Demokrasi Ku Demokrasi Indonesia 12/11/2009
Posted by ardisaz in Belajar, Sosialita.add a comment

Dalam perlajanannya, Indonesia telah mengalami empak kali masa demokrasi dengan berbagai versi. Yang pertama demokrasi liberal ketika masa kemerdakaan Indonesia, kemudian demokrasi terpimpin ketika pemerintahan Bapak Mantan Presiden R. I Soekarno, lalu demokrasi pancasila pada era Soeharto, dan yang terakhir adalah demokrasi transisi yang sedang kita alami sekarang ini.
Pada intinya, demokrasi adalah suatu sistem pemerintahan dimana rakyat lah yang berkuasa. Slogan yang terkenal adalah dari rakyat, untuk rakyat, dan oleh rakyat. Pada sistem pemerintahan demokrasi di Indonesia, kita memiliki trias politik. Yaitu tiga lembaga tinggi yang saling independen dan perannya untuk menjalankan tugasnya dan saling mengawasi. Lembaga tersebut adalah eksekutif, legislative, dan yudikatif.
Ada kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh sistem demokrasi yang ada di Indonesia. Kelebihannya adalah dengan sistem demokrasi, segala keputusan yang terjadi haruslah diputuskan atau disetujui oleh masyarakat umum. Hal ini menyebabkan minimnya kemungkinan munculnya pemimpin Negara yang sewenang-wenang dan cenderung mendiktatori Indonesia. Dengan seluruh rakyat Indonesia sebagai kuncinya, maka kebijakan yang dapat mencederai rakyat sangatlah tidak mungkin bisa dieksekusi. Dengan sistem demokrasi pun, karena sebuah keputusan lahir dari kekuatan suara terbanyak, maka kemungkinan untuk sebuah keputusan untuk dilaksanakan dan terealisasi sangatlah besar. Mayoritas suara berarti mayoritas rakyatlah yang akan menjadi perealisasi sebuah keputusan. Sehingga tidak mungkin terjadi terpilihnya sebuah keputusan yang mana mayoritas rakyat menolak untuk melaksanakannya. Kemudian di Negara demokrasi, setiap individu memiliki hak yang sama untuk bersuara. Dengan kata lain, setiap orang bisa memberikan kritiknya, menambahkan saran, memberik masukan, dan solusi. Akibatnya adalah opsi dan pemikiran dari sebuah permasalahan akan semakin melebar dan banyak jalan keluarnya. Hal ini membuat permasalah yang ada akan lebih mudah untuk dientaskan.
Kemudian mengenai kekurangan sistem demokrasi, ada slogan dari pengamat politik Inggris yang berbunyi, “demokrasi artinya mengubah sistem Negara dari yang tadinya segelintir orang-orang korup yang memimpin bangsa, menjadi sekumpulan orang-orang yang bodoh”. Maksud dari perkataan itu adalah, ketika seluruh rakyat memiliki hak yang sama, hal ini berarti dalam mata hukum seseorang dipandang memiliki kualitas yang sama baik itu dari segi intelektual, emosi,stamina, dan fisik. Sehingga ketika suara mayoritas adalah suara orang-orang yang tidak paham akan hukum dan politik, bisa jadi keputusan yang diambil adalah keputusan yang nantinya malah membawa Indonesia ke dalam jurang kenistaan. Kenyataan bahwa kebenaran adalah suara terbanyak adalah hal yang jelas-jelas sangat tidak logis. Ketika mayoritas Negara diisi oleh orang-orang yang memiliki standar kualitas manusia yang rendah, pendidikan yang kurang, ekonomi yang mendekati ambang batas, dan emosi yang sangat eksplosif, apakah dapat dikatakan suara mayoritas adalah suara “tuhan”?
Itu mengapa sistem demokrasi yang sekarang ada merupakan demokrasi transisi. Kita sebagai Negara berkembang, masih memperbaiki berbagai sektor demi menuju demokrasi yang ideal. Sektor terpenting dan vital yang harus perbaiki adalah sistem birokrasi pemerintahan dan Sumber daya manusia. Nampak kedua hal tersebut adalah hal yang berat mengingat kita masih memiliki segudang permasalahan di bidang pendidikan, ekonomi, dan kesejahteraan. Namun dibalik itu, semangat berdemokrasi dan semangat untuk menuju Negara yang lebih baik sangatlah besar. Kita sebagai Negara dengan jumlah populasi terbanyak ke empat di dunia telah menunjukan kepada dunia apa itu demokrasi. Walopun masih terpincang-pincang dan banyak bolong sana-sini dalam sistem ini, tapi kita sudah bisa menyelenggarakan pemilihan umum dengan jumlah partai yang sangat banyak dan pelaksanaan pemilihan yang berjalan damai dan tentram. Di mata dunia, demokrasi yang kita laksanakan telah mendapat penghargaan. Semoga ke depannya, kita bisa segera menambal kekurangan-kekurangan yang ada di sistem demokrasi kita demi terciptanya Indonesia yang lebih baik.
