Memandang Himpunan Lebih Luas Lagi 19/10/2009
Posted by ardisaz in Sosialita, Suara Hati.add a comment

Sudah hampir satu setengah tahun saya berkuliah di ITB. Selama saya belajar di kampus tersebut, kata himpunan merupakan kata yang penuh dengan nilai prestisius, kebanggaan, dan bargain yang tinggi. Sebenarnya yang melandasi himpunan di ITB adalah kesamaan bidang keprofesian yang menyatukan masing-masing himpunan. Atas dasar keseragaman tersebutlah masing-masing bidang ilmu berkumpul dan berorganisasi bersama-sama. Tradisi ini merekat kian dalam dan kian kuat dalam siklus sosial yang ada di kampus ITB sehingga saat ini himpunan memiliki posisi yang tinggi di mata mahasiswanya. Mahasiswa rela melewati proses kaderisasi yang melelahkan, menghadapi setumpuk tugas dari senior, dan memakan agitasi tiap malamnya demi menjadi bagian dari himpunan. Tidak heran jika mereka yang tergabung dalam himpunan memiliki loyalitas yang tinggi, persaudaraan yang erat, kebersamaan yang kuat, dan lain sebagainya.
Namun sayang sekali terdapat sebuah ketidak tepatan pemposisian himpunan dalam langkah gerakan mahasiswa. Himpunan seharusnya menjadi wadah, atau alat, bagi mahasiswa yang satu profesi untuk bergerak bersama, berhimpun, untuk memajukan bangsa Indonesia. Kata MAHA di depan siswa merupakan tanggung jawab lebih yang secara suka tidak suka tertimbun di pundak setiap mahasiswa untuk bisa membayar “hutang” kepada masyarakat yang mensubsidi mereka. Mahasiswa harus bertanggung jawab terhadap kursi yang telah ia rebut dari ratusan ribu anak bangsa lainnya. Oleh karena itu, sudah seharusnya lah himpunan itu menjadi wadah bagi mahasiswa untuk bisa menjalankan kewajiban dan tanggung jawabnya.
Penyimpangan yang banyak terjadi di dalam himpunan adalah ketidaksadaran himpunan tersebut bahwasannya mereka tidak bergerak kemana-mana. Ada himpunan yang sibuk memikirkan kondisi internalnya sendiri atau bahkan ada yang sibuk “mengurusi” himpunan lainnya. Buat apa suatu himpunan memiliki struktur organisasi yang baik, memiliki AD/ART yang tanpa celah, memiliki kekompakan yang erat, namun tidak bisa berbuat banyak untuk lingkungan sekitarnya? Buat apa kaderisasi yang penuh keringat itu diadakan jika lulus nanti menjadi sarjana yang oportunis dan materialis? Tentu loyalitas terhadap himpunan perlu adanya, namun fanatisme terhadap himpunan janganlah sampai tumbuh. Jaket kita boleh berbeda-beda, itu menunjukan identitas siapa kita dan apa keahlian kita, namun bendera yang diusung hanya satu, bendera merah putih. Bukan masing-masing mengagungkan bendera himpunannya dan menyimpan bendera kebangsaan kita di dalam lemarinya.Apalagi jika panji-panji himpunan tersebut berseteru di lapangan layaknya suku barbar tiap 3 kali setahun. Seharusnya, semangat dan niat merah putih lah yang harusnya ada dibalik selubung jaket himpunan yang berwarna-warni itu.
Saya cinta himpunan saya, tapi saya di dalamnya bukan untuk memajukan himpunan saya semata. Bukan hanya untuk mengeksiskan himpunan saya semata. Bukan hanya untuk sounding himpunan saya ke lingkungan sekitar saja. Himpunan hanyalah alat, hanyalah wadah, hanyalah sebuah media, yang mendidik anggotanya untuk melihat realita, yang menanamkan jiwa sosial, yang melatih hardskill, softskill, dan lifeskill kita. Tapi itu semua dilakukan bukan sekedar untuk kebesaran ataupun kemajuan himpunannya sendiri, tapi itu semua merupakan proses pendidikan agar kita siap untuk berperan di masyarakat nantinya. Himpunan juga merupakan jalan bagi mereka yang memiliki keahlian di bidang tertentu agar bisa bermanfaat dan dapat disalurkan untuk orang banyak. Dan himpunan adalah tempat saya melaksanakan kewajiban saya sebagai mahasiswa, mengabdi, dan membayar hutang saya kepada masyarakat.
