jump to navigation

Saya Memetik Pelajaran Dari PLO: 4. Pengembangan Potensi Dalam Diri 04/06/2009

Posted by ardisaz in Pengembangan diri.
add a comment

Setiap manusia dilahirkan ke bumi dengan unik. Unik berarti memiki ciri, kelebihan, maupun kekurangan masing-masing yang tiap orang belum tentu sama. Satu orang bisa memiliki keahlian yang orang lain tidak miliki dan bisa juga tidak memiliki kemampuan yang orang lain punyai. Baik itu merupakan kondisi fisik, kecerdasan, bakat, minat, karakter, dan lain-lain. Untuk itu penting bagi kita agar dapat mengetahui potensi yang ada di dalam diri kita sendiri. Agar nantinya kita bisa mengambil jalan hidup yang sesuai dengan karakter sejati diri kita. Kemudian ada pertanyaan, bagaimana cara kita menyikapi kelebihan dan kekurangan kita? Apakah kita harus memperbaiki kelemahan kita dan memiliki semua kemampuan yang ada, atau kita fokus untuk mengembangkan kelebihan kita sendiri?

Untuk menggambarkan kondisi tersebut, ada sebuah cerita yang dapat menganalogikan hal tersebut. Suatu ketika, ada si A. yang mampu mengetik dengan cepat. Kecepatan mengetiknya diatas 300 wpm. Lalu ada si B yang kemampuan mengetiknya di bawah 40 wpm. Ketika diadakan lomba, tentu si B kalah dengan si A. Lalu kedua orang tersebut diberi pelatihan intensif mengetik. Setelah melalui proses pelatihan, begitu dilihat, ternyata yang mengalami peningkatan kemampuan mengetik yang terbesar adalah si A yang mampu mengetik dengan cepat.

Dari cerita tersebut, diambil kesimpulan bahwa kita lebih baik fokus terhadap apa yang menjadi minat dan bakat kita. Namun ada sebuah ambang batas minimal di mana kita harus tetap memiliki keahlian di bidang lain juga. Karena penerapan potensi yang kita miliki pasti akan berhubungan dengan kemampuan lain. Sehingga tetap saja pengetahuan dan keterampilan di bidang lain tetap dibutuhkan disamping kita fokus mempertajam kelebihan yang kita miliki.

Saya Memetik Pelajaran Dari PLO: 3. Generasi Kami Imun Akan Indoktrinasi, Intimidasi, Dan Pengkondisian 04/06/2009

Posted by ardisaz in Pengembangan diri.
2 comments

Era informasi membuat generasi kami menerima berbagai input dari berbagai kultur budaya. Salah satu pengaruh budaya terkental yang dirasakan adalah budaya barat, terutama jiwa sekulerisme. Yaitu ketika kami, generasi yang besar di lingkungan yang penuh dengan arus informasi, menjadi bergaya hidup individualis, materialis, dan hedonis. Hal tersebut melunturkan sedikit banyak jiwa nasionalisme dan juga nilai-nilai luhur tradisi bangsa kita.

Pada PLO ini, banyak sekali nilai-nilai yang berusaha dipaparkan kepada para mahasiswa untuk menjadi bahan referensi, pertimbangan, dan pembuka paradigma. Diharapkan PLO ini dapat membangkitkan kembali rasa kebanggaan sebagai warga negara Indonesia, rasa memiliki sesama bangsa, rasa keperdulian terhadap masyarakat, dan yang terpenting memberikan kami visi yang jelas tentang peran kami sebagai mahasiswa. PLO ini mencoba mengarahkan kami kepada definisi jati diri mahasiswa sejati.