tugas kewarganegaraan 12/11/09
Negeri Para Bedebah 09/11/2009
Posted by ardisaz in Sosialita.add a comment

“Negeri para bedebah”
oleh Adhie M Massardi
Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor
menjatuhkan bebatuan menyala-nyala
Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau menjadi kuli di negeri orang
Yang upahnya serapah dan bogem mentah
Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedangkan rakyatnya hanya bisa pasrah
Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya
Maka bila melihat negeri dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi, dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan !
Ketika Rezim Soeharto Bangkit Kembali 27/10/2009
Posted by ardisaz in Sosialita.1 comment so far

kampus ku memiliki tradisi, setiap 3 kali dalam setahun diadakan festival perayaan bagi mahasiswanya yang telah lulus pergi meninggalkan bangku kuliahnya. Tradisi yang biasa dinamakan arak-arakan ini merupakan bentuk apresiasi mahasiswa kepada wisudawan yang selama masa baktinya menjadi mahasiswa telah mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk membenahi indonesia baik secara langsung maupun tak langsung. Arak-arakan ini berbentuk seperti karnaval dimana setiap himpunan keprofesian di kampus ku mengiringi wisudawan keluar dari gedung tempat mereka menjalani prosesi wisudaan.
Namun semenjak beberapa kali terjadi peristiwa yang tidak mencerminkan sosok mahasiswa yang sesungguhnya, pihak-pihak petinggi dengan tangan dingin menghapus total agenda dan isu arak-arakan dari prosesi wisudaan. Tak hanya itu, mereka melarang kegiatan terorganisir apapun yang diadakan oleh himpunan pada hari Sabtu. Keputusan ini membuat saya teringat era rezim soeharto dimana mahasiswa tidak boleh berserikat ataupun terlihat berkumpul, dan nampaknya kini rezim itu lahir kembali. Mahasiswa yang terlihat menggunakan atribut himpunannya, himpunan yang terlihat berkumpul, dan mengadakan kegiatan akan diberi sangsi yang sangat keras, skorsing hingga drop out.
Kami pun dengan terpaksa dan berat hati mengurungkan niat untuk mengorganisir sebuah acara. Namun kami masih ingin memberikan apresiasi dan salam perpisahan terbaik kami kepada keluarga kami yang akan berjuang di dunia luar. Akhirnya kami memutuskan untuk menyambut keluarga kami dengan sambutan ringan dan membantu para wisudawan yang ingin menyampaikan salam terakhirnya di kampus ini. Namun karena mata-mata berada di mana-mana, seluruh akses di kampus dikunci bagi segala bentuk kegiatan. Kami tidak bisa memakai atribut kami untuk mencari keluarga para wisudawan, kami tidak bisa menggunakan kendaraan untuk mengantar orang tua wisudawan, bahkan kami tidak mendapatkan tempat untuk orang tua wisudawan beramah tamah dengan keluarga kami.
Alhasil, ketika hari H, orang tua wisudawan yang sudah menghormati prosesi wisudaan dengan pakaian yang rapih, mereka harus mendapatkan perlakuan tidak pantas dari sang pemegang kekuasaan. Para orang tua hanya bisa menunggu anaknya di emperan gedung beralaskan koran. Siapa yang tidak sedih dan tidak teriris hatinya melihat orang-orang yang telah mendidik dan membesarkan calon penerus bangsa diperlakukan seperti itu. Ada dimanakah hati para penunggu kursi-kursi empuk di gedung berpatung gajah itu? Bahkan memberikan tempat bagi orang tua untuk beramah-tamah pun tidak bersedia. Apakah ada yang salah dengan memberikan perlakuan spesial kepada orang tua wisudawan?
Semoga pemimpin kampus ku yang baru nanti merupakan pemimpin yang memiliki mata hati. Pemimpin yang bisa dengan segera menghapuskan rezim soeharto di kampus kami. Pemimpin yang bisa menjunjung undang-undang dasar negara dan menjaga hak asasi manusia.