untuk tuhan, bangsa, dan almamater
Prosesi Ritual Hari Raya Idul Fitri 29/09/2009
Posted by ardisaz in Suara Hati.1 comment so far

Setiap keluarga memiliki tradisi sendiri-sendiri dalam merayakan hari kemenangan idul fitri. Demikian juga tradisi yang biasa keluarga saya lakukan di setiap moment hari kemenangan setelah satu bulan berpuasa.
Saya sekeluarga hampir setiap tahunnya mudik ke jogja, tempat kakek dan nenek saya tinggal. Di sana, sanak sodara saya yang lain juga berkumpul dari satu atau dua hari menjelang idul fitri. Rumah kakek-nenek saya memiliki ruang tengah yang cukup besar yang dikala lebaran ruang tengah tersebut digelar kasur-kasur sebagai tempat saya dan sodara-sodara saya tidur. Tiap tahun anggota keluarga kami bertambah dikarenakan sepupu saya yang sudah menikah dan ada yang memiliki anak sehingga ruang tengah tersebut semakin ramai.
Pada hari H, kami seringkali terburu-buru (pernah suatu kali telat) untuk mengikuti sholat ied. Ini dikarenakan banyaknya jumlah keluarga yang menginap di tempat kakek-nenek saya yang tidak disejajar dengan jumlah kamar mandi yang sedikit. Juga dikarenakan masih ada anak-anak yang susah untuk dibangunkan dan diminta bersiap-siap dengan cepat. Oleh karena itu suasana di pagi itu seringkali hektik karenanya. Kami sekeluarga besar biasa melaksakan sholat ied di sebuah lapangan besar di dekat rumah kakek-nenek kami. Di sana kami menggelar sajadah yang dialasi koran lalu sholat ied. Setelah sholat biasanya ada khotbah dalam bahasa jawa halus yang saya pribadi tidak dapat menerjemahkannya dengan baik. Lalu setelah sholat selesai, ritual kami adalah sarapan ringan yang lalu kebanyakan kami tertidur lagi (entah kenapa tidur sehabis sholat ied sudah menjadi rutinitas tiap tahun walaupun tidak seluruhnya melakukan itu). Lalu biasanya kami yang tidur dibangunkan di siang hari ketika seluruh keluarga telah lengkap untuk melakukan prosesi sungkeman. Prosesi tersebut dilakukan di ruang tamu. Kakek dan nenek saya duduk di kursi ruang tamu yang kemudian satu persatu anggota keluarga dimulai dari anak pertama kakek-nenek saya melakukan sungkeman memohon doa restu dan wejangan dari beliau. Seringkali prosesi tersebut diliputi dengan tangis haru dari saudara-saudara saya maupun tingkah jenakan dari sepupu atau ponakan saya yang masih kecil. Kemudian setelah prosesi sungkeman, kami foto bersama satu keluarga besar. Yang kemudian diakhiri dengan makan siang dengan opor ayam dan ketupat.
– Selamat Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir Batin–
Lelaki dan Gadgetnya 16/09/2009
Posted by ardisaz in Suara Hati.1 comment so far

Tulisan ini bukanlah pembenaran atas fenoma yang ada, tapi mencoba meluruskan saja dari sudut pandang saya pribadi. Jadi kalau ada yang tidak sesuai, berarti memang tulisan ini adalah benar pembenaran bagi saya pribadi.
Berbeda dengan wanita, lelaki cenderung tidak bisa melakukan berbagai hal dalam waktu yang bersamaan (atau biasa disebut multitasking). Ketika disodorkan dengan berbagai macam permasalahan disatu waktu, fokus dan optimalisasi kerja seorang lelaki akan menurun. Itu lah sebabnya terdapat suatu perilaku yang cukup unik dikalangan laki-laki (yang belakangan ini juga menyerang wanita).