Metode yang digunakan pun beragam-ragam. Baik menggunakan games, seminar, mentoring, pengkondisian, dan lain-lain. Untuk games, seminar, dan mentoring tidak akan banyak saya komentari, karena beberapa hal masih mampu menyampaikan maksud dan tujuan dari PLO ini. Yang menarik untuk dibahas adalah metode penanaman nilai melalui pengkondisian yang disetting, disertai intimidasi dari pendidik (panitia PLO), dan penanaman nilai melalui proses doktrinasi satu arah. Hal tersebut seperti halnya yang terjadi pada hari ke dua PLO, di mana di akhir sesi para peserta dibariskan. Kemudian dikondisikan oleh komandan lapangan agar situasi menjadi tegang melalui suara dengan nada yang tinggi. Panitia-panitia berdiri melingkari barisan peserta. Lalu dikondisi yang sudah terkondisikan tersebut, sang komandan berniat menanamkan nilai kebersamaan di jiwa peserta PLO. Yaitu dengan mengkritisi barisan yang tidak rapih dan mengomentari ketidak lengkapan jumlah peserta. Panitia di luar barisan masih tetap membangun suasana tegang dengan melakukan interupsi dan pernyataan yang memojokan ketidak kompakan kami. Bahkan komandan lapangan menantang kekompakan kami. Hingga akhirnya sesi tersebut berakhir.

Namun di akhir sesi, saya berbincang-bincang dengan teman-teman saya yang lain. Saya penasaran dengan nilai apakah yang akhirnya tertanam dari sesi tadi. Ternyata bukannya nilai kekompakan dan semangat yang saya lihat, tapi justru kekesalan dan kejengkelan yang saya dapatkan. Banyak yang merasa bahwa pengkondisian seperti itu, intimidasi, dan juga doktrin satu arah tersebut belum efektif untuk mengompakan angkatan. Banyak yang akhirnya malah kehilangan respek dengan panitia bahkan seluruh acara. Tidak heran peserta yang hadir keesokan harinya lebih sedikit dari hari sebelumnya. Rupanya proses pembelajaran melalui pengkondisian seperti itu kurang cocok untuk sebagian besar dari generasi kami.

Dari kekecawaan dan kekesalan teman-teman lainnya, saya memperoleh beberapa poin yang menarik yang bisa dijadikan solusi. Ternyata bagi kebanyakan dari kami, proses penanaman nilai dan pembelajaran akan lebih mudah diterima melalui proses pendekatan persuasif dan kondisi yang natural. Seperti ketika mentoring, atau bisa juga melalui acara makan-makan santai sembari sharing bersama panitia mengenai nilai-nilai tersebut. Kemudian gaya komunikasi di lapangan yang seolah-olah membangun “jarak” antara peserta dan panitia justru membuat peserta kehilangan respek dan rasa hormat dengan panitia. Cara yang paling tepat justru dengan memberikan apresiasi, penghargaan, dan perhatian terhadap peserta. Dengan berusaha menyatu dengan peserta dan menghargai mereka, ternyata hal tersebut membuat peserta menjadi lebih menghargai panitia dan juga acara. Jika bai

Saya Memetik Pelajaran Dari PLO: 2. Pentingnya Kaderisasi 24/05/2009

Posted by ardisaz in Pengembangan diri.
4 comments

Dalam PLO, terdapat satu sesi di mana para peserta dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil. Tiap kelompok terdiri dari 12 peserta, 1 mentor, dan 1 motivator. Pada sesi mentoring di hari pertama PLO, kegiatannya adalah membahas games-games yang sudah dilakukan. Kemudian mentor dari kelompok saya berbagi cerita tentang sebuah games di PLO.

Gamesnya setiap anak dari kelompok di beri kertas. Kemudian dibebaskan untuk memikirkan sebuah gambar yang ingin dibuatnya nanti. Namun setiap orang dibatasi hanya boleh membuat satu gambar saja (saya kurang ingat apakah itu satu objek atau satu garis saja). Kemudian kertas tersebut diserahkan ke orang di sebelahnya. Kemudian di kertas baru tersebut, kita diharuskan meneruskan gambar yang ada. Begitu seterusnya sampai kertas tersebut kembali ke kita lagi. Sebagian besar gambar melenceng jauh dari perkiraan awal. Yang seharusnya menggambar keadaan di kokpit pesawat, malah menjadi gambar pemandangan di sungai, dan lain-lain.