Memandang Himpunan Lebih Luas Lagi 19/10/2009
Posted by ardisaz in Sosialita, Suara Hati.add a comment

Sudah hampir satu setengah tahun saya berkuliah di ITB. Selama saya belajar di kampus tersebut, kata himpunan merupakan kata yang penuh dengan nilai prestisius, kebanggaan, dan bargain yang tinggi. Sebenarnya yang melandasi himpunan di ITB adalah kesamaan bidang keprofesian yang menyatukan masing-masing himpunan. Atas dasar keseragaman tersebutlah masing-masing bidang ilmu berkumpul dan berorganisasi bersama-sama. Tradisi ini merekat kian dalam dan kian kuat dalam siklus sosial yang ada di kampus ITB sehingga saat ini himpunan memiliki posisi yang tinggi di mata mahasiswanya. Mahasiswa rela melewati proses kaderisasi yang melelahkan, menghadapi setumpuk tugas dari senior, dan memakan agitasi tiap malamnya demi menjadi bagian dari himpunan. Tidak heran jika mereka yang tergabung dalam himpunan memiliki loyalitas yang tinggi, persaudaraan yang erat, kebersamaan yang kuat, dan lain sebagainya.
Namun sayang sekali terdapat sebuah ketidak tepatan pemposisian himpunan dalam langkah gerakan mahasiswa. Himpunan seharusnya menjadi wadah, atau alat, bagi mahasiswa yang satu profesi untuk bergerak bersama, berhimpun, untuk memajukan bangsa Indonesia. Kata MAHA di depan siswa merupakan tanggung jawab lebih yang secara suka tidak suka tertimbun di pundak setiap mahasiswa untuk bisa membayar “hutang” kepada masyarakat yang mensubsidi mereka. Mahasiswa harus bertanggung jawab terhadap kursi yang telah ia rebut dari ratusan ribu anak bangsa lainnya. Oleh karena itu, sudah seharusnya lah himpunan itu menjadi wadah bagi mahasiswa untuk bisa menjalankan kewajiban dan tanggung jawabnya.
Penyimpangan yang banyak terjadi di dalam himpunan adalah ketidaksadaran himpunan tersebut bahwasannya mereka tidak bergerak kemana-mana. Ada himpunan yang sibuk memikirkan kondisi internalnya sendiri atau bahkan ada yang sibuk “mengurusi” himpunan lainnya. Buat apa suatu himpunan memiliki struktur organisasi yang baik, memiliki AD/ART yang tanpa celah, memiliki kekompakan yang erat, namun tidak bisa berbuat banyak untuk lingkungan sekitarnya? Buat apa kaderisasi yang penuh keringat itu diadakan jika lulus nanti menjadi sarjana yang oportunis dan materialis? Tentu loyalitas terhadap himpunan perlu adanya, namun fanatisme terhadap himpunan janganlah sampai tumbuh. Jaket kita boleh berbeda-beda, itu menunjukan identitas siapa kita dan apa keahlian kita, namun bendera yang diusung hanya satu, bendera merah putih. Bukan masing-masing mengagungkan bendera himpunannya dan menyimpan bendera kebangsaan kita di dalam lemarinya.Apalagi jika panji-panji himpunan tersebut berseteru di lapangan layaknya suku barbar tiap 3 kali setahun. Seharusnya, semangat dan niat merah putih lah yang harusnya ada dibalik selubung jaket himpunan yang berwarna-warni itu.
Saya cinta himpunan saya, tapi saya di dalamnya bukan untuk memajukan himpunan saya semata. Bukan hanya untuk mengeksiskan himpunan saya semata. Bukan hanya untuk sounding himpunan saya ke lingkungan sekitar saja. Himpunan hanyalah alat, hanyalah wadah, hanyalah sebuah media, yang mendidik anggotanya untuk melihat realita, yang menanamkan jiwa sosial, yang melatih hardskill, softskill, dan lifeskill kita. Tapi itu semua dilakukan bukan sekedar untuk kebesaran ataupun kemajuan himpunannya sendiri, tapi itu semua merupakan proses pendidikan agar kita siap untuk berperan di masyarakat nantinya. Himpunan juga merupakan jalan bagi mereka yang memiliki keahlian di bidang tertentu agar bisa bermanfaat dan dapat disalurkan untuk orang banyak. Dan himpunan adalah tempat saya melaksanakan kewajiban saya sebagai mahasiswa, mengabdi, dan membayar hutang saya kepada masyarakat.
untuk tuhan, bangsa, dan almamater
Berhenti Berteriak Dan Mulai Bertindak 12/09/2009
Posted by ardisaz in Sosialita.add a comment

Media saat ini tengah sibuk menyulut api kemarahan akan klaim budaya yang dilakukan negara tetangga. Masyarakat Indonesia yang mudah terprovokasi pun demikian cepatnya memaki membabi buta negara tetangga dengan segala cara dan kesoktahuannya. Dengan dalih nasionalisme, gerakan dan rancangan dibuat. Yang sesungguhnya entah kenapa tiba-tiba rasa nasionalisme yang sudah bertahun-tahun dilupakan ini muncul. Oleh karena itu, berterimakasihlah kepada negara tetangga yang telah memunculkan semangat nasionalisme dan berbudaya kita, bangsa Indonesia. Berterimakasihlah kepada media yang telah berhasil mencari kambing hitam atas kelalaian kita menjaga budaya sendiri.
Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya? Membuat tank untuk menghancurkan si kambing hitam? Membuat gerakan massal mempropaganda seluruh dunia mengenai kebejatan sang pencuri budaya? Atau mau melakukan serangan-serangan anarkis melalui berbagai sektor? Namun sebelum tenggelam dalam emosi yang lebih dalam, coba tilik lagi ke dalam. Coba berkaca kembali melihat diri kita masing-masing. Budaya yang saat ini dicuri, sudahkah kita mengenalnya? Apakah kita benar-benar tahu apa yang dimaksud dengan tarian tradisional tersebut? Apakah kita bisa menyanyikan lagi budaya yang katanya milik kita tersebut? Apakah kita memang perdulia dengan budaya kita? Oleh karena itu, daripada kita melakukan tindakan anarkis, memaki-maki, dan sebagainya. Marilah kita gali lagi, ingat-ingat kembali, dan pelajari lagi budaya yang nyaris hilang tersebut. Gunakan momentum ini untuk berkegiatan yang dapat meroketkan budaya-budaya kita. Berhentilah memaki dan membenci asing, mulalah mencintai dan mempelajari budaya sendiri.
gambar dari http://casablankka.files.wordpress.com
Revolusi Arah Gerakan Baru Mahasiswa 08/09/2009
Posted by ardisaz in Sosialita.add a comment

Imej yang dulu ditimbulkan oleh mahasiswa adalah aktifis yang vokal dan kritis dalam mendampingi tumbuhnya pemerintahan Indonesia. Dahulu, di tengah kesemena-menaan pemerintah mendiktatori masyarakat bodoh di Indonesia, mahasiswa sebagai kaum terpelajar dan terdidik melakukan perlawanan mewakili rakyat yang ditindas. Mahasiswa muncul sebagai pahlawan bagi rakyat pada saat itu, dipuja-puja dan diharapkan. Hingga seiring berjalannya waktu, masyakarat Indonesia semakin menjadi pintar, semakin kritis, dan berwawasan. Di saat yang berparalel tersebut, idealisme dan kecerdasaan mahasiswa mulai masuk mengakar di pemerintahan dan menggiring ke arah stabilisasi di roda kepemerintahan Indonesia. Kebijakan-kebijakan pun dapat secara terbuka didiskusikan dan dikaji bersama. Tidak ada lagi tindakan semena-mena dan pembodohan mental yang bisa terjadi di Indonesia dengan mudah. Sistem yang terbentuk sekarang mampu mengkover bibit-bibit yang dulu pernah menjajah Indonsia.
Lalu apakah dengan kondisi yang tengah statis seperti sekarang ini, peran mahasiswa telah berakhir? Agent of change sudah tidak dibutuhkan untuk menjadi oposisi maupun pendamping pemerintah seintens dahulu. Semangat kemahasiswaan yang dahulu bergelora untuk memerangi musuh yang terlihat, gairah untuk turun ke jalan, masuk ke rakyat, dan menyatukan suara kini tak dapat diangkat apresiasi lagi. Justru demo mahasiswa saat ini memberi kesan negatif dan memperburuk citra mahasiswa. Ditambah lagi ikon buruk yang dicetak oleh mahasiswa tidak terdidik yang malah melakukan anarkisme di jalan-jalan. Akhirnya mahasiswa kehilangan semangat, motivasi, dan antusiasme untuk bergerak bersama lagi.
Namun ternyata, musuh itu belumlah habis. Saat ini kita, Indonesia menghadapi musuh yang tidak terlihat namun sangat berbahaya. Sesuatu yang harus dihadapi bersama dan bergandengan tangan dengan semangat kemahasiswaan yang dahulu. Peran mahasiswa masih dibutuhkan untuk menangkal serangan tak terlihat ini. Yaitu persaingan dalam ilmu pengetahuan, inovasi, dan kreasi yang dibungkus dalam keprofesian. Inilah gerakan mahasiswa yang baru. Gerakan keprofesian yang mampu membawa Indonesia menuju hari yang lebih cerah. Sekarang bukan saatnya mahasiswa bersatu, berteriak membawa panji sambil mengepalkan tangan. Tapi sekarang adalah saatnya mahasiswa bersatu, menggali kreatifitas untuk membuat inovasi, penemuan, ide-ide, dan karya yang dapat menaikan harkat negara. Sekarang adalah eranya ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu, yang saat ini diperlukan oleh mahasiswa adalah kesadaran dan pencerdasan akan hal tersebut. Mahasiswa-mahasiswa yang tengah tidur dan kehilangan api semangatnya patut kita bangunkan kembali. Mari kita sadarkan dan kita rangkul seluruh teman-teman kita untuk bersama-sama bergerak mencetak penemuan baru. Mari kita bersama melakukan revolusi arah gerak mahasiswa menuju gerakan karya, kreatifitas, dan inovasi.