Kaum lelaki cenderung sangat mudah tergiur dengan gadget yang memiliki berbagai fitur. Semakin banyak hal yang bisa dilakukan oleh suatu alat, semakin besar minat lelaki untuk membelinya. Walopun terkadang hal-hal yang ditawarkan tidak tepat guna atau tidak sesuai dengan kebutuhannya dan lagi harganya sangat mahal, tetapi tetap saja multifungsi yang diajukan membutakan mata lelaki. Sehingga pangsa pasar gadget-gadget dengan buas menyerbu kalangan tersebut.
Oleh karena itu, minat akan gadget pada lelaki didasari oleh perilaku dan karakteristik naturalnya. Bukan didasari oleh sifat boros ataupun semacamnya (saja).
n.b klo wanita, multi-thing dengan satu fungsi (ex berbagai jenis sepatu ato tas yang fungsinya satu tapi jenisnya banyak)
Selamat datang liburan 13/09/2009
Posted by ardisaz in Suara Hati.1 comment so far

Setelah berbulan-bulan tidak pulang, akhirnya tiba juga liburan yang sesungguhnya. Liburan yang tidak diganggu oleh ospek, diklat, maupun kegiatan lainnya. Liburan selama dua minggu ini akan saya gunakan untuk berbagai macam hal. Pertama merancang dan mengonsep kembali pra dan event ITB Fair karena ketika masuk nanti, harus bisa dipertanggung jawabkan kepada pak sekjen. Kedua memperlancar bahasa C saya buat menghadapi pertarungan dengan praktikum algoritma dan struktur data. Ketiga mengulik lebih dalam Ubuntu karena nampaknya OS ini bisa jadi sangan super jika sudah bisa mengendalikannya. Dan yang terakhir, merombak “jeroan” itouch saya biar bisa lebih multifungsi dan lebih bisa diatur sesuka hati dengan script-scriptnya.
Semoga target-target tersebut dapat terselesaikan dengan mulus supaya harapan agar liburan ini menjadi liburan yang produktif dapat terwujud (karena biasanya susah sekali mendapatkan liburan yang produktif).
Selamat Berlibur kawan
Saya Berkaca Dan Memperbaiki Diri 19/06/2009
Posted by ardisaz in Suara Hati.add a comment

Musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri. Kadang secara tidak sadar kita bisa dijatuhkan oleh kelemahan diri kita sendiri. Terkadang pun kita tidak menyadari potensi apa yang ada di dalam diri kita. Lalu kepada siapa kita bisa bercermin dan menelaah kekurangan dan kelebihan kita?
Saya berterimakasih banyak kepada semua teman-teman saya, sahabat-sahabat saya, mereka yang telah bersedia memberikan cermin kepada saya melalui komentar mereka di halaman salam kenal. Mereka telah menunjukan kepada saya gambaran potensi yang baik maupun yang buruk yang ada pada saya berdasarkan pengalaman mereka berinteraksi dengan saya. Banyak hal yang menusuk, menampar saya, menyadarkan saya, dan membuat saya mampu untuk terus interopeksi diri. Kritikan, komentar, dan tanggapan yang ada benar-benar membangun saya membuat mata saya terbuka lebar. Mereka menunjukan letak kekeroposan dan juga kekosongan yang ada di dalam diri saya. Mereka juga membantu saya menemukan kekuatan yang ada pada saya. Tak ada tempat untuk berkaca diri yang lebih baik selain berkaca kepada kerabat kita, sahabat kita, dan lingkungan tempat kita berinteraksi.
