Memandang Himpunan Lebih Luas Lagi 19/10/2009
Posted by ardisaz in Sosialita, Suara Hati.add a comment

Sudah hampir satu setengah tahun saya berkuliah di ITB. Selama saya belajar di kampus tersebut, kata himpunan merupakan kata yang penuh dengan nilai prestisius, kebanggaan, dan bargain yang tinggi. Sebenarnya yang melandasi himpunan di ITB adalah kesamaan bidang keprofesian yang menyatukan masing-masing himpunan. Atas dasar keseragaman tersebutlah masing-masing bidang ilmu berkumpul dan berorganisasi bersama-sama. Tradisi ini merekat kian dalam dan kian kuat dalam siklus sosial yang ada di kampus ITB sehingga saat ini himpunan memiliki posisi yang tinggi di mata mahasiswanya. Mahasiswa rela melewati proses kaderisasi yang melelahkan, menghadapi setumpuk tugas dari senior, dan memakan agitasi tiap malamnya demi menjadi bagian dari himpunan. Tidak heran jika mereka yang tergabung dalam himpunan memiliki loyalitas yang tinggi, persaudaraan yang erat, kebersamaan yang kuat, dan lain sebagainya.
Namun sayang sekali terdapat sebuah ketidak tepatan pemposisian himpunan dalam langkah gerakan mahasiswa. Himpunan seharusnya menjadi wadah, atau alat, bagi mahasiswa yang satu profesi untuk bergerak bersama, berhimpun, untuk memajukan bangsa Indonesia. Kata MAHA di depan siswa merupakan tanggung jawab lebih yang secara suka tidak suka tertimbun di pundak setiap mahasiswa untuk bisa membayar “hutang” kepada masyarakat yang mensubsidi mereka. Mahasiswa harus bertanggung jawab terhadap kursi yang telah ia rebut dari ratusan ribu anak bangsa lainnya. Oleh karena itu, sudah seharusnya lah himpunan itu menjadi wadah bagi mahasiswa untuk bisa menjalankan kewajiban dan tanggung jawabnya.
Penyimpangan yang banyak terjadi di dalam himpunan adalah ketidaksadaran himpunan tersebut bahwasannya mereka tidak bergerak kemana-mana. Ada himpunan yang sibuk memikirkan kondisi internalnya sendiri atau bahkan ada yang sibuk “mengurusi” himpunan lainnya. Buat apa suatu himpunan memiliki struktur organisasi yang baik, memiliki AD/ART yang tanpa celah, memiliki kekompakan yang erat, namun tidak bisa berbuat banyak untuk lingkungan sekitarnya? Buat apa kaderisasi yang penuh keringat itu diadakan jika lulus nanti menjadi sarjana yang oportunis dan materialis? Tentu loyalitas terhadap himpunan perlu adanya, namun fanatisme terhadap himpunan janganlah sampai tumbuh. Jaket kita boleh berbeda-beda, itu menunjukan identitas siapa kita dan apa keahlian kita, namun bendera yang diusung hanya satu, bendera merah putih. Bukan masing-masing mengagungkan bendera himpunannya dan menyimpan bendera kebangsaan kita di dalam lemarinya.Apalagi jika panji-panji himpunan tersebut berseteru di lapangan layaknya suku barbar tiap 3 kali setahun. Seharusnya, semangat dan niat merah putih lah yang harusnya ada dibalik selubung jaket himpunan yang berwarna-warni itu.
Saya cinta himpunan saya, tapi saya di dalamnya bukan untuk memajukan himpunan saya semata. Bukan hanya untuk mengeksiskan himpunan saya semata. Bukan hanya untuk sounding himpunan saya ke lingkungan sekitar saja. Himpunan hanyalah alat, hanyalah wadah, hanyalah sebuah media, yang mendidik anggotanya untuk melihat realita, yang menanamkan jiwa sosial, yang melatih hardskill, softskill, dan lifeskill kita. Tapi itu semua dilakukan bukan sekedar untuk kebesaran ataupun kemajuan himpunannya sendiri, tapi itu semua merupakan proses pendidikan agar kita siap untuk berperan di masyarakat nantinya. Himpunan juga merupakan jalan bagi mereka yang memiliki keahlian di bidang tertentu agar bisa bermanfaat dan dapat disalurkan untuk orang banyak. Dan himpunan adalah tempat saya melaksanakan kewajiban saya sebagai mahasiswa, mengabdi, dan membayar hutang saya kepada masyarakat.