Malaysia Versus Indonesia??? 03/09/2009
Posted by ardisaz in Sosialita.add a comment

Saat ini pertiakaian antara Malaysia dengan Indonesia semakin memanas dan menjadi-jadi. Tak perlu banyak membahas sudut pandang Malaysia, tapi di Indonesia, tiba-tiba rasa benci dan marah meledak sebegitu murkanya terhadap Malaysia. Mulai dari kasus penklaiman budaya, kasus TKI, hingga kasus Manohara. Pada hari ulang tahun Malaysia pun, ratusan situs Malaysia diserbu oleh hacker Indonesia. Forum-forum dimana-mana menjelekan dan mencaci-maki Malaysia. Namun sebelum kita menggemborkan emosi lebih tinggi lagi, saya ingin berbagi sebuah perspektif yang berbeda mengenai kasus pertikaian dua negara ini. Sebuah sudut pandang yang dilihat dari orang Indonesia yang tinggal di Malaysia yang saya copy dari milis.
—-Original Message—–
From: xxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxx xxxx
Sent: Tuesday, September 01, 2009 8:32 AM
To: xxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxx
Subject: Indonesia vs Malaysia ??Dear All,
Karena ga bisa tidur lagi habis sahur, iseng2 saya bikin tulisan ini deh, mumpung proposal tender udah beres semua (semoga goal) hehehe.
Mengingat pula akhir2 ini saya dengar konflictnya makin panas aja, dan kita yang punya interest lsg di Msia (banyak yg nanyain pula). Jadi bagaimana bersikap? Dari pada saya jawab satu2, saya publish aja disini. Tulisan ini berdasarkan pengalaman saya slama bbrp tahun “dibuang” di KLSaya bagi tulisan ini jadi beberapa topik berdasarkan permasalahan. . dan mungkin teman2 nanti bisa cerita ke yang lain mengenai apa sih yg sebenarnya terjadi.
1. Claim Budaya
Tidak diragukan memang Malaysia mengklaim banya budaya yg bersumber dari kita, ada rendang, batik, keris, lagu rasa sayange, reog, angklung, dan yg terakhir tari pendet. Kita semua atas nama nasionalisme lsg panas memaki-maki Malaysia. Tapi coba kalau saya tanya : memang tahu gitu yg mana tarian pendet? Terus apa bedanya sama tari legong… nah ga tau kan, dan saya brani taruhan cuma (sebuah nama Bali–sensor) yang tahu
)
Terus yang kita proteskan apa kalo kita sendiri juga ga tahu, tapi tiba2 merasa memiliki ketika ada pihak lain yg mengklaim (padahal ngga)
Kita merasa bangga, tapi apa yg kita banggakan juga kita ga tahu
Saya saja yang dulu jaman SD slalu didapuk utk tari Jaranan dan ikut lomba2 juga ga panas kok ngeliat tari Jaranan dimainkan sama org Msia. Menurut saya jika Msia mau mempelajari budaya2 tsb dari pada nunggu pemerintah keburu punah. Apalagi Msia marketing brandingnya serius, sampe gandeng discovery channel sgala. Trus knapa kita yang punya sendiri malah cuek? Sebuah ironi bukan?
Kalaupun dilihat dari track sejarah, orang Msia juga turunan orang2
Indonesia. Bahkan saya beberapa ngobrol sama client yg berbeda pake bahasa Jawa karena bapak simbah mereka dari jawa dan masih berbahasa Jawa. Saya jadi mikir2, misalkan [nama Perusahaan X--sensor] Malaysia masih bisa terus survive sampai puluhan tahun ke depan (amin), dan karena saya asli jawa, dan karena kakek nenek buyut saya adalah pemain ketoprak dan dalang, sehingga mau ga mau saya ajarin anak saya semua kesenian itu, dan kemudian dia tularkan di sekolahnya nanti. Sekarang akan ada pertanyaan, pantaskan kita marah jika ketoprak/dalang di tumbuh menjamur di Msia? OK, asalnya dari Indonesia, tapi kalo misalkan nanti diadu, antara anak saya dan anaknya Pak XXXXXX, siapa yang kira2 bakal lebih jago pengetahuannya soal wayang? Hehehehe….)
