Merekam Mimpi Di Atas Kertas 25/03/2009
Posted by ardisaz in Imajinasi.add a comment

Terinspirasi dari mantan guru bahasa Inggris saya di tempat les saya dahulu yang berasal dari Kanada, namanya Mr. Jason, dia dahulu menunjukan kepada murid-muridnya sebagian kecil tumpukan buku mimpinya. Buku itu dia buat semenjak dia kecil. Setiap bangun tidur, hal yang pertama dia lakukan adalah mengambil pena dan buku yang sudah dipersiapkannya di samping tempat tidurnya dan langsung menaruh mimpinya yang baru saja dia alami dalam sebuah buku. Ada tulisan-tulisan berupa cerita, gambar-gambar, dan lain-lain. Katanya semua orang pasti mengalami mimpi tiap tidurnya. Tapi tidak semua orang bisa mengingat mimpinya setiap kali bangun tidur. Bahkan ketika ingat pun, lama kelamaan akan menguap terhapus waktu. Jadi menuangkannya ke dalam kertas adalah hal yang paling baik untuk bisa mengingat terus mimpinya. Nampaknya saya menjadi tertarik melakukan hal tersebut mengingat belakangan ini saya mengalami mimpi-mimpi yang unik. Mungkin nantinya bisa menemukan pola tertentu dari mimpi kita, atau mungkin saya bisa jadi penafsir mimpi nantinya. Yang jelas saya tidak ingin membiarkan khayalan dan cerita-cerita unik dari mimpi saya hilang begitu saja.
Saya Adalah Son Go Ku Yang Akan Menghancurkan Israel 18/01/2009
Posted by ardisaz in Imajinasi.7 comments

Suatu pagi saya terbangun dari mimpi dan tersadar, doa saya telah dikabulkan, saya diberi kekuatan menjadi Son Go Ku. Tubuh saya terasa berenergi, otot-otot perut saya mengeras, seluruh panca indera saya menjadi lebih peka. Saya langsung berdiri setengah tidak percaya dengan apa yang terjadi pada diri saya. Saya coba alirkan luapan energi dari dalam tubuh saya ke tangan kanan saya, saya sangat terkejut, muncul sebuah bola yang bersinar, meletup-letup seperti api, terlihat sangat berenergi dan menghancurkan. Saya coba lepaskan lagi kumpulan tenaga itu dan bola api tersebut menghilang. Saya langsung menyalakan TV dan melihat berita. Disiarkan langsung dari jalur gaza, puluhan tank, pesawat tempur, dan ratusan prajurit sedang membantai warga sipil di sana. Saya pejamkan mata saya, saya hirup udara dalam-dalam sambil membayangkan tempat tersebut, tiba-tiba saya dapat merasakan pancaran energi yang satu persatu menghilang dengan cepatnya. Tidak salah lagi, di situlah tempatnya. Saya coba memfokuskan pikiran saya, dan tiba-tiba, tubuh saya seakan tersedot dengan kencangnya. Angin menjadi sangat kencang. Begitu saya membuka mata saya, saya sudah berada di antara puing-puing gedung yang hancur. Suara senapan dan bom bergantian menggelegar di langit. Saya melihat puluhan orang berlarian dengan panik. Anak-anak kecil lari terpincang-pincang sambil dilindungi oleh ibunya. Tampak seorang ayah yang berlari di belakang rombongan keluarga. Sesekali ia berhenti untuk melempar batu ke arah pasukan Israel lalu kembali berlari. DOR!!! Tiba-tiba saya melihat ada seorang prajurit yang mengarahkan senapannya ke arah lelaki itu. Lelaki itu terjatuh dengan darah berlumuran di mana-mana. Nampak anggota keluarga yang lain menghampirinya, namun tak lama setelah itu tembakan-tembakan berikutnya terdengar. Lengkap sudah nyawa satu keluarga hilang begitu saja. Setelah membantai habis satu keluarga itu, sang prajurit melihat ke arah saya. Tanpa pikir panjang ia langsung menembakan senapannya ke arah saya. DOR!!! Saya berusaha menghindar, namun kalah cepat dengan peluru itu. DOR!!! DOR!!! Tiga tembakan mengarah ke badan saya. Namun saya sama sekali tidak merasakan apa-apa. Jangankan terluka, tergorespun tidak. Prajurit itu diam tak bersuara. Dia keheranan melihat apa yang baru saja terjadi. Dia kembali menembakan senapannya. Saya yang sudah sangat emosi melihat apa aksi pembunuhan satu keluarga oleh prajurit itu pun tidak berlama-lama lagi. Saya kumpulkan luapan energi yang semakin membara dari dalam tubuh saya ke arah telapak tangan saya. Bola api tersebut kembali membara di tangan saya. Prajurit tersebut terlihat ketakutan dan mencoba melarikan diri. Saya lemparkan bola tersebut ke arah sang prajurit dan diiringi suara ledakan, tubuh prajurit tersebut hancur.