untuk tuhan, bangsa, dan almamater
Prosesi Ritual Hari Raya Idul Fitri 29/09/2009
Posted by ardisaz in Suara Hati.1 comment so far

Setiap keluarga memiliki tradisi sendiri-sendiri dalam merayakan hari kemenangan idul fitri. Demikian juga tradisi yang biasa keluarga saya lakukan di setiap moment hari kemenangan setelah satu bulan berpuasa.
Saya sekeluarga hampir setiap tahunnya mudik ke jogja, tempat kakek dan nenek saya tinggal. Di sana, sanak sodara saya yang lain juga berkumpul dari satu atau dua hari menjelang idul fitri. Rumah kakek-nenek saya memiliki ruang tengah yang cukup besar yang dikala lebaran ruang tengah tersebut digelar kasur-kasur sebagai tempat saya dan sodara-sodara saya tidur. Tiap tahun anggota keluarga kami bertambah dikarenakan sepupu saya yang sudah menikah dan ada yang memiliki anak sehingga ruang tengah tersebut semakin ramai.
Pada hari H, kami seringkali terburu-buru (pernah suatu kali telat) untuk mengikuti sholat ied. Ini dikarenakan banyaknya jumlah keluarga yang menginap di tempat kakek-nenek saya yang tidak disejajar dengan jumlah kamar mandi yang sedikit. Juga dikarenakan masih ada anak-anak yang susah untuk dibangunkan dan diminta bersiap-siap dengan cepat. Oleh karena itu suasana di pagi itu seringkali hektik karenanya. Kami sekeluarga besar biasa melaksakan sholat ied di sebuah lapangan besar di dekat rumah kakek-nenek kami. Di sana kami menggelar sajadah yang dialasi koran lalu sholat ied. Setelah sholat biasanya ada khotbah dalam bahasa jawa halus yang saya pribadi tidak dapat menerjemahkannya dengan baik. Lalu setelah sholat selesai, ritual kami adalah sarapan ringan yang lalu kebanyakan kami tertidur lagi (entah kenapa tidur sehabis sholat ied sudah menjadi rutinitas tiap tahun walaupun tidak seluruhnya melakukan itu). Lalu biasanya kami yang tidur dibangunkan di siang hari ketika seluruh keluarga telah lengkap untuk melakukan prosesi sungkeman. Prosesi tersebut dilakukan di ruang tamu. Kakek dan nenek saya duduk di kursi ruang tamu yang kemudian satu persatu anggota keluarga dimulai dari anak pertama kakek-nenek saya melakukan sungkeman memohon doa restu dan wejangan dari beliau. Seringkali prosesi tersebut diliputi dengan tangis haru dari saudara-saudara saya maupun tingkah jenakan dari sepupu atau ponakan saya yang masih kecil. Kemudian setelah prosesi sungkeman, kami foto bersama satu keluarga besar. Yang kemudian diakhiri dengan makan siang dengan opor ayam dan ketupat.
– Selamat Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir Batin–
Lelaki dan Gadgetnya 16/09/2009
Posted by ardisaz in Suara Hati.1 comment so far

Tulisan ini bukanlah pembenaran atas fenoma yang ada, tapi mencoba meluruskan saja dari sudut pandang saya pribadi. Jadi kalau ada yang tidak sesuai, berarti memang tulisan ini adalah benar pembenaran bagi saya pribadi.
Berbeda dengan wanita, lelaki cenderung tidak bisa melakukan berbagai hal dalam waktu yang bersamaan (atau biasa disebut multitasking). Ketika disodorkan dengan berbagai macam permasalahan disatu waktu, fokus dan optimalisasi kerja seorang lelaki akan menurun. Itu lah sebabnya terdapat suatu perilaku yang cukup unik dikalangan laki-laki (yang belakangan ini juga menyerang wanita).