Saya berjanji demi sahabat-sahabat saya yang telah mendukung saya untuk terus berusaha memerbaiki diri. Karena saya ingin bisa menjadi “seseorang” yang besar dan juga bermanfaat bagi semua. Inilah tangga pembelajaran. Karena nantinya, dibalik kekuatan yang besar tersimpan tanggung jawab yang lebih besar pula. Semakin tinggi pohon, semakin keras angin menghadang. Oleh karena itu saya harus terus belajar dan memperbaiki karakter. Untuk itulah saya tidak bisa sendiri. Sahabat-sahabat saya telah membantu saya berdiri sampai sini. Mereka yang mengingatkan saya ketika saya keluar jalur. Mereka yang menopang saya ketika saya jatuh. Maka dari itu saya belajar dan terus berkaca. Agar nantinya saya bisa membalas kebaikan dan perhatian semua sahabat saya dan masyarakat di sekitar saya lebih besar lagi. Agar nantinya saya bisa berbuat banyak untuk dunia dan merubahnya menjadi lebih baik lagi.
Liburan Ku Yang Malang 17/06/2009
Posted by ardisaz in Suara Hati.1 comment so far

Konon orang dahulu berkata bahwa ketika menjadi mahasiswa, liburan paling menyenangkan adalah kenaikan tingkat karena waktunya panjang (sumber: tidak ada). Kalau dihitung-hitung memang panjang, hampir tiga bulan (dari awal Juni sampai pertengahan Agustus). Dan begitu pula lah seharusnya saya menghabiskan liburan ini. Dengan bersantai di rumah, berjalan-jalan dengan keluarga dan teman lama, reuni, berwisata, dan lain-lain.
Tapi kenyataannya liburan kali ini tidak demikian. Saya baru bisa pulang ke rumah hari Jumat tanggal 12 Juni. Namun saya sudah harus kembali lagi ke kampus tanggal 22 Juni. Ada rentetan acara Diklat PROKM (ospek untuk mahasiswa baru) – pertengahan Juni, durasi 2 bulan, SPARTA (ospek jurusan untuk saya) pertengahan Juli, durasi dirahasiakan, PROKM sendiri – pertengahan Agustus, durasi satu Minggu, lalu mulai masuk kuliah lagi. Belum lagi ketika saya nanti ke Bandung (22 Juni), belum tentu kamar saya yang sedang direnovasi (karena kamar saya banyak cacatnya dan mumpung lagi libur panjang) sudah selesai. Musti minggat kosan dulu nampaknya.
Sekarang hanya bisa berjuang. Nikmati sisa liburan ini dengan damai dan tenang agar bisa kembali ke rutinitas kampus dengan semangat membara dan mata berbinar.
Bagaimana Saya, Dia, dan Perbedaan Saling Mengisi 25/05/2009
Posted by ardisaz in Romansa.add a comment

Ada lirik lagu yang berbunyi “segala perbedaan itu, membuatmu jauh dari ku”. Benarkah perbedaan dapat membuat seseorang menjadi jauh dengan kita?
Dalam menjalani hubungan, tentu kita akan bertemu dengan perbedaan. Saya orang yang simpel dan fleksibel sedangkan dia sangat perfeksionis dan terstruktur. Saya senang berorganisasi, memimpin, dan menjadi pusat perhatian sedangkan dia senang bekerja dan tidak suka menjadi pusat perhatian. Saya orangnya terbuka dan ekspresif sedangkan dia sangat tertutup dan jarang menunjukan perasaannya. Saya senang dengan kegiatan di alam terbuka sedangkan dia sangat membenci hal itu. Dan masih banyak lagi perbedaan antara saya dengan dia, bahkan sampai selera makan kita yang berbeda (saya tidak senang pedas sedangkan dia hobi makanan pedas). Jauh sebelum saya melangkah lebih jauh dalam hubungan kami, kami sudah menyadari perbedaan kami yang 180 derajat itu.
