jump to navigation

Ketika Rezim Soeharto Bangkit Kembali 27/10/2009

Posted by ardisaz in Sosialita.
1 comment so far

kampus ku memiliki tradisi, setiap 3 kali dalam setahun diadakan festival perayaan bagi mahasiswanya yang telah lulus pergi meninggalkan bangku kuliahnya. Tradisi yang biasa dinamakan arak-arakan ini merupakan bentuk apresiasi mahasiswa kepada wisudawan yang selama masa baktinya menjadi mahasiswa telah mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk membenahi indonesia baik secara langsung maupun tak langsung. Arak-arakan ini berbentuk seperti karnaval dimana setiap himpunan keprofesian di kampus ku mengiringi wisudawan keluar dari gedung tempat mereka menjalani prosesi wisudaan.

Namun semenjak beberapa kali terjadi peristiwa yang tidak mencerminkan sosok mahasiswa yang sesungguhnya, pihak-pihak petinggi dengan tangan dingin menghapus total agenda dan isu arak-arakan dari prosesi wisudaan. Tak hanya itu, mereka melarang kegiatan terorganisir apapun yang diadakan oleh himpunan pada hari Sabtu. Keputusan ini membuat saya teringat era rezim soeharto dimana mahasiswa tidak boleh berserikat ataupun terlihat berkumpul, dan nampaknya kini rezim itu lahir kembali. Mahasiswa yang terlihat menggunakan atribut himpunannya, himpunan yang terlihat berkumpul, dan mengadakan kegiatan akan diberi sangsi yang sangat keras, skorsing hingga drop out.

Kami pun dengan terpaksa dan berat hati mengurungkan niat untuk mengorganisir sebuah acara. Namun kami masih ingin memberikan apresiasi dan salam perpisahan terbaik kami kepada keluarga kami yang akan berjuang di dunia luar. Akhirnya kami memutuskan untuk menyambut keluarga kami dengan sambutan ringan dan membantu para wisudawan yang ingin menyampaikan salam terakhirnya di kampus ini. Namun karena mata-mata berada di mana-mana, seluruh akses di kampus dikunci bagi segala bentuk kegiatan. Kami tidak bisa memakai atribut kami untuk mencari keluarga para wisudawan, kami tidak bisa menggunakan kendaraan untuk mengantar orang tua wisudawan, bahkan kami tidak mendapatkan tempat untuk orang tua wisudawan beramah tamah dengan keluarga kami.

Alhasil, ketika hari H, orang tua wisudawan yang sudah menghormati prosesi wisudaan dengan pakaian yang rapih, mereka harus mendapatkan perlakuan tidak pantas dari sang pemegang kekuasaan. Para orang tua hanya bisa menunggu anaknya di emperan gedung beralaskan koran. Siapa yang tidak sedih dan tidak teriris hatinya melihat  orang-orang yang telah mendidik dan membesarkan calon penerus bangsa diperlakukan seperti itu. Ada dimanakah hati para penunggu kursi-kursi empuk di gedung berpatung gajah itu? Bahkan memberikan tempat bagi orang tua untuk beramah-tamah pun tidak bersedia. Apakah ada yang salah dengan memberikan perlakuan spesial kepada orang tua wisudawan?

Semoga pemimpin kampus ku yang baru nanti merupakan pemimpin yang memiliki mata hati. Pemimpin yang bisa dengan segera menghapuskan rezim soeharto di kampus kami. Pemimpin yang bisa menjunjung undang-undang dasar negara dan menjaga hak asasi manusia.