Kaum lelaki cenderung sangat mudah tergiur dengan gadget yang memiliki berbagai fitur. Semakin banyak hal yang bisa dilakukan oleh suatu alat, semakin besar minat lelaki untuk membelinya. Walopun terkadang hal-hal yang ditawarkan tidak tepat guna atau tidak sesuai dengan kebutuhannya dan lagi harganya sangat mahal, tetapi tetap saja multifungsi yang diajukan membutakan mata lelaki. Sehingga pangsa pasar gadget-gadget dengan buas menyerbu kalangan tersebut.
Oleh karena itu, minat akan gadget pada lelaki didasari oleh perilaku dan karakteristik naturalnya. Bukan didasari oleh sifat boros ataupun semacamnya (saja).
n.b klo wanita, multi-thing dengan satu fungsi (ex berbagai jenis sepatu ato tas yang fungsinya satu tapi jenisnya banyak)
Selamat datang liburan 13/09/2009
Posted by ardisaz in Suara Hati.1 comment so far

Setelah berbulan-bulan tidak pulang, akhirnya tiba juga liburan yang sesungguhnya. Liburan yang tidak diganggu oleh ospek, diklat, maupun kegiatan lainnya. Liburan selama dua minggu ini akan saya gunakan untuk berbagai macam hal. Pertama merancang dan mengonsep kembali pra dan event ITB Fair karena ketika masuk nanti, harus bisa dipertanggung jawabkan kepada pak sekjen. Kedua memperlancar bahasa C saya buat menghadapi pertarungan dengan praktikum algoritma dan struktur data. Ketiga mengulik lebih dalam Ubuntu karena nampaknya OS ini bisa jadi sangan super jika sudah bisa mengendalikannya. Dan yang terakhir, merombak “jeroan” itouch saya biar bisa lebih multifungsi dan lebih bisa diatur sesuka hati dengan script-scriptnya.
Semoga target-target tersebut dapat terselesaikan dengan mulus supaya harapan agar liburan ini menjadi liburan yang produktif dapat terwujud (karena biasanya susah sekali mendapatkan liburan yang produktif).
Selamat Berlibur kawan
Saya Berkaca Dan Memperbaiki Diri 19/06/2009
Posted by ardisaz in Suara Hati.add a comment

Musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri. Kadang secara tidak sadar kita bisa dijatuhkan oleh kelemahan diri kita sendiri. Terkadang pun kita tidak menyadari potensi apa yang ada di dalam diri kita. Lalu kepada siapa kita bisa bercermin dan menelaah kekurangan dan kelebihan kita?
Saya berterimakasih banyak kepada semua teman-teman saya, sahabat-sahabat saya, mereka yang telah bersedia memberikan cermin kepada saya melalui komentar mereka di halaman salam kenal. Mereka telah menunjukan kepada saya gambaran potensi yang baik maupun yang buruk yang ada pada saya berdasarkan pengalaman mereka berinteraksi dengan saya. Banyak hal yang menusuk, menampar saya, menyadarkan saya, dan membuat saya mampu untuk terus interopeksi diri. Kritikan, komentar, dan tanggapan yang ada benar-benar membangun saya membuat mata saya terbuka lebar. Mereka menunjukan letak kekeroposan dan juga kekosongan yang ada di dalam diri saya. Mereka juga membantu saya menemukan kekuatan yang ada pada saya. Tak ada tempat untuk berkaca diri yang lebih baik selain berkaca kepada kerabat kita, sahabat kita, dan lingkungan tempat kita berinteraksi.