Jadi jelas ya, ga usah berpanas2 ria, lihat diri sendiri, sudahkah kita menghargai budaya sendiri? Minimal.. sudahkah kita kasih nama anak kita pake nama asli budaya kita? yang jawa kasih nama jawa, yang sunda ya kasih nama sunda kekekekek…
) Saya jadi kebayang, suatu hari nanti, turis2 bule kagum sama tari2an malaysia, terus kita panas. Kita bilang dengan lantang : Mister, those cultural dancing is originated from Indonesia, Msia just stole it from us. Bulenya bilang : Oh really, ok then you dance those cultural dancing for me please. Kita kemudian bengong.. waduh piye yo? Oooo suruh XXXXXXXXXX aja, dia kan jawa banget.. wah XXXXXXXXXX lagi di Malaysia…
)
2. TKI
Silahkan melihat secara obyektif. Saya bisa bilang bahwa yang bermasalah ya TKI nya sendiri. FYI org Msia kalau mau ambil pembantu Indo harus bayar agen RM 5000 (hampir Rp15juta), skrg lihat apakah agen PJTKI memberikan pelatihan yg cukup? Ya bayangkan sendiri, TKI dr kampung, plonga-plongo, dapet majikan China, minimal bahasa bakal jadi kendala, plus kendala penggunaan alat2 dapur yg relatif canggih (microwave, toaster dll), ditambah si majikan sudah membayar mahal. Ya bisa dibayangkan lah apa yg terjadi.. Itu belum lagi kebanyakan majikan gonta-ganti pembantu krn bermasalah, misal kabur, minta pulang, kena penyakit dll. Dan tiap ganti ya harus bayar lagi. Client saya (melayu), sampe pernah ganti pembantu 10 kali (kalo ditotal > 100 jt rupiah bok ongkos agennya). Tapi untung dia ga sampe ngamuk.
Kebetulan saya pun bawa pembantu. Istri saya suka marah2 karena pembantunya rada oon. Diajarin ga ngerti2. Saya bilang ke istri saya, kamu yg bahasanya sama, dari daerah yg sama, dan hanya keluar ongkos tiket pesawat bisa ngamuk2. Coba kalu harus bayar 15juta, pasti si pembantu udah di “chudan tsuki” dari kemaren2 ya. Istri saya jawab : IYA
Nah solusi yang tepat ya seharusnya si agen2 memberikan pelatihan, minimal BAHASA INGGRIS lah biar minimal komunikasi tidak terkendala. Kendala komunikasi selalu akan jadi pemicu masalah2 yg laen. Hmmmm..sound familiar ya (o ya.. eBdesk ya hahahahaha). Makanya mari pakai Bahasa Inggris biar tidak digebuki..kekeke. .
![]()
Soal liputan Metro TV yg memperlihatkan TKI digebukin. Saya sudah nemu
jawabannya : http://www.youtube. com/watch? v=wGqyhy3zVX8(diluar jam kerja ya!!!) Coba keraskan volume dan dengarkan percakapannya. Maka akan terdengar (saya kutip dr comment2) :
0:59 “Lo ganggu istri orang ha?”
5:08 “Istri orang diraba..”
5:15 “Berani bener raba istri orang, sehingga nangis..”
4:23 “Lo untung aja ada di Malaysia, kalo di negara arab pasti lebih teruk”Jadi org tersebut habis mengganggu istri orang dan ketangkep, dibawa ke pos (sepertinya satpam, bukan polisi saya lihat dr seragamnya) terus digebukin. Hmmm perasaan kalau di Indonesia sama juga ya, bahkan ada yg dibakar. Atau coba ingat2 kembali kasus STPDN hehehe…. Metro TV yang ga fair, saya lihat di websitenya, suara ga diperdengarkan. Apakah sekedar sensasi menaikan rating… mirip waktu penggrebekan teroris kmrn donk.. huh
O ya, sedikit cerita ttg saya, di tahun pertama saya nyaris terlibat
pengeroyokan oleh org2 TKI madura dan bisa2 saya diclurit, wassalam.