Poin pentingnya adalah bahwa jika kita ingin merancang sebuah organisasi yang mengalir (organisasi seperti OSIS atau himpunan di mana akan terus ada pergantian kepengurusan), diperlukan komunikasi dan orientasi terhadap arah organisasi tersebut. Sang calon penerus kepengurusan haruslah paham apa visi dan misi organisasi tersebut. Agar nantinya tidak terjadi salah paham. Dan yang pasti agar organisasi tersebut dapat terus berkembang sesuai dengan arah tujuan organisasi tersebut didirikan. Itulah mengapa pentingnya diadakan kaderisasi, sebuah orientasi penurunan nilai agar calon-calon penerus organisasi tersebut dapat memegang organisasi tersebut dengan baik nantinya.

Saya Memetik Pelajaran Dari PLO: 1. Cendekiawan dan Nelayan 20/05/2009

Posted by ardisaz in Pengembangan diri.
2 comments

Sebelum saya memulai, saya ingin menjelaskan terlebih dahulu apa itu PLO. PLO adalah profession and leadership orientation yang diadakan untuk kami, mahasiswa sekolah teknik elektro dan informatika ITB 2008, dari senior kami. Pembukaan sekaligus pertemuan pertama diadakan pada tanggal 10 Mei 2009. Dari pertemuan itu, saya banyak mendapat pelajaran yang membuka cakrawala saya. Saya akan membahas hal-hal yang menggugah idealisme dan prinsip saya dalam menjalani hidup.

Pelajaran pertama datang dari sebuah cerita di salah satu pos ketika diadakan amazing race (10 Mei 2009). Di pos ini terdengar sebuah kisah yang diceritakan oleh salah seorang senior saya. Seorang cendekiawan yang luar biasa pintar yang sedang melakukan perjalanan. Perjalanannya terhenti di pinggir pulau, di mana sebuah lautan yang luas menghalangi langkahnya untuk berjalan. Namun ia bertemu dengan seorang nelayan dan kapalnya. Sang cendekiawan tersebut memanggil sang nelayan dan meminta bantuan nelayan untuk menyebrangkannya ke pulau sebelah. Nelayan tersebut dengan senang hati mengantar cendekiawan tersebut. Di tengah perjalanan, sang cendekiawan bertanya kepada sang nelayan. “Apakah anda pernah belajar matematika?” Sang nelayan menjawab, “Saya tidak pernah mas”. Kemudian sang cendekiawa berkata “berarti anda telah kehilangan seperempat dari hidup anda”. Lalu sang cendekia kembali memamerkan keilmuannya dengan menanyakan kepada sang nelayan, “Apakah anda pernah belajar filsasat?”, kemudian sang nelayan menjawab “wah, saya juga tidak pernah belajar filsafat mas.” Dengan angkuh sang cendekiawan kembali berkomentar, “Berarti anda telah kehilangan seperempat dari hidup anda.”. Sang pelayan masih terus mendayuh kapal tersebut mengarungi lautan tersebut. Lalu sang cendekiawan kembali bertanya, “Pasti anda pernah belajar fisika kan?”, kemudian sang nelayan menjawab “waduh mas, saya mah tidak pernah belajar kayak begituan.”. Komentar cendekiawan tersebut pun serupa, “berarti anda telah kehilangan seperempat dari nyawa anda”. Lalu tiba-tiba angin kencang berhembus, ombak semakin tinggi, dan langit bergemuruh. Kapal terhantam ombak besar hingga hampir tenggelam. Sang cendekiawan sudah panik namun sang nelayan masih tetap tenang. Lalu sang nelayan bertanya, “Apakah mas bisa berenang?”, kemudian sang cendekiawan menjawab dengan panik “Tidak pak,,!!”, kemudian sang nelayan berkata, “Berarti anda akan kehilangan semua hidup anda“.