Saya berjanji demi sahabat-sahabat saya yang telah mendukung saya untuk terus berusaha memerbaiki diri. Karena saya ingin bisa menjadi “seseorang” yang besar dan juga bermanfaat bagi semua. Inilah tangga pembelajaran. Karena nantinya, dibalik kekuatan yang besar tersimpan tanggung jawab yang lebih besar pula. Semakin tinggi pohon, semakin keras angin menghadang. Oleh karena itu saya harus terus belajar dan memperbaiki karakter. Untuk itulah saya tidak bisa sendiri. Sahabat-sahabat saya telah membantu saya berdiri sampai sini. Mereka yang mengingatkan saya ketika saya keluar jalur. Mereka yang menopang saya ketika saya jatuh. Maka dari itu saya belajar dan terus berkaca. Agar nantinya saya bisa membalas kebaikan dan perhatian semua sahabat saya dan masyarakat di sekitar saya lebih besar lagi. Agar nantinya saya bisa berbuat banyak untuk dunia dan merubahnya menjadi lebih baik lagi.
Liburan Ku Yang Malang 17/06/2009
Posted by ardisaz in Suara Hati.1 comment so far

Konon orang dahulu berkata bahwa ketika menjadi mahasiswa, liburan paling menyenangkan adalah kenaikan tingkat karena waktunya panjang (sumber: tidak ada). Kalau dihitung-hitung memang panjang, hampir tiga bulan (dari awal Juni sampai pertengahan Agustus). Dan begitu pula lah seharusnya saya menghabiskan liburan ini. Dengan bersantai di rumah, berjalan-jalan dengan keluarga dan teman lama, reuni, berwisata, dan lain-lain.
Tapi kenyataannya liburan kali ini tidak demikian. Saya baru bisa pulang ke rumah hari Jumat tanggal 12 Juni. Namun saya sudah harus kembali lagi ke kampus tanggal 22 Juni. Ada rentetan acara Diklat PROKM (ospek untuk mahasiswa baru) – pertengahan Juni, durasi 2 bulan, SPARTA (ospek jurusan untuk saya) pertengahan Juli, durasi dirahasiakan, PROKM sendiri – pertengahan Agustus, durasi satu Minggu, lalu mulai masuk kuliah lagi. Belum lagi ketika saya nanti ke Bandung (22 Juni), belum tentu kamar saya yang sedang direnovasi (karena kamar saya banyak cacatnya dan mumpung lagi libur panjang) sudah selesai. Musti minggat kosan dulu nampaknya.
Sekarang hanya bisa berjuang. Nikmati sisa liburan ini dengan damai dan tenang agar bisa kembali ke rutinitas kampus dengan semangat membara dan mata berbinar.
Menghirup Udara Setelah Seminggu Menyelam 19/05/2009
Posted by ardisaz in Suara Hati.add a comment

Minggu lalu merupakan minggu yang sangat berat. Berturut-turut dihadapkan dengan ujian dan tugas yang sangat padat. Mulai dari tugas research based learning (RBL) untuk hari Kamis, ujian kimia di hari Jumatnya, ujian dasar rangkaian elektro pada hari Sabtu, dan ujian kalkulus di hari Senin. Mengawali minggu tersebut adalah presentasi dan pengumpulan tugas RBL. Tugas RBL tersebut ialah membuat suatu alat pelontar. Alat pelontar tersebut tidak boleh menggunakan gaya newton atau gaya pegas sebagai pemicunya. Satu-satunya gaya yang diperbolehkan berasal dari gaya elektromagnetik. Sehingga alternatif modelnya adalah penggunaan kumparan solenoida untuk menciptakan medan magnet atau menggunakan magnet itu sendiri untuk menimbulkan tolakan. Akhirnya diputuskan untuk menggunakan solenoida sebagai pemicu lontaran. Proses pembuatannya memakan waktu yang cukup lama. Seringkali hingga larut malam merangkai kapasitor, melilit tembaga, dan menyolder sambungan. Usaha yang