Memandang Himpunan Lebih Luas Lagi 19/10/2009

Posted by ardisaz in Sosialita, Suara Hati.
add a comment

Sudah hampir satu setengah tahun saya berkuliah di ITB. Selama saya belajar di kampus tersebut, kata himpunan merupakan kata yang penuh dengan nilai prestisius, kebanggaan,  dan bargain yang tinggi. Sebenarnya yang melandasi himpunan di ITB adalah kesamaan bidang keprofesian yang menyatukan masing-masing himpunan. Atas dasar keseragaman tersebutlah masing-masing bidang ilmu berkumpul dan berorganisasi bersama-sama. Tradisi ini merekat kian dalam dan kian kuat dalam siklus sosial yang ada di kampus ITB sehingga saat ini himpunan memiliki posisi yang tinggi di mata mahasiswanya. Mahasiswa rela melewati proses kaderisasi yang melelahkan, menghadapi setumpuk tugas dari senior, dan memakan agitasi tiap malamnya demi menjadi bagian dari himpunan. Tidak heran jika mereka yang tergabung dalam himpunan memiliki loyalitas yang tinggi, persaudaraan yang erat, kebersamaan yang kuat, dan lain sebagainya.

Namun sayang sekali terdapat sebuah ketidak tepatan pemposisian himpunan dalam langkah gerakan mahasiswa. Himpunan seharusnya menjadi wadah, atau alat, bagi mahasiswa yang satu profesi untuk bergerak bersama, berhimpun, untuk memajukan bangsa Indonesia. Kata MAHA di depan siswa merupakan tanggung jawab lebih yang secara suka tidak suka tertimbun di pundak setiap mahasiswa untuk bisa membayar “hutang” kepada masyarakat yang mensubsidi mereka. Mahasiswa harus bertanggung jawab terhadap kursi yang telah ia rebut dari ratusan ribu anak bangsa lainnya. Oleh karena itu, sudah seharusnya lah himpunan itu menjadi wadah bagi mahasiswa untuk bisa menjalankan kewajiban dan tanggung jawabnya.

Penyimpangan yang banyak terjadi di dalam himpunan adalah ketidaksadaran himpunan tersebut bahwasannya mereka tidak bergerak kemana-mana. Ada himpunan yang sibuk memikirkan kondisi internalnya sendiri atau bahkan ada yang sibuk “mengurusi” himpunan lainnya. Buat apa suatu himpunan memiliki struktur organisasi yang baik, memiliki AD/ART yang tanpa celah, memiliki kekompakan yang erat, namun tidak bisa berbuat banyak untuk lingkungan sekitarnya? Buat apa kaderisasi yang penuh keringat itu diadakan jika lulus nanti menjadi sarjana yang oportunis dan materialis? Tentu loyalitas terhadap himpunan perlu adanya, namun fanatisme terhadap himpunan janganlah sampai tumbuh. Jaket kita boleh berbeda-beda, itu menunjukan identitas siapa kita dan apa keahlian kita, namun bendera yang diusung hanya satu, bendera merah putih. Bukan masing-masing mengagungkan bendera himpunannya dan menyimpan bendera kebangsaan kita di dalam lemarinya.Apalagi jika panji-panji himpunan tersebut berseteru di lapangan layaknya suku barbar tiap 3 kali setahun. Seharusnya, semangat dan niat merah putih lah yang harusnya ada dibalik selubung jaket himpunan yang berwarna-warni itu.

Saya cinta himpunan saya, tapi saya di dalamnya bukan untuk memajukan himpunan saya semata. Bukan hanya untuk mengeksiskan himpunan saya semata. Bukan hanya untuk sounding himpunan saya ke lingkungan sekitar saja. Himpunan hanyalah alat, hanyalah wadah, hanyalah sebuah media, yang mendidik anggotanya untuk melihat realita, yang menanamkan jiwa sosial, yang melatih hardskill, softskill, dan lifeskill kita. Tapi itu semua dilakukan bukan sekedar untuk kebesaran ataupun kemajuan  himpunannya sendiri, tapi itu semua merupakan proses pendidikan agar kita siap untuk berperan di masyarakat nantinya. Himpunan juga merupakan jalan bagi mereka yang memiliki keahlian di bidang tertentu agar bisa bermanfaat dan dapat disalurkan untuk orang banyak. Dan himpunan adalah tempat saya melaksanakan kewajiban saya sebagai mahasiswa, mengabdi, dan membayar hutang saya kepada masyarakat.

untuk tuhan, bangsa, dan almamater