Pelajaran berharga dari cerita itu adalah bahwa kita, siapapun kita, jangan lah menganggap diri kita itu paling pintar. Janganlah kita merendahkan orang lain. Saya seorang mahasiswa yang mengemban pendidikan akademik yang dicap sebagai seorang cendekiawan, tidak boleh tenggelam dalam kesombongan dan menganggap orang lain lebih rendah. Setiap manusia itu unik, ia memiliki kelebihan masing-masing. Kita harus bisa menyadari hal tersebut dan menghargai setiap perbedaan yang ada. jadilah seperti padi. Padi yang semakin berisi semakin merunduk

gambar dari http://www.satudunia.net/

Belajar Dari Rendy Saputra (part 2 : Inti Bisnis) 28/04/2009

Posted by ardisaz in Pengembangan diri.
add a comment

Dalam dunia ini, terdapat empat spesies yang mengisi dunia kerja manusia. Employee (karyawan), Self Employee (Dokter, pengacara, dll), Business owner (pengusaha), dan investor. Employee adalah mereka yang bekerja untuk orang lain, self employee adalah mereka yang bekerja menggunakan keahlian mereka sendiri, business owner adalah mereka yang bekerja dengan sistem, dan investor adalah mereka yang bekerja dengan menitipkan uangnya kepada sebuah sistem bisnis. Dalam realita, jumlah business owner jauh lebih sedikit dari pada jumlah employee. Tapi hal tersebut tidak menjadikan employee lebih jelek atau lebih baik dari yang lainnya dan demikian sebaliknya. Namun Kang Rendy Saputra selaku seorang enterpreuner (yang berada di zona business owner) berbagi pengalamannya sebagai seorang pemilik perusahaan yang bersistem. Beliau bercerita tentang bagaimana untuk bisa menjadi seorang pebisnis berdasarkan pengalamannya.

Beliau berkisah tentang kenalannya yang  merupakan seseorang yang sedang merintis bisnis, anggap saja namanya ibu Sandra. Ibu Sandra adalah seorang ibu rumah tangga. Suatu ketika ia berniat untuk membuat sebuah usaha, usaha laundri. Kemudian ia meminta suaminya untuk membelikan sebuah mesin cuci yang bisa menggunakan air panas maupun air dingin untuk mencuci. Namun sang suami nampak tidak mendengarkannya dengan sungguh-sungguh dan berkata nanti akan dibelikan. Waktu berlalu dan janji sang suami belum juga ditepati. Akhirnya Ibu Sandra mengambil inisiatif nekat. Ia membuat brosur yang mempromosikan perusahaan laundrinya, “Sandra Laundri, menerima cuci air dingin dan air panas. Hubungi di …..”. Setelah mencetak 500 lembar, ia sebarkan brosur tersebut ke seluruh kota. Padahal alat untuk mencuci dengan air panas pun ia belum miliki. Setelah membagikan brosur tersebut, tiba-tiba ada yang menelpon nomer tersebut. “Sandra Laundri…?”, tanya suara tersebut dalam telepon. “Iya betul, ada yang bisa dibantu?” jawab Bu Sandra. “Kami mau laundri pakai air panas bisa?” tanya suara dari telepon tersebut. “Oh bisa!!!”, jawab Bu Sandra. “Bisa diambil sekarang barangnya bu?” tanya penelpon tersebut. “Bisa!! Bisa!!…” jawab Bu Sandra. Kemudian Bu Sandra pun langsung menuju tempat tersebut yang ternyata merupakan tempat SPA. Bu Sandra terkejut ternyata jumlah cuciannya ada tiga karung. Lalu dibawa pulanglah karung tersebut oleh Bu Sandra. Sesampainya di rumah, ia hanya memandangi cucian tersebut sambil menunggu sang suami pulang. Begitu sang suami tiba, ia terkejut. Bu Sandra menjelaskan bahwa karung tersebut adalah orderan. Sang suami kembali menanyakan orderan tersebut, orderan apakah gerangan? Lalu Bu Sandra menunjukan brosurnya dan menjelaskan apa yang telah dia lakukan. Kemudian karena sang suami juga merasa bersalah tidak membelikan mesin cuci tersebut, dicucilah karungan baju tersebut dengan air panas hasil memasak sendiri oleh pasangan suami istri tersebut. Singkat cerita, dari hasil coba-coba tersebut, saat ini Laundri Bu Sandra sudah memiliki puluhan mesin cuci dengan penghasilan puluhan juta rupiah. Inti sarinya adalah, untuk bisnis tidak perlu pintar, cukup mau mencoba dan berani gagal.