Perbedaan tersebut memang sesekali menjadi kerikil dalam hubungan kita, tidak jarang menggoyahkan kita. Namun seiring dengan berjalannya waktu, melalui proses-proses pendewasaan dan pembelajaran, saya menemukan bahwasannya sesungguhnya perbedaan tidak akan membuat kita jauh. Ternyata untuk menghadapi perbedaan bukanlah dengan menghindarinya, justru dengan menghadapinya. Diperlukan adaptasi yang intens terhadap karakter masing-masing, untuk itulah kedekatan kedua personil sangatlah dibutuhkan. Dari kedekatan itulah akan timbul rasa toleransi dan pengertian terhadap sesama. Sebagai salah satu contoh, pada awalnya saya merasa tidak cocok dengan salah satu sifatnya. Seperti jika ingin menentukan tempat atau membuat suatu acara, jarang dia berinisiatif untuk itu. Awalnya dibenak saya, saya berpikir, “kenapa sih dia tidak bisa seperti saya?”. Jika saya menyikapi hal tersebut dengan menjauhinya karena sikap itu, pasti perbedaan-perbedaan lainnya akan muncul satu persatu sebagai pemisah jarak antara kita. Namun dengan justru mendekatinya, mencoba membuka hati kita, dan memberikan toleransi kepadanya, saya semakin paham dan mengerti dia. Hingga akhirnya pikiran saya berubah menjadi “Justru karena dia tidak seperti saya, saya bisa memberikan hal tersebut untuk dia”.
Yang terpenting yang perlu diingat adalah, perbedaan tidak selamanya menjadi penghalang. Tapi perasaan sayang antara dua orang tersebut akan selamanya menjadi pengikat. Ingatlah selalu perasaan kita ketika perbedaan nampak menjadi seperti penghalang.
Aku Ingin Menjadi Lelaki Mu 20/05/2009
Posted by ardisaz in Romansa.add a comment
Seperti apakah lelaki yang tepat untuk mu? Pasti bukanlah lelaki yang setia menelan ludahnya sendiri, bukanlah mereka yang berulangkali mengingkari janji indah yang mereka sajikan untuk mu. Aku berani menuding lelaki yang membuat mu menangis bukanlah lelaki mu. Tidaklah merupakan seorang lelaki jika ia menghancurkan hari mu dengan sifatnya dan egonya. Menjauhlah jika seorang lelaki menyakiti mu di tengah malam dan membuat mu bersedih di siang hari karena ia tidak pantas untuk mu.
Kamu pantas mendapatkan kenyamanan ketika kamu bertemu lelaki mu. Lelaki mu adalah ia yang wajahnya selalu terpantul di genangan bola mata mu. Ketika kamu bertatapan dengan lelaki mu itu, kamu akan merasakan udara yang hangat. Betapa indahnya dunia jika kau sedang duduk bersebalahan dengan lelaki mu. Kau akan temukan ragam bunga yang harum di balik sosok lelaki mu itu. Coba kau rasakan betapa amannya diri mu ketika kamu menyandarkan keluh mu di pundaknya.
Aku, yang saat ini berdiri di sini, belumlah menjadi lelaki mu. Tapi kamu akan melihat, di balik matahari dan bulan yang terus berganti, aku akan melangkah. Hingga aku bisa berada di depan mu dan menjadi lelaki mu secara terhormat. Sehingga aku bisa berkata dengan tegas, “Akulah lelaki mu”.
