang akhirnya tertanam dari sesi tadi. Ternyata bukannya nilai kekompakan dan semangat yang saya lihat, tapi justru kekesalan dan kejengkelan yang saya dapatkan. Banyak yang merasa bahwa pengkondisian seperti itu, intimidasi, dan juga doktrin satu arah tersebut belum efektif untuk mengompakan angkatan. Banyak yang akhirnya malah kehilangan respek dengan panitia bahkan seluruh acara. Tidak heran peserta yang hadir keesokan harinya lebih sedikit dari hari sebelumnya. Rupanya proses pembelajaran melalui pengkondisian seperti itu kurang cocok untuk sebagian besar dari generasi kami.

Dari kekecawaan dan kekesalan teman-teman lainnya, saya memperoleh beberapa poin yang menarik yang bisa dijadikan solusi. Ternyata bagi kebanyakan dari kami, proses penanaman nilai dan pembelajaran akan lebih mudah diterima melalui proses pendekatan persuasif dan kondisi yang natural. Seperti ketika mentoring, atau bisa juga melalui acara makan-makan santai sembari sharing bersama panitia mengenai nilai-nilai tersebut. Kemudian gaya komunikasi di lapangan yang seolah-olah membangun “jarak” antara peserta dan panitia justru membuat peserta kehilangan respek dan rasa hormat dengan panitia. Cara yang paling tepat justru dengan memberikan apresiasi, penghargaan, dan perhatian terhadap peserta. Dengan berusaha menyatu dengan peserta dan menghargai mereka, ternyata hal tersebut membuat peserta menjadi lebih menghargai panitia dan juga acara. Jika bai