sudah sangat keras tersebut sayangnya tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Begitu hari ketika alat tersebut diperagakan, ternyata tidak mampu melontarkan materi lebih dari 1 meter. Kesalahan terdapat di penggunaan kapasitor yang tidak optimal dan sumber arus yang kecil. Tapi yang penting tugas RBL itu terselesaikan sudah. Berikutnya ujian kimia menanti. Ujian kimia ini merupakan ujian kimia terberat karena sebagian besar materi adalah hafalan. Seperti materi kimia unsur, kimia inti, kimia organik, dan elektrokimia. Akhirnya malam Jumat digunakan untuk melahap habis buku yang tebal itu. Dan sialnya yang keluar diujian adalah materi yang sangat jauh dari perkiraan. Belum sempat bernafas, sudah harus dihadapkan dengan ujian dasar rangkaian elektro. DRE merupakan mata kuliah yang paling saya tidak kuasai di semester ini. Mungkin karena memang minat saya tidak ada sama sekali untuk mendalami rangkaian elektro saya jadi tidak bersemangat untuk mengikuti kuliah tersebut dengan baik. Tapi jika saya gagal mendapat hasil yang baik, saya terancam mengulang mata kuliah itu lagi tahun depan. Alhasil saya memilih untuk belajar mati-matian daripada tahun depan harus bertemu lagi dengan DRE. Mulai dari kapasitor, induktor, persamaan orde satu, sampai arus AC. Saya belajar bersama teman-teman si rumah teman saya itu. Belajar hingga jam 3 pagi, bahkan sampai saya tidur di tempat teman saya. Barulah paginya saya pulang. Namun hasilnya adalah lagi-lagi sebuah kegagalan. Saya cuma bisa mengerjakan 30% dari soal, bahkan tidak ada satupun jawaban yang saya yakin itu benar. Setelah kekecewaan, kegagalan, dan keletihan itu, masih ada ujian kalkulus, dewa dari semua ujian yang ada di minggu tersebut. Setelah selesai ujian, langsung siangnya saya pergi ke tempat les saya untuk belajar kalkulus. Mengulang pelajaran tentang deret, teknik pengintegralan, diferensial, integral lipat koordinat dan polar, dan masih banyak lainnya. Namun nampaknya saya terlalu letih, sehingga di tempat les pun saya tidak menangkap apa-apa dan banyak tertidur di kelas. Kemudian di hari Minggunya, saya menghabiskan waktu di tempat les sampai jam 12 malam. Saya tidak mau mengulangi kesalahan ketika DRE, maka saya tidur cepat. Hasilnya adalah saya lumayan bisa mengerjakan ujian tersebut. Walaupun banyak materi yang terlewat saya pelajari sehingga ketika ujian saya tidak tahu harus menyelesaikan dengan apa.
Namun hari itu telah berlalu, senin jam 12.00 WIB saya telah melalui urutan combo penghancuran tersebut. Saya bisa melepas penat. Langsung hari itu saya mencari pasukan untuk berhedon. Kembali bernafas setelah berhari-hari terkubur di dasar kesibukan. Mendinginkan kepala yang telah hangus terbakar. Saya kembali menghirup angin segar setelah terkurung di ruangan yang penuh dengan asap.
gambar dari (http://mocoloco.com)
Kemana dia? 03/05/2009
Posted by ardisaz in Romansa, Suara Hati.add a comment

kemana dia?
Menjauh pergi ke kehidupan yang semakin tidak terlihat
Tak sadar meninggalkan seorang bocah yang merindu tiap malam
Melewatkan episode dalam baris skenario hidup
Membuat bocah itu menggigil seorang diri
Sang bocah tetap menunggu dan mencinta
Bertahan dalam kehambaran dan rasa jenuh
Berteriak hingga ia kembali ke sini
Datang membelai layaknya seorang kekasih