Orang yang sukses bukanlah orang yang dalam hidupnya tidak pernah gagal, tapi mereka yang mengalami ribuan kali kegagalan dan setiap kali mereka gagal, mereka bangkit kembali dan melangkah kembali.

Belajar Dari Rendy Saputra (part 1 ; Sudut Pandang) 23/04/2009

Posted by ardisaz in Pengembangan diri.
2 comments

Saya belajar dari sebuah seminar kecil dan singkat yang diadakan oleh fakultas tetangga. Saya sangat beruntung karena bisa belajar dari seseorang yang jaraknya tidak terlalu jauh, masih merintis karir, namun sudah memiliki prestasi yang sangat baik. Belia adalah Kang Rendy Saputra. Saat ini beliau berada di tingkat 4 yang nampaknya tidak akan ia selesaikan jenjang pendidikannya tersebut. Pemilik Saputra Empire Bisnis Grup ini nampak telah menemukan jalan hidupnya, yaitu di dunia enterpreuner. Kerajaan bisnisnya melahirkan sebuah lembaga bimbingan belajar ternama di kalangan mahasiswa ITB, sebuah food cort, sebuah sistem perparkiran, dan lain-lain. Lelaki berusia muda ini telah memilki karyawan berjumlah 40an orang. Di waktu yang sangat singkat ini, beliau berbagi pengalaman hidupnya yang sangat menarik. Yang pertama mengenai sudut pandang.

Persepsi dapat merubah sikap kita dalam menghadapi sesuatu. Itulah kata-kata pembuka yang mencoba mengantarkan saya mengupas lebih dalam tentang sudut pandang. Salah satu penyakit yang saat ini terjadi adalah, penyakit muslim miskin. Itu adalah sebuah sudut pandang yang salah terhadap uang. Sudut pandang tersebut terbentuk akibat beberapa hadits seperti rasul tidur dengan pelepah kurma, dapur rasul pernah tidak mengebul, doa “miskinkanlah aku” (agar tidak menanggung banyak pertanggungjawaban), dan lain-lain. Sehingga terdapat sebuah kontradiksi antara agama dengan dunia.

Namun Kang Rendy Saputra mencoba membantah persepsi tersebut dengan persepsi beliau. Bukti pertama, dahulu kala Islam sering berperang. Perang besar (ghazwan) atau kecil (syariyah, biasa disebut ekspedisi untuk mengintai situasi, kondisi, dan lain-lain). Perang besar bisa terjadi hampir 3 sampai 5 kali setahun sedangkan perang kecil berpuluh-puluh kali dalam setahun. Untuk berperang, rasul pasti membawa unta dan ribuan pasukan. Kemudian untuk menempuh perjalanan menuju lokasi perang juga membutuhkan waktu beberapa bulan. Sangat tidak mungkin perjalanan tersebut tanpa perbekalan dan properti. Pasti membutuhkan biaya yang sangat besar untuk mendanai hal tersebut, sehingga dapat disimpulkan bahwa umat islam itu kaya. Kehidupan Rasul boleh sederhana, tapi umat islam dalam kenyataannya kaya. Bukti kedua, untuk ibadah pun dibutuhkan uang. Contoh-contoh simpelnya, untuk beli pakaian agar bisa menutup aurat membutuhkan biaya, untuk berwudhu butuh air yang bersih yang harus diperoleh dengan biaya juga, sampai ke urusah umroh dan zakat yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit juga.