Saya biasa ikut TKI yg tukang maintenance apartment utk ke pasar malam org Indo, banyak makanan Indo disana. Suatu hari saya pulang kerja malem, jadi ga bisa ikut cuma nitip. Pas mau ambil titipan, ternyata si pekerja tsb sedang berdarah2 banyak, karena di pasar malam dihadang rombongan org madura yg berclurit. Padahal cuma kasus sepele.. Sejak saat itu saya lsg membatasi, ga sembarangan maen2 ke pasar malam.O ya gangster no 1 KL namanya geng Palembang, sudah bs dilihat siapa
anggotanya kan? Kemaren ada berita juga 2 org perampok asal Indo ditembak mati sehabis merampok dan membunuh yg punya rumah. Ada juga cerita dr partner XXXXXXXX. Suatu hari saya ke kantornya dan laptopnya baru. Saya bilang : wah baru ni. Dijawab : iya, seminggu lalu kawan2mu datang kerumah pinjam laptop. Maksudnya? Iya mereka datang bertiga, bawa parang, terus mengikat kami sekeluarga, laptop dan perhiasan diambil. Malu bukan??Ok, jadi untuk soal TKI saya harap rekan2 punya pandangan objective.
Tinggallah di KL selama bbrp tahun, kalian akan tahu sendiri dan malu
sendiri melihat masalah2 TKI. Jangan salahkan KBRI, mereka karena seringnya berurusan dgn TKI mungkin sampai hanya bisa bilang : ya wajar. Btw, saya justru mengapresiasi KBRI KL skrg. Kemaren bikin paspor anak, cuma 30 menit dan hanya bayar 18RM…![]()
Tidak usah panas2an atau maki2, malah bisa2 malu sendiri. Inget kasus
Manohara kan, diawal2 semua sok2an nasionalis, ganyang malaysia dll,
sekarang saya lihat malah justru rame2 memaki2 Manohara)
Sebenarnya saya pengen berbagi hal lain mengenai hebatnya visi Mahattir dalam membangun Malaysia, tapi mungkin di tulisan lain ya. Udah jam 9 di sini, saatnya keliling kejar setoran hehehhe…..
Regards.
Semoga sedikit gambaran tersebut bisa membuat kita lebih tenang dan tidak mudah terprovokasi. Jangan mau dibutakan oleh media informasi. Jika menemukan sedikit saja bau provokasi, mari segera kita palingkan emosi kita dan kembali berpikir dengan logika. Tunjukanlah kalau kita bangsa yang cerdas, terpelajar, dan berbudi. Coba dengan yang paling mudah, berhentilah menghujat atau menjelek-jelekan salah satu pihak dan bentengi diri agar tidak mudah dipancing emosinya. Malah harusnya kita bersyukur, dengan Malaysia mengklaim budaya kita, itu menambahkan awarenes kita dengan budaya kita sendiri.
Menjadi Bagian Dari Pelangi di ITB 03/09/2009
Posted by ardisaz in Sosialita.add a comment

ITB adalah kampus yang penuh dengan warna. Di balik tembok ganesha, terdapat banyak sekali dinamika yang menyala tanpa mengenal waktu. Dari gerbang depan hingga gerbang belakang pasti dipenuhi dengan aktifitas dari berbagai elemen. Mulai dari elemen akademisi, penelitian, himpunan, unit, dan lain-lain. Wadah-wadah tersebutlah yang menjadi pengembangan karakter, kepribadian, minat, juga bakat seseorang di kampus ganesha.
Ketika berjalan di ITB, kita layaknya melihat pelangi dengan berbagai warna yang dilambangkan dengan jaketnya. Baik itu rumpun keprofesian, rumpun budaya, rumpun seni, rumpun pendidikan, rumpun olahraga, dan rumpun lainnya, terpampang lebar-lebar dan dapat dilihat secara kasat mata. Corak-corak tersebut dibalut dan disatupadukan di bawah atap keluarga mahasiswa ITB (KM ITB) agar mampu berkolaborasi dan harmonis, layaknya pelangi yang dilukiskan di kanvas langit. Memang bukan hal yang mudah untuk menemukan benang merah dan menarik garis lurus antar tiap elemen agar mampu bersinkronisasi, tapi seiring berjalannya waktu, kemahasiswaan ITB sedang mengarah ke satu visi yang sama, kolaborasi. Secara perlahan, individualis, arogansi, dan fanatisme mulai dipangkas yang kemudian digantikan dengan kolaborasi, sinergisasi, dan harmonisasi dari masing-masing lembaga. Dan ke sanalah kami berjalan bersama saat ini, menuju satu Indonesia.
Saat ini, saya telah menjadi bagian dari pelangi tersebut. Himpunan saya di informatika (HMIF) dengan jaket berwarna hijaunya dan juga unit kegiatan menyelam saya (nautika ITB) dengan jaket putihnya kini menambah indahnya keharmonisan di ITB yang penuh warna. Saya pun akan segera menyatu dengan warna-warna lain di langit untuk menampilkan lukisan pelangi terindah kami.