gambar dari http://th04.deviantart.com
Hikmah Ikhlas KepadaNya 19/04/2009
Posted by ardisaz in Suara Hati.1 comment so far

Ternyata dari kehilangan sebuah motor bisa mengakibatkan kemunculan sebuah motor baru, sebuah gitar listrik baru, sebuah efek gitar baru, sebuah amplifire baru, dan sebuah iTouch baru… Selama hati kita ikhlas menerima segala musibah yang terjadi, selama kita berprasangka baik kepada takdir, insyaAllah berkah lah yang akan kita dapatkan…
Percayalah, Tuhan pasti punya rencana. Berprasangka baiklah padaNya selalu
Era pemerintahan Soeharto; Saya Diculik Dan Dibungkam 10/04/2009
Posted by ardisaz in Suara Hati.4 comments

(segala cerita di sini hanya fiksi belaka, jika ada kesamaan baik dari tokoh, cerita, dan lain-lain.. anggap saja kebetulan. Karena ini hanya ungkapan hati saja. Penuh bumbu dan modifikasi)
Juli 1989, (scene 1: latar belakang saya berteriak)
Kala itu pemerintah bersama menteri-menterinya sedang menangani suatu proyek berskala internasional yang melibatkan uang rakyat yang sangat besar. Proyek mega besar yang dijanjikan dapat memakmurkan bangsa ini hanya dalam tempo satu tahun. Proyek ini berkisar di bidang pangan, energi, dan pendidikan. Namun dalam perjalanannya, negeri kami ditipu habis-habisan oleh pihak pemodal dan negara lain. Alhasil negeri kami mengalami ketidakstabilan politik, ekonomi, dan sosial. Di tengah kecarutmarutan tersebut, pemimpin Indonesia saat itu, bapak Soeharto, menjanjikan sebuah perbaikan, penanganan, dan solusi. Saat itulah rakyat jelata yang tidak memiliki kekuatan apa-apa menurut dan menunggu datangnya realisasi dari perkataan bapak Soeharto. Rakyat menunggu dengan harap akan datangnya penyelesaian dalam masalah ini. Namun pada kenyataannya, sang presiden asik dengan singgasananya. Dia sibuk berkunjung ke negara A, negara B, mengerjakan urusan dengan perkumpulan A, perkumpulan B. Rakyat semakin geram dan cemas, menanti datangnya sinar cerah yang bapak pemimpin negara janjikan. Saya sebagai salah satu menteri yang terlibat di proyek ini bersama menteri2 yang lain berusaha mendiskusikan masalah ini dalam sebuah pertemuan. Pertemuan yang alot melawan ego dan sifat kekanakan dari pemerintah pusat. Dia yang tidak mau disalahkan akibat kelalaiannya, dia yang tidak mau dituding karena tindakan yang tidak jelas tersebut. Pak Harto menuding menteri komunikasi, menuding menteri informasi, dan menuding banyak pihak lainnya akibat kelalaian ini. Dipertemuan itu beliau dengan tegas menyatakan bahwa komunikasi dan informasi harus dibenahi. “ini salah mereka, saya bekerja, saya perduli, tapi media masa aja tidak tahu”, beliau berteriak sambil menunjuk-nunjuk saya. Saya pun terdiam menerima tekanan itu. Saya hanya mengingatkan pentingnya rakyat untuk tahu apa kelanjutan dari mimpi2 yang Bapak janjikan waktu itu, sisanya terserah bapak. Tapi ingat, rakyat bisa menilai tiap gerakan bapak. Jadi saya mewanti-wanti kepada bapak presiden untuk terus berkomunikasi dan bersentuhan dengan rakyat. Namun sayang, hal tersebut lagi-lagi tinggal wacana. Tidak ada wujud nyata dari wacana tersebut. Pertemuan demi pertemuan pun menghasilkan hal yang sama. Pemerintah hanya minta maaf, menuding, dan hari esoknya diam, diam, dan diam. Rakyat bingung, rakyat kecewa, rakyat emosi, rakyat menangis.