Saya langsung berlari ke arah kerumunan prajurit yang sedang asik melontarkan peluru dari senapannya, saya langsung kumpulkan bola-bola api tadi ke kedua telapak tangan saya. Dengan sangat cepat saya lontarkan bola api tersebut. Saya lontarkan puluhan bola api yang langsung menghancurkan barisan prajurit yang angkuh tersebut. Sepertinya salah seorang komandan penyerbuan tersebut telah menyadari kehadiran saya dan kejanggalan yang terjadi. Dengan sebuah alat komunikasi, dia mengomandokan seluruh pasukannya untuk berkumpul. Saya masih tidak menghentikan lontaran bola api saya. Tiba-tiba sebuah rudal terlontar dari moncong sebuah tank. BOOM!!! Tepat meledak di pipi kiri saya. Namun sekali lagi, tidak satu gores luka pun yang menghiasi muka saya. Saya jejakan kaki saya sekuat tenaga dari tanah, tubuh saya melayang mendekati tank yang berjarak 100 meter itu dengan cepat. Seketika saya mendarat di depan tank tersebut. Saya konsentrasikan tenaga saya di kedua tangan saya, saya angkat tank tersebut, dan kemudian saya lempar ke atas. Sebelum tank tersebut jatuh, saya sudah melontarkan sebuah bola api lagi dari tangan saya ke arah tank tersebut. Tank tersebut meledak di udara. Saya jejakan lagi kaki saya sekuat tenaga ke atas. Dalam seketika saya sudah berada di ketinggian. Nampak dari atas kota yang sudah sangat hancur. Saya kumpulkan aliran tenaga tersebut tepat di ujung jari telunjuk saya. Sebuah bola api kecil seukuran bola pingpong menyala di ujung telunjuk saya. Saya konsentrasikan penuh aliran tersebut sehingga nampak seperti sebuah laser menyapu bersih barisan tank di bawah sana. Satu persatu tank meledak tiap terkena laser tersebut. Prajurit di bawah berusaha menembakan roket ke atas, namun itu sama sekali tak berarti bagi saya. Total hampir enam puluh tank telah hancur. Setengah dari pasukan telah melarikan diri melihat hal yang di luar akal manusia biasa ini. Tiba-tiba dua pesawat tempur terbang melewati saya yang masih melayang di udara. Dengan reflek, saya lemparakan dua bola api ke arah pesawat pengebom tersebut hingga meledak.
Setelah hampir dua jam saya mencoba mengusir pasukan-pasukan pembantai itu, saya berdiri di tengah-tengah reruntuhan kota. Saya bisa melihat ratusan orang yang terheran-heran, takjub, bingung, ketakutan. Penduduk gaza terdiam melihat sosok saya yang telah menghancurkan sebagian besar kekuatan Israel. Saya mengangkat tangan saya, saya pejamkan mata saya. Saya coba rasakan tiap aliran energi yang masih tersisa di tubuh saya. Saya kumpulkan sisa-sisa energi saya untuk membetuk satu lagi bola api. Sebuah bola api yang sangat besar. Saya rasakan semangat juang dan energi dari para pejuang Palestina. Saya bisa rasakan energi mereka memperbesak ukuran bola energi tersebut. Saat ini di atas kepala saya sudah terdapat sebuah bola energi yang sangat besar. Diameternya mencapai 50 meter. Saya jejakan sekali lagi kaki saya untuk terbang ke udara. Saya bisa melihat kamp pasukan Israel yang saat ini telah kosong. Tank-tank yang terparkir sembarangan. Saya hempaskan bola energi tersebut ke arah markas kosong itu. Kemudian ledakan besar terjadi. Dalam sekejap, kamp militer tersebut telah hilang. Tidak ada lagi tank-tank di sana. Tidak ada lagi radar dan rudal. Yang ada adalah sebuah lubang besar yang dalam membekas di sana. Kemudian saya langsung berpindah ke rumah kembali. Saya rebahkan tubuh yang letih ini di kasur sambil melihat TV. Nampak reaksi yang bermacam-macam dari negara-negara di dunia. Sepertinya aksi saya ini akan membuat Israel berpikir berkali-kali untuk memulai kembali agresinya di Palestina.
gambar dari flickr.com/photos/ayazmalik/2761665423/