Oleh karena itu perlu diperbaiki sudut pandang tersebut. Umat islam harus cerdas dan kaya agar tidak tertindas dari kaum-kaum lain.

Seperti Apakah Pemimpin Itu? 23/01/2009

Posted by ardisaz in Pengembangan diri.
2 comments

Sebuah negara pasti memiliki seorang pemimpin negara, sebuah sekolah pasti memiliki kepala sekolah, sebuah geng pasti memiliki ketua geng, bahkan sampai sebuah kelas di sekolah dasar pun memiliki seorang ketua kelas. Dalam suatu komunitas, organisasi, atau perkumpulan, di dalamnya terdapat sejumlah besar orang yang di dalam kepalanya terdapat berbagai macam pikiran. Bahkan ada yang di dalam kepalanya tidak punya pikiran sama sekali. Sedang untuk bisa hidup harmonis, dibutuhkan keteraturan dalam menata kepala-kepala yang berbeda itu agar bisa membawa komunitas tersebut menuju arah yang semestinya. Sebagai contoh, di dalam sebuah sistem pendidikan suatu sekolah dasar, pastilah guru-guru di sana memiliki berbagai macam karakter, pemikiran, ideologi, kepercayaan, dan pikiran-pikiran lain di kepalanya. Namun perbedaan itu harus ditata agar arah sistem dari organisasi tersebut tercapai, yaitu pendidikan. Seorang pemimpin adalah maestro yang menentukan arah dari komunitas yang dibawanya.

Banyak sekali kriteria yang diperlukan untuk menjadi seorang pemimpin yang baik. Saya menemukan puluhan buku yang membantu kita mempelajari kepemimpinan. Bukan berarti dengan semaraknya buku-buku kepemimpinan membuat kita berpikiran bahwa jika semua orang ingin menjadi pemimpin, maka tidak ada yang bisa dipimpin. Justru di buku-buku tersebut dituliskan bahwa salah satu sifat yang diperlukan oleh seorang pemimpin adalah harus bisa memimpin dirinya sendiri dan mau dipimpin oleh orang lain. Dengan kesadaran akan sifat-sifat kepemimpinan yang diperlukan, maka kita pun akan semakin mudah untuk menentukan seorang pemimpin yang terbaik untuk semua.

Setiap pemimpin memiliki gaya dan cara masing-masing dalam memimpin. Ada yang pembawaannya keras, tegas, disiplin, tenang, santai, bersahabat, dan lain-lain. Tapi seorang pemimpin pastilah memiliki sebuah kharisma. Kharisma yang muncul dan terbentuk dari sikapnya sehari-hari, keputusan-keputasannya yang arif dan bijak, kepekaan dan kepeduliannya terhadap sekitar, juga keberaniannya dalam bertindak. Kemudian yang dibutuhkan dari seorang pemimpin salah satunya adalah sebuah visi atau arah.  Visi merupakan cita-cita atau tujuan mengenai akan dibawa kemanakah organisasi, komunitas, atau perkumpulan tersebut. Pemimpin yang besar adalah pemimpin yang memiliki visi yang besar dan juga realistis. Tentu visi yang dilengkapi dengan misi, atau cara-cara untuk menuju visi tersebut. Sehingga tidak hanya sekedar memberikan mimpi, tapi juga jalan untuk meraih impian tersebut.

Masih banyak lagi hal-hal yang harus dimiliki oleh pemimpin yang tidak bisa dibahas satu persatu, namun ada ringkasan menarik yang dapat menggambarkan figur seorang pemimpin atau leader. LEADER. (Love, Education, Altruistic, Dreams, Effective, Risks). Pemimpin yang mencintai komunitas yang ia bawa, yang selalu belajar dan belajar, yang memimpin dengan ikhlas dan tanpa pamrih, yang memiliki impian, cita-cita, atau visi yang baik, yang mampu memimpin dengan efektif, dan seorang yang berani menghadapi resiko sebagai seorang pemimpin.