Januari 1990, (scende 2: saya maju dan berteriak)
Setelah setengah tahun berada dalam ketidakpastian dan kesibukan, nampaknya pemerintah makin tidak jelas. Rakyat dibiarkan mengawang tanpa kejelasan, tanpa berita, dan tanpa pengarahan. Rakyat hanya melongo menonton petinggi istana sibuk dengan kehidupan mereka masing-masing, menggeram menyaksikan kata-kata mereka yang hanya menjadi janji lalu terbang tertiup angin. Melihat superpower mereka menggerakan dunia lain sambil menginjak-injak kepercayaan rakyat. Saya pun tak tahan dengan ini, saya memutuskan untuk membelot. Saya tidak percaya lagi dengan sekedar percakapan, sekedar diskusi, apalagi wacana. Ini saatnya harus ada pergerakan, harus tercipta suatu semangat pergerakan. Revolusi! Harus dilakukan revolusi melihat rakyat mulai kelaparan, mati kedinginan, dan tertidur di balik kardus. Saya pun meletakan pangkat saya dan mengganti pakaian mahal saya dan menyatu dengan rakyat. Saya mengumpulkan opini rakyat, mengumpulkan suara rakyat, dan berusaha menggerakan mereka untuk bisa membela hak mereka. Membela pertanggung jawaban dari pemerintah. Saya berteriak. Saya sekarang berpihak kepada rakyat, berpihak sebagai oposisi, berdemo di depan istana, berteriak di depan monas, berorasi di bunderan HI. Wartawan meliput aksi kami para rakyat yang sudah muak dengan ketidakpastian ini. PBB dan negara-negara asing juga sudah melirik masalah ini. Saya menekan pemerintah sekeras-kerasnya agar bisa segera melaksanakan kebijakan yang telah dijanjikannya. Saya bersuara vokal dan berdiri di barisan paling depan. Saya siap ditembak dari depan dan siap ditikam dari belakang. Tapi saya tidak takut, karena saya tidak akan mati selama rakyat masih terlantar.
April 1990, (scene 3: saya diculik dan dibungkam)
Nampaknya pemerintah sudah geram melihat aksi saya, apalagi mengetahui saya dulu salah satu menteri mereka. Tindakan demo terhadap pemerintah, orasi di jalan, penggalangan simpati dan suara, dan tindakan lainnya sudah dianggap personal oleh pak harto. Beliau menganggap saya meludah di mukanya. Hari ini tepat setelah diadakan pertemuan antara rakyat yang sudah mengamuk dengan pemerintah yang tidak mau disalahkan, rakyat kembali diberi janji oleh pemerintah. Rakyat kembali dibuai kata-kata Pak Harto akan tindakan nyatanya. Namun rakyat ada yang percaya ada yang tidak. Ada yang sudah antipati ada yang masih perduli. Yang pasti kali ini pemerintah menawarkan uang sebagai peredam amarah rakyat. Uang sebesar 3 Trilyun sebagai ongkos agar rakyat tidak memberontak. Agar rakyat memercayai perkataan pemerintah. Saya pun tidak masalah, 3 Trilyun jumlah yang pantas untuk menghidupi jelata. Namun tampaknya mereka tidak hanya meredam rakyat dengan uangnya, tapi pak harto dan kronco-kronconya berusaha meredam segala bentuk perlawanan rakyat terhadap pemerintah lainnya. Salah satunya dengan membungkam saya. Saya sebagai orang yang paling vokal, orang yang paling depan dalam barisan, diculik dan dikeroyok. Di kerumanan algojo, ajudan, dan menteri-menterinya, pak Harto menuding-nuding saya. Saya berusaha memberikan fakta, tapi mata hatinya sudah buta karena emosi. Beliau tidak mau diktritik, tidak mau menerima oposisi atau perlawanan, beliaulah yang paling benar. Saya sendiri dan mereka beramai-ramai. Mereka menyuruh saya diam, menyuruh saya tidak menggerakan masa, dan menyuruh saya menghentikan tindakan saya. Mereka terus membela diri dan menyalahkan saya. Para gerombolan ini cukup pintar, memisahkan saya dari masa agar bisa membungkam saya. Oke, saya pun sudah terikat, sudah babak belur, dan tidak berdaya. Saya hanya bisa berkata iya. Saya akan diam, saya akan bungkam, dan saya akan mundur. Tapi tidak akan selamanya. Jika setitik saja saya temukan kejanggalan atau penyimpangan lagi, saya akan langsung berteriak. Jika ada sedikit saja ada pelanggaran atau ingkar, saya akan langsung menghancurkan istana dan melakukan kudeta. Jika pemerintah kali ini mampu berbuat benar, saya akan diam dan menurut, untuk rakyat. Tapi jika ada gerakan yang mengindikasikan kelalaian dari Pak Harto. Siap-siap, kali ini rakyat tidak akan terbendung lagi. Untuk terakhir kalinya saya mencoba memberikan kepercayaan kepada Pak harto kembali.
semoga saya tidak diburu karena membuat cerita versi saya ini sendiri