Ahmadinejad, Kamuflase Politik Ataukah Propaganda Media 19/06/2009
Posted by ardisaz in Sosialita.1 comment so far

Jutaan rakyat Iran berdemo dengan anarkis melihat hasil pemilihan umum. Ahmadinejad mendapat suara terbanyak untuk pemilihan kali ini. Namun nampaknya masyarakat merasa ada kecurangan dalam pemilihan tersebut. Dilansir bahwasannya banyak yang tidak mendukung beliau, tapi beliau bisa mendapatkan kemenangan yang besar. Dan saat ini terjadi berbagai polemik atas kejadian tersebut. Ada satu pendapat yang mengatakan bahwa sang pemimpin yang sederhana, tegas, dan merakyat ini hanyalah kamuflase politik. Ada juga yang mengatakan demo yang terjadi adalah akibat propaganda media barat.
Ahmadinejad yang terlihat sederhana, hidup tidak bermewah-mewahan, dan tegas ini nampaknya dianggap oleh beberapa pihak sebagai kamuflase politik. Dengan memajukan sosok dan karakter pemimpin idaman, diharapkan beliau mendapat simpati dan sambutan hangat dari berbagai pihak. Memang itu kenyataannya, sosok beliau telah menjadi sosok yang disegani dan dihormati. Tapi beberapa media membuka sebuah analisis baru bahwasannya itu hanyalah sebuah tipuan. Karena dari luar beliau tampak sangat menawan, namun “dalamnya” tidak sehebat penampilannya. Media tersebut memaparkan kekurangan-kekurangan beliau selama masa pemerintahan. Mulai dari janji-janji yang tidak ditepati, keadaan ekonomi yang memburuk, dan lain-lain. Atas alasan itulah rakyat iran mengamuk.
Namun ada pihak lain yang menyanggah tuduhan tersebut. Kebobrokan yang terjadi bukanlah akibat kecurangan. Kekurangan pada pemerintahan bukanlah hasil dari kelemahan sang pemimpin negara semata. Kegoyahan ekonomi adalah hal yang wajar mengingat Iran berdiri dan menantang negara-negara adikuasa. Tentulah terjadi embargo dan boikot besar-besaran bagi Iran yang sedikit banyak menggoyahkan politik ekonomi Iran. Negara-negara rival pasti gentar dan takut dengan keberanian Ahmadinejad, oleh karena itu mereka melakukan misi-misi terselubung melalui media dan propaganda lainnya. Seperti ketika mereka menghancurkan Soekarno karena berani melawan kekuasaan negara adikuasa. Bahkan ditemukan bukti bahwa foto riot di Iran merupakan editing hasil sebuah olah digital (jadi ingat kamuflase Amerika mendarat di Bulan).
Jadi apakah politik di Iran memang sebuah kamuflase ataukah Iran sedang dikikis melalui propaganda media? Tidak ada yang tahu dengan pasti. Yang pasti hal tersebut merupakan konspirasi tingkat tinggi yang sedang terjadi. Semoga yang benar dimenangkan dan yang salah diberikan ganjaran yang sesuai.
Tren Baru Dalam Kampanye 17/06/2009
Posted by ardisaz in Sosialita.add a comment

Musim kampanye memang unik dan menarik. Wajah-wajah yang lama terpendam di dalam kemelut dan rusaknya negara ini kini tiba-tiba muncul ke permukaan. Muncul dengan muka cerah nan menawan lalu menyanyikan janji-janjinya. Dari tahun ke tahun, drama umbar janji sudah sering kami lihat. Demikian juga dialog-dialog yang penuh dengan kalimat rayuan gombalan artis pemerintahan. Namun ada satu lagi tren yang muncul, yaitu tren mengklaim peristiwa.
Setelah kebudayan diklaim, makanan diklaim, saat ini peristiwa politik pun diklaim. Mulai dari penurunan harga BBM, bantuan langsung tunai, hingga masalah perdamaian di Aceh, masing-masing orang yang memiliki kepentingan berebut nama di atas pentas tersebut. Nampaknya belum ada hak paten peristiwa politik untuk bisa mengklaim suatu peristiwa menjadi atas nama pribadi.
Silahkan bapak-bapak dan ibu-ibu bertinju di atas ring, mau menyerang dengan debat, kampanye, klaim, atau apapun, nampaknya semakin alot bapak dan ibu bersengketa, media akan semakin bersahabat dengan anda. Musim kampanye membuat kantong-kantong wartawan dan reporter menebal. Terima kasih wahai bapak dan ibu capres-cawapres. Setidaknya ada pihak yang tersenyum melihat pergulatan anda sekalian.