Menghirup Udara Setelah Seminggu Menyelam 19/05/2009
Posted by ardisaz in Suara Hati.add a comment

Minggu lalu merupakan minggu yang sangat berat. Berturut-turut dihadapkan dengan ujian dan tugas yang sangat padat. Mulai dari tugas research based learning (RBL) untuk hari Kamis, ujian kimia di hari Jumatnya, ujian dasar rangkaian elektro pada hari Sabtu, dan ujian kalkulus di hari Senin. Mengawali minggu tersebut adalah presentasi dan pengumpulan tugas RBL. Tugas RBL tersebut ialah membuat suatu alat pelontar. Alat pelontar tersebut tidak boleh menggunakan gaya newton atau gaya pegas sebagai pemicunya. Satu-satunya gaya yang diperbolehkan berasal dari gaya elektromagnetik. Sehingga alternatif modelnya adalah penggunaan kumparan solenoida untuk menciptakan medan magnet atau menggunakan magnet itu sendiri untuk menimbulkan tolakan. Akhirnya diputuskan untuk menggunakan solenoida sebagai pemicu lontaran. Proses pembuatannya memakan waktu yang cukup lama. Seringkali hingga larut malam merangkai kapasitor, melilit tembaga, dan menyolder sambungan. Usaha yang sudah sangat keras tersebut sayangnya tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Begitu hari ketika alat tersebut diperagakan, ternyata tidak mampu melontarkan materi lebih dari 1 meter. Kesalahan terdapat di penggunaan kapasitor yang tidak optimal dan sumber arus yang kecil. Tapi yang penting tugas RBL itu terselesaikan sudah. Berikutnya ujian kimia menanti. Ujian kimia ini merupakan ujian kimia terberat karena sebagian besar materi adalah hafalan. Seperti materi kimia unsur, kimia inti, kimia organik, dan elektrokimia. Akhirnya malam Jumat digunakan untuk melahap habis buku yang tebal itu. Dan sialnya yang keluar diujian adalah materi yang sangat jauh dari perkiraan. Belum sempat bernafas, sudah harus dihadapkan dengan ujian dasar rangkaian elektro. DRE merupakan mata kuliah yang paling saya tidak kuasai di semester ini. Mungkin karena memang minat saya tidak ada sama sekali untuk mendalami rangkaian elektro saya jadi tidak bersemangat untuk mengikuti kuliah tersebut dengan baik. Tapi jika saya gagal mendapat hasil yang baik, saya terancam mengulang mata kuliah itu lagi tahun depan. Alhasil saya memilih untuk belajar mati-matian daripada tahun depan harus bertemu lagi dengan DRE. Mulai dari kapasitor, induktor, persamaan orde satu, sampai arus AC. Saya belajar bersama teman-teman si rumah teman saya itu. Belajar hingga jam 3 pagi, bahkan sampai saya tidur di tempat teman saya. Barulah paginya saya pulang. Namun hasilnya adalah lagi-lagi sebuah kegagalan. Saya cuma bisa mengerjakan 30% dari soal, bahkan tidak ada satupun jawaban yang saya yakin itu benar. Setelah kekecewaan, kegagalan, dan keletihan itu, masih ada ujian kalkulus, dewa dari semua ujian yang ada di minggu tersebut. Setelah selesai ujian, langsung siangnya saya pergi ke tempat les saya untuk belajar kalkulus. Mengulang pelajaran tentang deret, teknik pengintegralan, diferensial, integral lipat koordinat dan polar, dan masih banyak lainnya. Namun nampaknya saya terlalu letih, sehingga di tempat les pun saya tidak menangkap apa-apa dan banyak tertidur di kelas. Kemudian di hari Minggunya, saya menghabiskan waktu di tempat les sampai jam 12 malam. Saya tidak mau mengulangi kesalahan ketika DRE, maka saya tidur cepat. Hasilnya adalah saya lumayan bisa mengerjakan ujian tersebut. Walaupun banyak materi yang terlewat saya pelajari sehingga ketika ujian saya tidak tahu harus menyelesaikan dengan apa.
Namun hari itu telah berlalu, senin jam 12.00 WIB saya telah melalui urutan combo penghancuran tersebut. Saya bisa melepas penat. Langsung hari itu saya mencari pasukan untuk berhedon. Kembali bernafas setelah berhari-hari terkubur di dasar kesibukan. Mendinginkan kepala yang telah hangus terbakar. Saya kembali menghirup angin segar setelah terkurung di ruangan yang penuh dengan asap.
gambar dari (http://mocoloco.com)
Kemana dia? 03/05/2009
Posted by ardisaz in Romansa, Suara Hati.add a comment

kemana dia?
Menjauh pergi ke kehidupan yang semakin tidak terlihat
Tak sadar meninggalkan seorang bocah yang merindu tiap malam
Melewatkan episode dalam baris skenario hidup
Membuat bocah itu menggigil seorang diri
Sang bocah tetap menunggu dan mencinta
Bertahan dalam kehambaran dan rasa jenuh
Berteriak hingga ia kembali ke sini
Datang membelai layaknya seorang kekasih
gambar dari http://th04.deviantart.com