(gambar dari http://www.everydaygivingblog.com/2008/02/leader-educated.html/)

Pentingnya informasi 03/01/2009

Posted by ardisaz in Pengembangan diri.
add a comment

Ada sebuah cerita menarik yang menggambarkan judul di atas.

Suatu saat, sepasang suami istri sedang berkendara menggunakan mobil bersama supirnya. Tiba-tiba sang suami berkata kepada sang supir “pak, tolong cari apotek terdekat secepatnya!” dengan nada agak panik. Lalu sang supir langsung mencari apotek terdekat dengan kecepatan tinggi. Setelah ketemu, mobil tersebut langsung parkir di depan apotek tersebut. Lalu suami tersebut segera membuka pintu dan menghampiri seorang apoteker yang sudah memperhatikan tingkah laku sang suami yang terlihat panik. Dengan nada terburu-buru, sang suami bertanya “Mbak, ada obat untuk cegukan tidak mbak?”

PLAK!!! Tiba-tiba pipi sang suami ditampar oleh sang apoteker

“Mengapa saya ditampar?” tanya sang suami keheranan sambil setengah marah

“Iya pak, klo cegukan, obatnya ya dikejutkan saja. Saya sengaja menampar bapak tanpa bilang-bilang agar bapak terkejut. Nah, sudah tidak cegukan lagi kan?” Jawab apoteker

Lalu sang suami berteriak “YANG CEGUKAN ITU ISTRI SAYA DI MOBIL”

———————————————————————————————————

Dari cerita tersebut dapat kita ambil hikmahnya adalah bahwa jika kita mendengar informasi, kita harus selidiki informasi tersebut dengan detil. Jangan terlalu tergesa-gesa mengambil keputusan. Di era informasi seperti ini, banyak kabar silih datang dan pergi. Sudah menjadi keharusan bagi kita untuk mencerna setiap informasi yang datang kepada kita secara teliti dan hati-hati.

Film kartun Di TV 31/12/2008

Posted by ardisaz in Pengembangan diri.
add a comment

Ada satu stasiun TV yang menampilkan film kartun 24 jam penuh di Indonesia. Berbagai film kartun (sebagian besar kartun jepang) bergiliran mengisi layar kaca. Bisakah kita mengungkap makna di balik stasiun TV tersebut? Apakah sekedar komersial belaka? Ataukah ada niat terselubung dibalik itu?

Saya langsung berikan contoh nyatanya. Seorang anak berumur 8 tahun duduk di kelas 4 SD. Sepulang sekolah, ia biasa bermain bersama teman-teman, atau belajar bahasa inggris di klub bahasa inggris untuk anak-anak, atau belajar mengaji di sore hari bersama ustad. Rutinitas tersebut berlangsung cukup lama sehingga sang anak tumbuh menjadi anak yang tidak hanya pintar, tapi juga cerdas. Namun tiba-tiba muncul stasiun TV yang menghadirkan film-film kartun anak. Akibatnya, anak tersebut dan juga teman-temannya menjadi jarang bermain bersama, ia juga meminta untuk berhenti belajar bahasa inggris karena ada tayangan kartun baru di sore hari. Belum lagi penayangan film favorite anak di jam 6 sampai jam 7 malam, yang menyebabkan sang anak menjadi menunda-nunda sholat dan malas belajar. Kalau hal seperti ini dibiarkan, berapa banyak anak-anak penerus bangsa yg otaknya penuh dengan cerita-cerita kartun? berapa banyak dari mereka yang akhirnya menjadi bodoh? kalau begitu, apakah penayangan saluran TV tersebut dapat memajukan bangsa atau malah menghancurkan indonesia?